Nirmala kira ia akan dihukum di lapangan dalam, dekat dengan paviliun Putra Mahkota. Ternyata, ia harus berlutut di pelataran utama. Tepat di depan aula istana.Matahari sudah bergerak ke Barat, lutut Nirmala sudah mulai kebas. Lapangan itu bukan dialasi rumput atau tanah, tetapi dari olahan batu alam abu-abu yang kasar. Membuat sakit siapa pun yang berlutut lama-lama di sana. Coba saja!Sementara itu, tak jauh dari Nirmala, Putri Mega duduk berlutut dengan tenang. Di bawah lutut Mega ada kain tebal yang menyangga lututnya sehingga tidak langsung mengenai batuan. Di samping kanan, ada seorang dayang memayungi Mega. Sebelah kiri, ada dayang menyuapi makanan.Nirmala berdecak kencang. “Apa seperti itu disebut hukuman?” tanyanya melirik pada Mega.Dengan anggun Mega mengelap sisa makanan di mulutnya dengan kain, seolah meledek Nirmala. “Ratu hanya menghukum kita untuk berlutut di sini. Tidak melarang makan, minum, membawa payung, atau membawa tenda sekalian.”Dalam hati Nirmala membenark
Last Updated : 2026-01-23 Read more