Arya memacu kudanya tanpa henti, tinggal seperempat perjalanan lagi. Ia harus tiba di istana sebelum matahari terbenam.Keringat bercucuran, rasa lapar di perutnya tak ia hiraukan. Tangannya terus menarik tali kekang, tak peduli sang kuda kelelahan.“Sebentar lagi, Nirmala … tunggu aku,” lirihnya. Ia benar-benar berlomba dengan waktu. Seakan jika dirinya terlambat satu detik saja, keselamatan Nirmala terancam.Ia sudah lupa kalau Nirmala hanyalah pengganti. Bahkan pada Paramitha pun, ia sudah tak peduli perempuan itu muncul atau tidak. Saat ini, Arya ingin segera tiba di istana dan menyelamatkan Nirmala.Seolah-olah jika Nirmala tidak ada, dunianya akan hancur. Padahal, hari-harinya justru lebih tenang sebelum Nirmala datang.Akan tetapi, Arya tidak membutuhkan ketenangan lagi. Istana pun akan ia porak-porandakan jika Nirmala sampai pergi.“Ratu … sepertinya kamu belum puas mengambil semua yang kumiliki. Setelah kematian ibuku, kini kamu menghukum Nirmala … lihat saja, kali ini aku ti
Last Updated : 2026-02-21 Read more