Saat aku tiba di rumah, Raka sudah duduk di sofa menungguku."Kirana … Sayang, kamu tidak apa, 'kan?" Suaranya cepat, khawatir, sambil segera mendekatiku. Wajahnya penuh kecemasan. "Biar aku lihat lukanya."Tangannya menjulur, hendak mengangkat baju bersih yang baru saja kuganti, tetapi aku mundur selangkah."Tidak apa-apa. Dokter sudah mengobatinya.""Jangan begitu," katanya, melangkah mendekat lagi. Aroma parfumnya yang khas menyeruak, memenuhi seluruh inderaku. "Ayo ke atas. Biar aku lihat."Tangannya menyusup ke dadaku, bibirnya menempel di leherku. Itu memang gerakannya yang paling piawai. Setiap kali aku marah atau kesal, dia selalu tahu cara menggunakan tubuhnya untuk mengalihkan perhatianku.Dulu, cara itu selalu berhasil.Namun, malam ini, aku hanya merasa lelah."Raka, lukanya sakit," kataku, mendorongnya perlahan. "Jangan malam ini."Dia terhenti, wajahnya tertutup ekspresi bersalah. "Kirana, maaf … tentang tadi malam … seharusnya aku tidak meninggalkanmu. Aku terlalu terbur
Magbasa pa