Share

Bab 7

Author: Echo
Tepat saat aku hendak berbicara, pintu lift terbuka.

Julisa melangkah keluar dengan senyum polos di wajahnya.

"Apakah kamu menikmati semua yang sudah kurencanakan untukmu malam ini, Kirana?"

Dia yang merencanakannya?

Aku menatap Raka.

Wajahnya tampak sangat tidak nyaman.

"Raka bilang kamu sedang kesal, jadi aku mengusulkan makan malam ini. Kelihatannya kamu menikmatinya, 'kan?"

"Aku yang pesan restorannya," kata Julisa sambil melirik ke sekeliling. "Makan malam dengan cahaya lilin itu ideku. Lafite ’82 itu pilihanku. Dan kembang apinya .…" Dia berhenti sejenak, menatap lurus ke arahku. "Itu aku juga yang bayar."

Rasanya seperti baru saja ditabrak truk.

"Julisa cuma berusaha bantu supaya kita bisa baikan, jangan berpikir berlebihan .…" Raka masih mencoba menjelaskan.

Aku tidak ingin mendengarnya.

Aku menghancurkan gelas anggurku di lantai, melemparkan satu pandangan terakhir kepada Raka, lalu berbalik pergi.

Ternyata perpisahan yang rapi hanyalah angan-angan belaka.

Di jalan bawah, ponselku bergetar. Pesan dari Julisa masuk.

[Aku hanya ingin kamu tahu, bahkan momen romantismu yang terakhir pun adalah aksi amal dariku. Gimana rasanya, Kirana? Harus mengemis belas kasihanku hanya untuk merasa dicintai?]

Aku mengabaikan rasa perih di hatiku dan memblokir nomor teleponnya.

...

Keesokan harinya adalah ulang tahun Raka.

Aku kembali ke vila yang kosong dan meletakkan surat perceraian yang sudah ditandatangani ke dalam kotak hadiah yang indah, lalu mengikatnya dengan pita.

Sedangkan hadiah-hadiah untuknya, semuanya sudah kujual. Tidak ada gunanya membiarkan uang terbuang sia-sia.

Toni menatap koperku, ragu-ragu.

"Nyonya, apa Anda benar-benar akan pergi?"

"Ya," kataku sambil menyerahkan kotak itu kepadanya. "Tolong berikan ini pada Raka. Katakan padanya ini hadiah ulang tahunnya."

"Kalau dia bertanya Anda di mana?"

"Katakan padanya jawabannya ada di dalam kotak itu."

Dalam perjalanan menuju bandara, mobil kami berpapasan dengan mobil lain. Dari balik jendela, aku melihat Raka. Dia sudah berpakaian untuk pestanya, bergegas pulang, mungkin menuju perayaan yang telah Julisa siapkan.

Kami saling melewatkan, seperti yang telah terjadi selama tiga tahun terakhir.

...

(Sudut Pandang Pihak Ketiga)

Raka kembali ke vila, dan Toni menyerahkan sebuah kotak hadiah kepadanya.

"Nyonya meninggalkan ini untuk Anda. Katanya ini untuk ulang tahunmu."

Raka menatap bungkusnya yang elegan, raut wajahnya tampak rumit. Namun, dia melirik waktu, memutuskan bahwa dirinya sudah terlambat, lalu membawa kotak itu ke pesta tanpa membukanya.

Pesta sedang berlangsung meriah. Julisa sudah menunggunya. Melihat kotak di tangannya, dia tersenyum, tetapi tidak mengatakan apa pun.

"Teman-teman!" Julisa meraih mikrofon dan melangkah ke bawah sorotan lampu. "Aku punya dua pengumuman besar malam ini!" Suaranya menggema di seluruh aula.

Raka berdiri di sampingnya, masih menggenggam hadiah yang belum dibuka, senyum sopan terpaku di wajahnya.

"Pertama," kata Julisa sambil melirik Raka. "Selamat untuk Raka yang tampan, yang telah resmi bercerai dan kembali menjadi pria lajang!"

Apa?

Senyum Raka membeku. Matanya melesat turun ke kotak di tangannya, jantungnya mulai berdebar keras menghantam tulang rusuknya.

Gelombang bisik-bisik merambat di antara kerumunan.

"Dan untuk pengumuman keduaku," kata Julisa sambil mengangkat tangannya, memamerkan cincin berlian besar. "Setelah semua yang telah kami lalui, Raka dan aku akhirnya akan menikah!"

Banyak tamu adalah sahabat lama. Ruangan itu pun meledak oleh sorak-sorai dan tepuk tangan. Semua mata tertuju pada Raka, menunggu reaksinya.

Pikiran Raka kosong. Hadiah dari Kirana terasa seolah berbobot seribu pon.

Dia ingin berteriak menolak, menjelaskan bahwa semua ini adalah kesalahan, lalu lari. Namun, dengan ratusan pasang mata menatapnya, dengan tatapan penuh harap Julisa yang terasa membakar dirinya, dia hanya mampu mengangguk kaku dan tersentak.

"Aku … aku merasa terhormat."

Ruangan itu kembali bergemuruh oleh tepuk tangan yang menggelegar.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 16

    "Tenang, Kirana," kata Ravino sambil menggenggam tanganku. "Ibuku akan menyukaimu."Mobil itu melaju perlahan memasuki kediaman Keluarga Dananjaya. Tempat itu bahkan lebih megah daripada yang kubayangkan. Sebuah rumah besar bergaya klasik, dengan taman yang terawat sempurna dan penjaga yang berpatroli di setiap sudut."Selamat datang, Kirana," terdengar suara tegas.Ibunda Ravino, Melisa Dananjaya, ternyata lebih ramah daripada yang kukira. Dia seorang wanita berusia lima puluhan, dengan rambut perak yang tertata rapi, dan mata biru yang sama persis dengan anaknya."Suatu kehormatan bertemu dengan Anda, Bu Melisa," kataku sambil mengulurkan tangan."Panggil aku Melisa saja," jawabnya, sambil menjabat tanganku dengan tegas. "Ravino sudah banyak bercerita tentangmu."Makan malamnya luar biasa. Melisa dan para tetua keluarga lainnya menunjukkan ketertarikan yang besar padaku. Kami berbicara tentang bisnis, masa depan, dan kemungkinan kerja sama."Kirana," kata Melisa, menarikku ke samping

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 15

    Seperti yang diduga, keesokan harinya seluruh dunia ilegal heboh.Keluarga Wiranegara menghadapi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan rahasia mereka terbongkar, dana mereka terputus, dan menghadapi serangan gabungan dari Keluarga Santosa dan Dananjaya, mereka berada di ambang kehancuran. Raka, orang yang bertanggung jawab harus menghadapi kemarahan para tetua keluarga.Dan Julisa menjadi orang buangan.Cuplikan video yang sudah diedit menyebar bak api, dan dia diejek serta dihina di mana pun dia pergi. Dia mencoba mencari perlindungan pada Prabu, tetapi Prabu secara terbuka menolaknya, mengklaim bahwa Julisa yang menggoda dirinya, yang justru membuatnya makin menjadi bahan tertawaan.Saat aku melihat beritanya, aku berkomentar kepada Ravino, "Prabu itu memang bajingan sejati. Menggunakan Julisa lalu membuangnya seperti sampah. Kupikir dia mungkin benar-benar punya perasaan untuk Julisa."Ravino mengangkat alisnya. "Jangan khawatir, Sayang. Aku sudah menelusurinya. Bisnis

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 14

    (Sudut Pandang Kirana)Pada malam gala itu, ruang dansa di Waldorf Astoria berkilauan.Aku melangkah masuk mengenakan setelan celana biru safir yang didesain khusus, dengan Ravino di sisiku. Dia mengenakan setelan hitam Valentino, seanggun seorang bangsawan dalam lukisan klasik."Sepertinya kita menjadi pusat perhatian," bisik Ravino di telingaku.Dia benar. Setiap mata di ruang dansa tertuju pada kami, tetapi tatapan itu lebih menilai daripada menyambut."Kirana, akhirnya kamu datang."Suara Julisa penuh sarkasme terdengar dari belakang. Aku menoleh dan melihatnya bersama Raka mendekat, keduanya berpakaian rapi, tampak seperti pasangan sempurna."Julisa, Raka." Aku mengangguk dengan nada datar."Kita perlu bicara," kata Raka, matanya menatap mataku, menyimpan badai emosi yang rumit di dalamnya. "Tentang tindakanmu belakangan ini."Para tamu di sekeliling tampak merasakan ketegangan itu dan menjadi tenang, mengalihkan perhatian mereka kepada kami."Ada apa yang perlu dibicarakan?" kata

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 13

    (Sudut Pandang Pihak Ketiga)Raka tidak tidur semalaman.Dia berguling-guling di tempat tidur, adegan di kereta gantung terus terulang di pikirannya. Kirana dan pria itu, cara mereka saling memandang. Tatapan itu dulu hanya miliknya.Dan Julisa ...."Julisa, bisa tidak jangan lihat ponselmu saat kita sedang makan?"Ini sudah ketiga kalinya minggu ini. Sejak mereka kembali dari pegunungan, Julisa terus-menerus menerima panggilan dan mengirim pesan saat kencan mereka, sama sekali mengabaikannya."Maaf, Sayang. Belakangan aku agak sibuk," jawab Julisa sambil menyingkirkan, matanya masih menempel pada layar.Raka menatapnya, dan bayangan Kirana muncul di pikirannya. Kirana tidak pernah terdistraksi saat mereka makan malam bersama. Bahkan di saat paling sibuknya, dia akan mendengarkan dengan saksama, mengingat setiap detail kecil yang Raka sebutkan."Lupakan saja," kata Raka sambil berdiri. "Aku pulang dulu."Saat Raka berjalan pergi, wajah Julisa menampakkan ekspresi meremehkan.Dia menyad

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 12

    (Sudut Pandang Kirana)Di kabin, rasa cemas setelah melihat Raka akhirnya memudar."Terima kasih," kataku, menoleh ke Ravino. "Kamu seharusnya tidak perlu membelaku tadi."Matanya yang hijau berkilau. "Mungkin aku punya motif yang egois.""Motif apa?"Ravino menarik napas dalam-dalam, seolah mengumpulkan keberaniannya. "Kirana, aku ingin secara resmi mengajukan sesuatu ...."Instingku ingin menghentikannya, tetapi dia terus melanjutkan."Aku sudah memperhatikanmu sejak kuliah. Bukan sekadar ketertarikan dangkal, melainkan kekaguman yang tulus." Suaranya lembut, tetapi setiap katanya terdengar jelas. "Studi kasusmu di sekolah bisnis, caramu menangani urusan keluarga, visimu .… Selama bertahun-tahun, aku telah melihat tak terhitung banyaknya orang yang disebut elite, tapi tak seorang pun pernah mencapai levelmu."Aku tertegun, sekaligus sedikit gelisah. Ekspresiku berubah dingin. "Kamu menyelidikiku?""Mengapa?"Dia menatapku, dan di mata hijaunya terpantul tekad yang putus asa. "Karena

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 11

    (Sudut Pandang Pihak Ketiga)Raka membuka pintu. Rumah itu sunyi senyap, seperti makam.Kirana benar-benar telah pergi. Pergi untuk selamanya.Hari itu, Raka menerima telepon dari pengacara keluarga."Tuan, Nona Kirana telah menarik seluruh dananya dari rekening bersama. Selain itu, dia menuntut bagian setengah dari harta bersama sesuai dengan yang tercantum dalam perjanjian .…"Tangan Raka bergetar. Akhirnya dia menyadari bahwa Kirana bukan sekadar sedang marah atau merajuk. Dia juga bukan sedang sok jual mahal.Kirana benar-benar akan meninggalkannya.Malam itu, Julisa datang untuk menghiburnya."Jangan buang air matamu untuk seseorang yang tidak pantas menerimanya, Raka," katanya sambil mengecup leher Raka. "Aku akan memberimu sesuatu yang jauh lebih baik."Raka tidak mendorongnya menjauh.Saat kecupan Julisa makin intens, dia memejamkan mata, berusaha melupakan bayangan Kirana yang berjalan pergi.Tubuh mereka saling terbelit di atas seprai. Julisa membisikkan kata-kata manis di te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status