Share

Bab 2

Author: Echo
Saat aku tiba di rumah, Raka sudah duduk di sofa menungguku.

"Kirana … Sayang, kamu tidak apa, 'kan?" Suaranya cepat, khawatir, sambil segera mendekatiku. Wajahnya penuh kecemasan. "Biar aku lihat lukanya."

Tangannya menjulur, hendak mengangkat baju bersih yang baru saja kuganti, tetapi aku mundur selangkah.

"Tidak apa-apa. Dokter sudah mengobatinya."

"Jangan begitu," katanya, melangkah mendekat lagi. Aroma parfumnya yang khas menyeruak, memenuhi seluruh inderaku. "Ayo ke atas. Biar aku lihat."

Tangannya menyusup ke dadaku, bibirnya menempel di leherku. Itu memang gerakannya yang paling piawai. Setiap kali aku marah atau kesal, dia selalu tahu cara menggunakan tubuhnya untuk mengalihkan perhatianku.

Dulu, cara itu selalu berhasil.

Namun, malam ini, aku hanya merasa lelah.

"Raka, lukanya sakit," kataku, mendorongnya perlahan. "Jangan malam ini."

Dia terhenti, wajahnya tertutup ekspresi bersalah. "Kirana, maaf … tentang tadi malam … seharusnya aku tidak meninggalkanmu. Aku terlalu terburu-buru, pikiranku benar-benar kosong .…"

"Tidak apa-apa," kataku dengan suara datar. "Itu reaksi yang wajar."

"Tidak, bukan." Dia bersikeras, menarikku ke dalam pelukan erat. "Kamu istriku. Seharusnya aku melindungimu. Bisakah kamu memaafkanku?"

Aku menepuk punggungnya, sentuhanku sedingin saat aku menenangkan orang asing. "Tidak apa-apa, Raka. Kamu pasti capek. Pergilah istirahat."

Dia diam dalam pelukanku beberapa saat. Aku tahu dia menunggu aku mengucapkan sesuatu. Sesuatu yang manis, memaafkan, dan penuh cinta.

Namun, aku tetap terdiam.

...

Keesokan paginya, Raka bangun lebih awal dari biasanya. Saat aku menuruni tangga, dia sudah menunggu di dapur, sibuk dengan aktivitas paginya.

"Selamat pagi, Sayang," katanya sambil tersenyum di balik bahunya. "Aku buatkan makanan kesukaanmu, bacon dan telur. Juga ada jus jeruk segar."

Meja telah tertata rapi dengan sarapan mewah, menggunakan porselen cantik dari pernikahan kami.

"Terima kasih, tapi aku tidak lapar," kataku sambil berjalan langsung ke pintu. "Aku ada urusan."

"Kirana," panggilnya, mengikuti di belakangku. "Setidaknya minum kopi dulu. Lagian kamu perlu ganti perbanmu .…"

"Merry yang akan mengurusnya."

...

Di dalam mobil, Raka duduk di kursi penumpang. Dia bersikeras ikut denganku, mengaku ingin menemaniku.

Saat aku meninjau jadwalku, kulihat dia mengeluarkan pemantik untuk menyalakan rokok.

Itu bukan pemantik yang kuberikan padanya.

Pemantik api yang kuberikan padanya adalah buatan khusus dari perak sterling, diukir dengan motto Keluarga Wiranegara: [Harga Diri Adalah Segalanya.] Itu adalah hadiah ulang tahun pernikahan kami, sebuah desain yang kucurahkan waktu tiga bulan untuk menyempurnakannya.

Yang ada di tangannya hanyalah korek api plastik murah. Merek buatan Julisa.

"Mana korek apimu?" tanyaku.

Tangan Raka terhenti.

"Korek api yang mana?"

"Yang kuberikan padamu. Yang ada ukirannya."

"Oh, yang itu," katanya sambil menatap keluar jendela, menghindari mataku. "Aku …. Sepertinya hilang. Mungkin saat di mal beberapa hari yang lalu."

Bohong.

Aku sudah melihatnya di tasnya kemarin.

"Mal mana?" tanyaku menekan.

"Eh … Mal Fastow. Mungkin aku meninggalkannya di ruang ganti," jawabnya, suaranya tegang. "Kirana, kenapa tiba-tiba tanya itu?"

"Tidak apa," kataku, menatap pemantik murah di tangannya, tawa pahit menumpuk di dadaku. "Lupakan saja. Kalau hilang, ya sudah."

Raka menoleh ke arahku. Matanya menampilkan kilatan kebingungan. Seolah dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia tetap diam.

Aku bersandar ke belakang dan menutup mataku.

Kalau sudah hilang, ya sudah.

Pemantik itu. Pernikahan itu. Dia.

Aku sudah muak.

Di klub pribadi Keluarga Wiranegara, asap cerutu bergelayut tebal di udara, menutupi cahaya lampu gantung yang hangat. Selusin pria senior keluarga itu duduk melingkari meja panjang dari kayu ek, membahas pengiriman bulan depan dengan serius.

Salah seorang pria memecah keheningan. "Kalau diingat-ingat, Raka dulu tergila-gila pada Julisa. Seluruh Vargas tahu dia mengejar wanita itu selama tiga tahun."

"Tiga tahun tujuh bulan tepatnya." Julisa membetulkan, ada kilau tajam di matanya.

Sebuah gumaman terdengar di seluruh ruangan.

"Jadi, kenapa kamu tidak terima dia?" tanya seorang mafia muda. "Raka itu memang incaran yang luar biasa."

Julisa memutar gelas wiski di tangannya, mengabaikan pertanyaan itu. Sebaliknya, dia mengganti topik. "Bagaimanapun, Raka selalu paling peduli padaku .… Sebenarnya, ide untuk dia melamar Kirana itu datang dariku."

Apa?

Aku baru saja tiba, dan kata-katanya menghantamku saat aku berdiri di ambang pintu. Tanganku mengepal.

"Aku bilang padanya Kirana itu manis, mudah diatur. Keluarganya tak punya kekuatan nyata, jadi dia bisa melakukan apa pun yang Raka mau. Pilihan yang sempurna. Dan .…"

Dia berhenti sejenak.

"Dan dia tak akan pernah menyusahkanmu?"

Tawa pecah di ruangan itu.

Aku berdiri membeku di luar pintu, hatiku berputar sakit di dada.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 16

    "Tenang, Kirana," kata Ravino sambil menggenggam tanganku. "Ibuku akan menyukaimu."Mobil itu melaju perlahan memasuki kediaman Keluarga Dananjaya. Tempat itu bahkan lebih megah daripada yang kubayangkan. Sebuah rumah besar bergaya klasik, dengan taman yang terawat sempurna dan penjaga yang berpatroli di setiap sudut."Selamat datang, Kirana," terdengar suara tegas.Ibunda Ravino, Melisa Dananjaya, ternyata lebih ramah daripada yang kukira. Dia seorang wanita berusia lima puluhan, dengan rambut perak yang tertata rapi, dan mata biru yang sama persis dengan anaknya."Suatu kehormatan bertemu dengan Anda, Bu Melisa," kataku sambil mengulurkan tangan."Panggil aku Melisa saja," jawabnya, sambil menjabat tanganku dengan tegas. "Ravino sudah banyak bercerita tentangmu."Makan malamnya luar biasa. Melisa dan para tetua keluarga lainnya menunjukkan ketertarikan yang besar padaku. Kami berbicara tentang bisnis, masa depan, dan kemungkinan kerja sama."Kirana," kata Melisa, menarikku ke samping

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 15

    Seperti yang diduga, keesokan harinya seluruh dunia ilegal heboh.Keluarga Wiranegara menghadapi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan rahasia mereka terbongkar, dana mereka terputus, dan menghadapi serangan gabungan dari Keluarga Santosa dan Dananjaya, mereka berada di ambang kehancuran. Raka, orang yang bertanggung jawab harus menghadapi kemarahan para tetua keluarga.Dan Julisa menjadi orang buangan.Cuplikan video yang sudah diedit menyebar bak api, dan dia diejek serta dihina di mana pun dia pergi. Dia mencoba mencari perlindungan pada Prabu, tetapi Prabu secara terbuka menolaknya, mengklaim bahwa Julisa yang menggoda dirinya, yang justru membuatnya makin menjadi bahan tertawaan.Saat aku melihat beritanya, aku berkomentar kepada Ravino, "Prabu itu memang bajingan sejati. Menggunakan Julisa lalu membuangnya seperti sampah. Kupikir dia mungkin benar-benar punya perasaan untuk Julisa."Ravino mengangkat alisnya. "Jangan khawatir, Sayang. Aku sudah menelusurinya. Bisnis

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 14

    (Sudut Pandang Kirana)Pada malam gala itu, ruang dansa di Waldorf Astoria berkilauan.Aku melangkah masuk mengenakan setelan celana biru safir yang didesain khusus, dengan Ravino di sisiku. Dia mengenakan setelan hitam Valentino, seanggun seorang bangsawan dalam lukisan klasik."Sepertinya kita menjadi pusat perhatian," bisik Ravino di telingaku.Dia benar. Setiap mata di ruang dansa tertuju pada kami, tetapi tatapan itu lebih menilai daripada menyambut."Kirana, akhirnya kamu datang."Suara Julisa penuh sarkasme terdengar dari belakang. Aku menoleh dan melihatnya bersama Raka mendekat, keduanya berpakaian rapi, tampak seperti pasangan sempurna."Julisa, Raka." Aku mengangguk dengan nada datar."Kita perlu bicara," kata Raka, matanya menatap mataku, menyimpan badai emosi yang rumit di dalamnya. "Tentang tindakanmu belakangan ini."Para tamu di sekeliling tampak merasakan ketegangan itu dan menjadi tenang, mengalihkan perhatian mereka kepada kami."Ada apa yang perlu dibicarakan?" kata

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 13

    (Sudut Pandang Pihak Ketiga)Raka tidak tidur semalaman.Dia berguling-guling di tempat tidur, adegan di kereta gantung terus terulang di pikirannya. Kirana dan pria itu, cara mereka saling memandang. Tatapan itu dulu hanya miliknya.Dan Julisa ...."Julisa, bisa tidak jangan lihat ponselmu saat kita sedang makan?"Ini sudah ketiga kalinya minggu ini. Sejak mereka kembali dari pegunungan, Julisa terus-menerus menerima panggilan dan mengirim pesan saat kencan mereka, sama sekali mengabaikannya."Maaf, Sayang. Belakangan aku agak sibuk," jawab Julisa sambil menyingkirkan, matanya masih menempel pada layar.Raka menatapnya, dan bayangan Kirana muncul di pikirannya. Kirana tidak pernah terdistraksi saat mereka makan malam bersama. Bahkan di saat paling sibuknya, dia akan mendengarkan dengan saksama, mengingat setiap detail kecil yang Raka sebutkan."Lupakan saja," kata Raka sambil berdiri. "Aku pulang dulu."Saat Raka berjalan pergi, wajah Julisa menampakkan ekspresi meremehkan.Dia menyad

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 12

    (Sudut Pandang Kirana)Di kabin, rasa cemas setelah melihat Raka akhirnya memudar."Terima kasih," kataku, menoleh ke Ravino. "Kamu seharusnya tidak perlu membelaku tadi."Matanya yang hijau berkilau. "Mungkin aku punya motif yang egois.""Motif apa?"Ravino menarik napas dalam-dalam, seolah mengumpulkan keberaniannya. "Kirana, aku ingin secara resmi mengajukan sesuatu ...."Instingku ingin menghentikannya, tetapi dia terus melanjutkan."Aku sudah memperhatikanmu sejak kuliah. Bukan sekadar ketertarikan dangkal, melainkan kekaguman yang tulus." Suaranya lembut, tetapi setiap katanya terdengar jelas. "Studi kasusmu di sekolah bisnis, caramu menangani urusan keluarga, visimu .… Selama bertahun-tahun, aku telah melihat tak terhitung banyaknya orang yang disebut elite, tapi tak seorang pun pernah mencapai levelmu."Aku tertegun, sekaligus sedikit gelisah. Ekspresiku berubah dingin. "Kamu menyelidikiku?""Mengapa?"Dia menatapku, dan di mata hijaunya terpantul tekad yang putus asa. "Karena

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 11

    (Sudut Pandang Pihak Ketiga)Raka membuka pintu. Rumah itu sunyi senyap, seperti makam.Kirana benar-benar telah pergi. Pergi untuk selamanya.Hari itu, Raka menerima telepon dari pengacara keluarga."Tuan, Nona Kirana telah menarik seluruh dananya dari rekening bersama. Selain itu, dia menuntut bagian setengah dari harta bersama sesuai dengan yang tercantum dalam perjanjian .…"Tangan Raka bergetar. Akhirnya dia menyadari bahwa Kirana bukan sekadar sedang marah atau merajuk. Dia juga bukan sedang sok jual mahal.Kirana benar-benar akan meninggalkannya.Malam itu, Julisa datang untuk menghiburnya."Jangan buang air matamu untuk seseorang yang tidak pantas menerimanya, Raka," katanya sambil mengecup leher Raka. "Aku akan memberimu sesuatu yang jauh lebih baik."Raka tidak mendorongnya menjauh.Saat kecupan Julisa makin intens, dia memejamkan mata, berusaha melupakan bayangan Kirana yang berjalan pergi.Tubuh mereka saling terbelit di atas seprai. Julisa membisikkan kata-kata manis di te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status