Share

Kali Kesembilan Dia Pergi
Kali Kesembilan Dia Pergi
Author: Echo

Bab 1

Author: Echo
Sejak mantan Raka, Julisa, kembali ke kota, dia menantangku secara terang-terangan. Raka diberi sembilan kesempatan untuk memilih di antara kami dalam situasi hidup atau mati. Dan orang yang ditinggalkannya untuk ke-sembilan kalinya harus pergi meninggalkan segalanya.

Aku setuju.

Untuk ke-sembilan kalinya, hanya satu panggilan dari Julisa membuat Raka meninggalkanku lagi di pinggir jalan.

"Jalan! Ayo pergi!"

Suara Raka tajam, bergetar panik. Itu sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku menahan nyeri tembakan di perut, darah merembes di sela jariku, menodai kemeja sutra putihku.

"Raka, tunggu aku ...."

Brak! Pintu mobil tertutup keras.

Mesin meraung, ban menderu saat BMW hitam itu melaju meninggalkanku.

Suamiku meninggalkanku demi wanita lain. Lagi. Semua gara-gara wanita itu mengeluh pusing di rumah, padahal kami baru saja selamat dari baku tembak, dan aku sendiri sedang kehilangan banyak darah di sebuah gang sempit.

Aku bersandar pada dinding bata yang dingin, tangan gemetar saat meraih ponsel dari saku. Dengan napas tersengal, kuhubungi asistanku, Merry, minta dia menjemputku.

Ke-sembilan kalinya.

Aku memikirkan kembali taruhan menjijikkan yang disarankan Julisa setahun lalu. "Sembilan kali pilihan. Kita lihat siapa yang dipilih Raka. Yang kalah, harus pergi."

Yang pertama, terjadi di pemakaman ibuku. Sebuah keluarga lawan menyerbu upacara itu, menembaki kerumunan. Tanpa ragu, Raka menerobos, menempatkan dirinya di antara Julisa dan bahaya.

Yang kedua terjadi saat upacara pengangkatan dirinya. Sebuah bom meledak, dan lagi, naluri pertamanya sama, melindungi Julisa.

Ketiga, keempat, kelima kali ….

Setiap kali, tanpa pikir panjang, Raka selalu memilih Julisa.

Dan aku? Kirana Wiranegara. Wakil bos. Aku yang mengatur setengah kota. Namun, baginya … aku selalu menjadi orang bodoh yang harus mencari alasan setiap saat.

"Mungkin dia cuma panik."

"Mungkin dia pikir aku bisa jaga diri sendiri."

"Mungkin dia tahu Julisa yang paling butuh perlindungan."

Semua itu omong kosong belaka.

Langkahnya bergema di gang sempit. Julisa muncul di pintu, gaunnya bersih tanpa noda, rambutnya tertata rapi, dan senyum kemenangan yang selalu berhasil membuatku muak, terpampang di wajahnya.

"Yah, lihat siapa ini. Kirana Wiranegara yang hebat, berlumuran darah di samping tempat sampah," ucapnya sambil melangkah mendekat. "Ini sudah ke-sembilan kalinya, Kirana. Mau bilang apa lagi?"

Aku menatap Julisa. "Aku kalah."

Dari dalam jas, aku merogoh sebuah dokumen yang terlipat rapi, dokumen yang sudah lama kubuat. "Surat cerai. Sudah kutandatangani. Ambil saja."

Julisa mengambil dokumen itu, senyumnya melebar penuh kemenangan. Tapi dia belum selesai menusuk dengan kata-kata. "Raka baru saja mengirimiku pesan. Dia bilang sedang dalam perjalanan, dan aku harus menunggu dia. Dia … benar-benar sudah melupakanmu."

"Cukup," kataku, menutup mata sejenak. "Kamu sudah dapat apa yang kamu mau. Sekarang, pergilah."

"Jadi, kapan kamu akan menepati janjimu?"

"Satu bulan. Aku butuh waktu untuk menata urusan Keluarga Wiranegara."

...

Aku berbaring di ranjang rumah sakit pribadi, setelah dokter berhasil mengeluarkan peluru itu. Pikiran-pikiranku tanpa sadar kembali terseret ke masa lalu.

Tiga tahun yang lalu, Raka yang melamarku.

Saat itu, keluargaku hanyalah pemain kecil, sementara ayahku sudah menyiapkan rencana untuk menikahkan aku segera setelah lulus, semata demi keuntungan baru. Keluarga Wiranegara adalah kekuatan terbesar di kota, dan aku tak pernah membayangkan akan masuk ke dalam dunia mereka melalui pernikahan.

Waktu itu, Raka sedang mengejar Julisa. Seluruh kota seolah tahu, tetapi entah kenapa, mereka tak pernah resmi bersama. Pada akhirnya, Julisa meninggalkan Vargas.

Aku pernah bertanya padanya mengapa dia ingin menikah denganku. Raka menggenggam tanganku dengan lembut, menatap mataku, lalu berkata, "Aku sudah memperhatikanmu sejak lama …. Cara kamu menghadapi intimidasi, betapa seriusnya kamu menekuni studimu .…"

Aku tak bisa berkata tidak. Lagi pula, diam-diam aku sudah menyukai Raka yang sombong dan tampan itu bertahun-tahun.

Selama tiga tahun pernikahan kami, aku memberikan segalanya untuk Keluarga Wiranegara untuk membuktikan bahwa aku pantas untuknya. Aku merangkak naik hingga dapat posisi wakil bos, berpikir bahwa suatu hari nanti, dia akhirnya akan melihatku. Dan untuk sementara, rasanya memang begitu.

Namun, semuanya berubah setahun lalu, pada hari Julisa kembali.

...

Sementara itu, di apartemen mewah Julisa .…

Julisa bersandar di pelukan Raka, matanya berkaca-kaca saat menatap pria itu. "Terima kasih sudah buru-buru datang. Sebenarnya tidak apa-apa … tapi aku harap Kirana tidak salah paham."

Raka yang baru saja menikmati kedekatannya, menegang saat nama Kirana disebut, tetapi segera kembali rileks.

Kirana selalu begitu pengertian. Dia hanya perlu menjelaskan nanti saat kembali.

"Kesehatanmu yang paling penting. Kirana bisa mengurus dirinya sendiri. Dia akan mengerti."

Julisa tersenyum, lalu mengeluarkan dokumen perceraian yang kuberikan padanya.

"Apa ini?" tanya Raka, melirik dokumen itu.

"Sesuatu yang penting dan butuh tanda tanganmu," kata Julisa, dengan cekatan membalik dokumen ke halaman tanda tangan. "Kirana bilang ini cuma … surat kuasa saja. Untuk urusan bisnis pelabuhan."

"Surat kuasa?" Raka mengerutkan dahi. "Kenapa dia tidak memberikannya langsung padaku?"

"Dia memang sedang sangat sibuk belakangan ini." Julisa mendesis manja, sambil menyerahkan sebuah pena kepadanya. "Tinggal tanda tangan saja. Tidak masalah."

Tanpa pikir panjang, Raka menandatangani namanya. Dia tidak menyadari baru saja menandatangani sesuatu yang berarti menyerahkan pernikahannya.

Julisa menyimpan dokumen itu, senyum licik tersungging di bibirnya. "Raka, Sayang, Kirana dan aku punya kejutan besar untukmu. Kamu akan tahu dalam sebulan."

"Kejutan apa?"

"Jangan khawatir," bisiknya manja. "Kamu pasti akan menyukainya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 16

    "Tenang, Kirana," kata Ravino sambil menggenggam tanganku. "Ibuku akan menyukaimu."Mobil itu melaju perlahan memasuki kediaman Keluarga Dananjaya. Tempat itu bahkan lebih megah daripada yang kubayangkan. Sebuah rumah besar bergaya klasik, dengan taman yang terawat sempurna dan penjaga yang berpatroli di setiap sudut."Selamat datang, Kirana," terdengar suara tegas.Ibunda Ravino, Melisa Dananjaya, ternyata lebih ramah daripada yang kukira. Dia seorang wanita berusia lima puluhan, dengan rambut perak yang tertata rapi, dan mata biru yang sama persis dengan anaknya."Suatu kehormatan bertemu dengan Anda, Bu Melisa," kataku sambil mengulurkan tangan."Panggil aku Melisa saja," jawabnya, sambil menjabat tanganku dengan tegas. "Ravino sudah banyak bercerita tentangmu."Makan malamnya luar biasa. Melisa dan para tetua keluarga lainnya menunjukkan ketertarikan yang besar padaku. Kami berbicara tentang bisnis, masa depan, dan kemungkinan kerja sama."Kirana," kata Melisa, menarikku ke samping

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 15

    Seperti yang diduga, keesokan harinya seluruh dunia ilegal heboh.Keluarga Wiranegara menghadapi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan rahasia mereka terbongkar, dana mereka terputus, dan menghadapi serangan gabungan dari Keluarga Santosa dan Dananjaya, mereka berada di ambang kehancuran. Raka, orang yang bertanggung jawab harus menghadapi kemarahan para tetua keluarga.Dan Julisa menjadi orang buangan.Cuplikan video yang sudah diedit menyebar bak api, dan dia diejek serta dihina di mana pun dia pergi. Dia mencoba mencari perlindungan pada Prabu, tetapi Prabu secara terbuka menolaknya, mengklaim bahwa Julisa yang menggoda dirinya, yang justru membuatnya makin menjadi bahan tertawaan.Saat aku melihat beritanya, aku berkomentar kepada Ravino, "Prabu itu memang bajingan sejati. Menggunakan Julisa lalu membuangnya seperti sampah. Kupikir dia mungkin benar-benar punya perasaan untuk Julisa."Ravino mengangkat alisnya. "Jangan khawatir, Sayang. Aku sudah menelusurinya. Bisnis

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 14

    (Sudut Pandang Kirana)Pada malam gala itu, ruang dansa di Waldorf Astoria berkilauan.Aku melangkah masuk mengenakan setelan celana biru safir yang didesain khusus, dengan Ravino di sisiku. Dia mengenakan setelan hitam Valentino, seanggun seorang bangsawan dalam lukisan klasik."Sepertinya kita menjadi pusat perhatian," bisik Ravino di telingaku.Dia benar. Setiap mata di ruang dansa tertuju pada kami, tetapi tatapan itu lebih menilai daripada menyambut."Kirana, akhirnya kamu datang."Suara Julisa penuh sarkasme terdengar dari belakang. Aku menoleh dan melihatnya bersama Raka mendekat, keduanya berpakaian rapi, tampak seperti pasangan sempurna."Julisa, Raka." Aku mengangguk dengan nada datar."Kita perlu bicara," kata Raka, matanya menatap mataku, menyimpan badai emosi yang rumit di dalamnya. "Tentang tindakanmu belakangan ini."Para tamu di sekeliling tampak merasakan ketegangan itu dan menjadi tenang, mengalihkan perhatian mereka kepada kami."Ada apa yang perlu dibicarakan?" kata

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 13

    (Sudut Pandang Pihak Ketiga)Raka tidak tidur semalaman.Dia berguling-guling di tempat tidur, adegan di kereta gantung terus terulang di pikirannya. Kirana dan pria itu, cara mereka saling memandang. Tatapan itu dulu hanya miliknya.Dan Julisa ...."Julisa, bisa tidak jangan lihat ponselmu saat kita sedang makan?"Ini sudah ketiga kalinya minggu ini. Sejak mereka kembali dari pegunungan, Julisa terus-menerus menerima panggilan dan mengirim pesan saat kencan mereka, sama sekali mengabaikannya."Maaf, Sayang. Belakangan aku agak sibuk," jawab Julisa sambil menyingkirkan, matanya masih menempel pada layar.Raka menatapnya, dan bayangan Kirana muncul di pikirannya. Kirana tidak pernah terdistraksi saat mereka makan malam bersama. Bahkan di saat paling sibuknya, dia akan mendengarkan dengan saksama, mengingat setiap detail kecil yang Raka sebutkan."Lupakan saja," kata Raka sambil berdiri. "Aku pulang dulu."Saat Raka berjalan pergi, wajah Julisa menampakkan ekspresi meremehkan.Dia menyad

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 12

    (Sudut Pandang Kirana)Di kabin, rasa cemas setelah melihat Raka akhirnya memudar."Terima kasih," kataku, menoleh ke Ravino. "Kamu seharusnya tidak perlu membelaku tadi."Matanya yang hijau berkilau. "Mungkin aku punya motif yang egois.""Motif apa?"Ravino menarik napas dalam-dalam, seolah mengumpulkan keberaniannya. "Kirana, aku ingin secara resmi mengajukan sesuatu ...."Instingku ingin menghentikannya, tetapi dia terus melanjutkan."Aku sudah memperhatikanmu sejak kuliah. Bukan sekadar ketertarikan dangkal, melainkan kekaguman yang tulus." Suaranya lembut, tetapi setiap katanya terdengar jelas. "Studi kasusmu di sekolah bisnis, caramu menangani urusan keluarga, visimu .… Selama bertahun-tahun, aku telah melihat tak terhitung banyaknya orang yang disebut elite, tapi tak seorang pun pernah mencapai levelmu."Aku tertegun, sekaligus sedikit gelisah. Ekspresiku berubah dingin. "Kamu menyelidikiku?""Mengapa?"Dia menatapku, dan di mata hijaunya terpantul tekad yang putus asa. "Karena

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 11

    (Sudut Pandang Pihak Ketiga)Raka membuka pintu. Rumah itu sunyi senyap, seperti makam.Kirana benar-benar telah pergi. Pergi untuk selamanya.Hari itu, Raka menerima telepon dari pengacara keluarga."Tuan, Nona Kirana telah menarik seluruh dananya dari rekening bersama. Selain itu, dia menuntut bagian setengah dari harta bersama sesuai dengan yang tercantum dalam perjanjian .…"Tangan Raka bergetar. Akhirnya dia menyadari bahwa Kirana bukan sekadar sedang marah atau merajuk. Dia juga bukan sedang sok jual mahal.Kirana benar-benar akan meninggalkannya.Malam itu, Julisa datang untuk menghiburnya."Jangan buang air matamu untuk seseorang yang tidak pantas menerimanya, Raka," katanya sambil mengecup leher Raka. "Aku akan memberimu sesuatu yang jauh lebih baik."Raka tidak mendorongnya menjauh.Saat kecupan Julisa makin intens, dia memejamkan mata, berusaha melupakan bayangan Kirana yang berjalan pergi.Tubuh mereka saling terbelit di atas seprai. Julisa membisikkan kata-kata manis di te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status