Share

Bab 6

Author: Echo
Udara di klub bawah tanah Keluarga Santosa dipenuhi aroma wiski dan darah.

Aku mendorong kerumunan dan melihat lingkaran pria yang berteriak-teriak. Di tengah, Raka dan Prabu duduk berhadapan, sebuah revolver perak terletak di atas meja di antara mereka.

"Aturannya sederhana," kata Prabu, sambil memainkan senjata itu. "Enam ruang peluru, satu peluru. Kita bergiliran sampai salah satu dari kita mati."

Kerumunan itu bersorak keras.

Putaran pertama. Prabu menempelkan pistol ke pelipisnya sendiri dan menarik pelatuknya.

Klik. Ruang peluru kosong.

Dia lalu mendorong pistol itu ke arah Raka, senyum mengejek terukir di wajahnya. "Giliranmu."

Tangan Raka gemetar. Dia mengambil pistol itu, ragu sejenak sebelum menarik pelatuknya.

Klik. Ruang peluru kosong lagi.

Putaran kedua, ketiga, keempat … semuanya kosong.

Dengan sorakan dari kerumunan, Raka mulai kehilangan kendali.

Di putaran kelima, Prabu terlihat santai. "Tinggal dua kesempatan. Kamu yakin masih mau lanjut?"

Raka menarik napas dalam-dalam, tidak menjawab, dan menodongkan pistol ke pelipisnya sendiri.

Lalu, menatap mata Prabu, dia berteriak, "SUDAH KUBILANG, UNTUK JULISA, AKU AKAN MELAKUKAN APA SAJA!"

Klik. Kosong.

Kerumunan menjadi sunyi.

Raka membuka matanya, tatapannya liar. Dia menatap Prabu. "Giliranmu. Menyerah atau mati."

Untuk pertama kalinya, rasa takut terlihat di wajah Prabu.

Setelah satu menit penuh, Prabu menurunkan tangannya.

"Aku menyerah."

Ruangan langsung riuh. Raka telah menang.

Dia menatap Julisa dengan hasrat yang aneh dan posesif. "Julisa, aku berhasil! Aku melakukannya untukmu!"

Julisa menghampirinya, memeluknya, dan berbisik di telinganya. Raka pun tersenyum lebar seperti anak kecil yang baru saja diberi permen.

Aku menontonnya semua dari bayang-bayang, merasakan sesuatu di dalam diriku hancur untuk selamanya.

Aku lalu menyelinap keluar dari klub. Di jalan, aku memesan tiket sekali jalan ke Montana.

Akhirnya … semuanya benar-benar berakhir.

Pukul sebelas malam saat aku kembali ke vila, kupikir Raka masih akan keluar merayakan, tetapi dia sudah di rumah, menunggu di ruang tamu.

"Kirana, kamu ke mana saja?" tanyanya sambil berdiri. Wajahnya masih memerah karena bersemangat.

"Hanya jalan-jalan," jawabku sambil melepas mantelku dan menghindari tatapannya.

"Kamu terlihat tidak seperti biasanya." Dia bergerak untuk memelukku, tetapi aku menggeser diri.

Raka terdiam. "Ada apa?"

"Tidak ada. Aku capek."

"Kirana .…" Dia mencoba menciumku, tangannya menyentuh leherku.

Aku mendorongnya menjauh.

Sekilas terlihat luka di wajahnya. "Kirana, aku tahu kamu marah, tapi hari ini aku harus ...."

"Hatiku sakit. Aku sedang tidak dalam suasana hati buruk."

"Aku punya kejutan untukmu besok. Beri aku satu kesempatan lagi, ya?"

Aku tidak menjawab. Aku hanya masuk ke kamar mandi.

Keesokan harinya, aku mengenakan gaun yang dia kirimkan dan pergi.

'Setidaknya aku harus memberi hubungan ini akhir yang layak,' pikirku.

Raka muncul mengenakan setelan putih, rambutnya tertata rapi, pulpen yang kuberikan untuk pernikahan kami terselip di saku dada.

Dia mengantarkanku ke puncak gedung pencakar langit tertinggi di kota. Seluruh atapnya menjadi restoran pribadi. Lilin-lilin berkelip, kelopak mawar tersebar di lantai, dan lampu-lampu kota berkilauan di bawah.

"Sejak kapan kamu merencanakan semua ini?" tanyaku.

"Tadi," kata Raka sambil menggenggam tanganku. "Kirana, aku tahu aku telah mengecewakanmu, tapi aku ingin kamu tahu, kamu adalah istriku. Itu tidak akan pernah berubah."

Senyum sinis terlintas di bibirku.

Dia tidak tahu apa-apa.

Dia menarik kursiku dan menuangkan segelas anggur untukku. Lafite 1982, favoritku.

"Masih ingat kencan pertama kita, tiga tahun lalu?" tanyanya, matanya lembut dipenuhi nostalgia. "Kamu begitu gugup sampai hampir tak bisa bicara."

Aku ingat. Saat itu aku masih percaya pada fantasi.

"Aku mengantarmu kembali ke asrama dan berdiri di depan pintu selama setengah jam, terlalu takut untuk menciummu." Raka tertawa. "Pada akhirnya, kamulah yang lebih dulu menciumku."

Saat dia berbicara, kembang api mulai meledak, mewarnai langit malam.

"Terkejut?" tanya Raka sambil menggenggam tanganku. "Aku mengatur pertunjukan kembang api pribadi hanya untukmu."

Aku pun menarik tanganku. "Raka, aku perlu memberitahumu .…"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 16

    "Tenang, Kirana," kata Ravino sambil menggenggam tanganku. "Ibuku akan menyukaimu."Mobil itu melaju perlahan memasuki kediaman Keluarga Dananjaya. Tempat itu bahkan lebih megah daripada yang kubayangkan. Sebuah rumah besar bergaya klasik, dengan taman yang terawat sempurna dan penjaga yang berpatroli di setiap sudut."Selamat datang, Kirana," terdengar suara tegas.Ibunda Ravino, Melisa Dananjaya, ternyata lebih ramah daripada yang kukira. Dia seorang wanita berusia lima puluhan, dengan rambut perak yang tertata rapi, dan mata biru yang sama persis dengan anaknya."Suatu kehormatan bertemu dengan Anda, Bu Melisa," kataku sambil mengulurkan tangan."Panggil aku Melisa saja," jawabnya, sambil menjabat tanganku dengan tegas. "Ravino sudah banyak bercerita tentangmu."Makan malamnya luar biasa. Melisa dan para tetua keluarga lainnya menunjukkan ketertarikan yang besar padaku. Kami berbicara tentang bisnis, masa depan, dan kemungkinan kerja sama."Kirana," kata Melisa, menarikku ke samping

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 15

    Seperti yang diduga, keesokan harinya seluruh dunia ilegal heboh.Keluarga Wiranegara menghadapi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan rahasia mereka terbongkar, dana mereka terputus, dan menghadapi serangan gabungan dari Keluarga Santosa dan Dananjaya, mereka berada di ambang kehancuran. Raka, orang yang bertanggung jawab harus menghadapi kemarahan para tetua keluarga.Dan Julisa menjadi orang buangan.Cuplikan video yang sudah diedit menyebar bak api, dan dia diejek serta dihina di mana pun dia pergi. Dia mencoba mencari perlindungan pada Prabu, tetapi Prabu secara terbuka menolaknya, mengklaim bahwa Julisa yang menggoda dirinya, yang justru membuatnya makin menjadi bahan tertawaan.Saat aku melihat beritanya, aku berkomentar kepada Ravino, "Prabu itu memang bajingan sejati. Menggunakan Julisa lalu membuangnya seperti sampah. Kupikir dia mungkin benar-benar punya perasaan untuk Julisa."Ravino mengangkat alisnya. "Jangan khawatir, Sayang. Aku sudah menelusurinya. Bisnis

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 14

    (Sudut Pandang Kirana)Pada malam gala itu, ruang dansa di Waldorf Astoria berkilauan.Aku melangkah masuk mengenakan setelan celana biru safir yang didesain khusus, dengan Ravino di sisiku. Dia mengenakan setelan hitam Valentino, seanggun seorang bangsawan dalam lukisan klasik."Sepertinya kita menjadi pusat perhatian," bisik Ravino di telingaku.Dia benar. Setiap mata di ruang dansa tertuju pada kami, tetapi tatapan itu lebih menilai daripada menyambut."Kirana, akhirnya kamu datang."Suara Julisa penuh sarkasme terdengar dari belakang. Aku menoleh dan melihatnya bersama Raka mendekat, keduanya berpakaian rapi, tampak seperti pasangan sempurna."Julisa, Raka." Aku mengangguk dengan nada datar."Kita perlu bicara," kata Raka, matanya menatap mataku, menyimpan badai emosi yang rumit di dalamnya. "Tentang tindakanmu belakangan ini."Para tamu di sekeliling tampak merasakan ketegangan itu dan menjadi tenang, mengalihkan perhatian mereka kepada kami."Ada apa yang perlu dibicarakan?" kata

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 13

    (Sudut Pandang Pihak Ketiga)Raka tidak tidur semalaman.Dia berguling-guling di tempat tidur, adegan di kereta gantung terus terulang di pikirannya. Kirana dan pria itu, cara mereka saling memandang. Tatapan itu dulu hanya miliknya.Dan Julisa ...."Julisa, bisa tidak jangan lihat ponselmu saat kita sedang makan?"Ini sudah ketiga kalinya minggu ini. Sejak mereka kembali dari pegunungan, Julisa terus-menerus menerima panggilan dan mengirim pesan saat kencan mereka, sama sekali mengabaikannya."Maaf, Sayang. Belakangan aku agak sibuk," jawab Julisa sambil menyingkirkan, matanya masih menempel pada layar.Raka menatapnya, dan bayangan Kirana muncul di pikirannya. Kirana tidak pernah terdistraksi saat mereka makan malam bersama. Bahkan di saat paling sibuknya, dia akan mendengarkan dengan saksama, mengingat setiap detail kecil yang Raka sebutkan."Lupakan saja," kata Raka sambil berdiri. "Aku pulang dulu."Saat Raka berjalan pergi, wajah Julisa menampakkan ekspresi meremehkan.Dia menyad

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 12

    (Sudut Pandang Kirana)Di kabin, rasa cemas setelah melihat Raka akhirnya memudar."Terima kasih," kataku, menoleh ke Ravino. "Kamu seharusnya tidak perlu membelaku tadi."Matanya yang hijau berkilau. "Mungkin aku punya motif yang egois.""Motif apa?"Ravino menarik napas dalam-dalam, seolah mengumpulkan keberaniannya. "Kirana, aku ingin secara resmi mengajukan sesuatu ...."Instingku ingin menghentikannya, tetapi dia terus melanjutkan."Aku sudah memperhatikanmu sejak kuliah. Bukan sekadar ketertarikan dangkal, melainkan kekaguman yang tulus." Suaranya lembut, tetapi setiap katanya terdengar jelas. "Studi kasusmu di sekolah bisnis, caramu menangani urusan keluarga, visimu .… Selama bertahun-tahun, aku telah melihat tak terhitung banyaknya orang yang disebut elite, tapi tak seorang pun pernah mencapai levelmu."Aku tertegun, sekaligus sedikit gelisah. Ekspresiku berubah dingin. "Kamu menyelidikiku?""Mengapa?"Dia menatapku, dan di mata hijaunya terpantul tekad yang putus asa. "Karena

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 11

    (Sudut Pandang Pihak Ketiga)Raka membuka pintu. Rumah itu sunyi senyap, seperti makam.Kirana benar-benar telah pergi. Pergi untuk selamanya.Hari itu, Raka menerima telepon dari pengacara keluarga."Tuan, Nona Kirana telah menarik seluruh dananya dari rekening bersama. Selain itu, dia menuntut bagian setengah dari harta bersama sesuai dengan yang tercantum dalam perjanjian .…"Tangan Raka bergetar. Akhirnya dia menyadari bahwa Kirana bukan sekadar sedang marah atau merajuk. Dia juga bukan sedang sok jual mahal.Kirana benar-benar akan meninggalkannya.Malam itu, Julisa datang untuk menghiburnya."Jangan buang air matamu untuk seseorang yang tidak pantas menerimanya, Raka," katanya sambil mengecup leher Raka. "Aku akan memberimu sesuatu yang jauh lebih baik."Raka tidak mendorongnya menjauh.Saat kecupan Julisa makin intens, dia memejamkan mata, berusaha melupakan bayangan Kirana yang berjalan pergi.Tubuh mereka saling terbelit di atas seprai. Julisa membisikkan kata-kata manis di te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status