Share

Bab 4

Author: Echo
Aku terbangun keesokan siang. Ruang rumah sakit itu sunyi, cahaya matahari menembus tirai jendela. Lengan kiriku terbalut gips, dan dadaku dibungkus perban tebal. Dokter bilang aku beruntung. Tidak ada organ vital yang terluka.

"Bu Kirana, Anda sudah bangun," kata seorang perawat saat masuk ke ruangan. "Apa Anda merasa tidak nyaman?"

"Di mana suamiku?" tanyaku, meski aku sudah tahu jawabannya.

"Tuan Raka tadi pagi sempat datang. Dia bilang ada urusan keluarga yang mendesak dan menyuruh beri tahu Anda dia akan kembali secepat mungkin."

Urusan keluarga? Alasan yang sama lagi ....

"Bu Kirana," kata dokter sambil masuk. "Kami butuh anggota keluarga untuk mengurus dokumen asuransi .…"

Aku menutup mataku, rasa lelah yang menembus tulang menyelimuti diriku.

"Dia bukan suamiku lagi," kataku tenang. "Kami sudah berakhir."

Dua puluh hari lagi, aku bisa pergi darinya. Dari semua ini.

Saat kata-kata itu keluar dari mulutku, pintu tiba-tiba terbuka.

Raka masuk terburu-buru, rambutnya acak-acakan, kemeja hitam semalam masih menempel di tubuhnya. Matanya merah, garis-garis kelelahan menghiasi tepi kelopak mata.

“Berakhir?” serunya, menatapku dengan campuran bingung dan marah. “Apa maksudmu … berakhir apa?”

Aku menatap Raka, membaca kebingungan dan kepanikan di wajahnya. Dokter dan perawat diam-diam pamit, meninggalkan kami berdua di ruangan yang seketika sunyi.

“Permainan itu,” kataku datar sambil menatap ponselku. “Sudah berakhir.”

Raka menghela napas lega, lalu cepat-cepat merapat ke sisi tempat tidur. “Kirana … kamu membuatku kaget setengah mati. Dokter bilang kamu cedera parah. Aku ….”

"Di mana kamu tadi malam?" Aku memotong ucapannya.

"Aku sudah bilang ke perawat, ada urusan keluarga …."

"Berhenti berbohong, Raka," kataku, menatap matanya. "Badanmu bau parfum dia."

Wajahnya memerah tetapi dia berusaha menutupi. "Ya, kami sedang bicarakan urusan di klub, kamu tahu bagaimana pertemuan itu .…"

Aku tak mau mendengarnya. Bayangan kecelakaan itu terpatri di pikiranku. Dia menyelamatkan Julisa tanpa sekalipun menoleh padaku.

"Kirana, aku tahu kamu marah," kata Raka, duduk di kursi di samping tempat tidurku. "Aku ingin menebusnya. Apa yang kamu mau? Mobil baru? Aku bisa belikan kamu Lamborghini yang lebih bagus daripada Maserati."

"Tidak perlu."

"Kalau begitu … bisnis senjatamu butuh dana, 'kan? Aku bisa pindahkan sedikit uang dari rekening keluarga .…"

"Tidak perlu."

Raka tampak kalah. "Kalau begitu, katakan padaku apa yang kamu inginkan. Perhiasan? Properti? Apa?"

Aku hanya menatapnya, pria yang telah tidur di sisiku selama tiga tahun. Dia malah sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan.

Sebenarnya sederhana. Aku hanya menginginkan hatinya. Dan itu adalah satu-satunya hal yang tak pernah bisa dia berikan padaku.

"Aku tidak menginginkan apa-apa, Raka. Pergilah. Aku ingin beristirahat."

Dia duduk sebentar lagi, tampak seperti ingin berdebat, tetapi akhirnya dia bangkit.

"Baik. Istirahatlah dulu. Aku akan datang menemuimu malam ini."

Pintu tertutup, dan ruangan kembali sunyi.

...

Aku terbaring di rumah sakit lebih dari sepuluh hari hanya untuk dibereskan luka-lukaku. Hari aku keluar, Raka menawarkan diri untuk menjemputku. Aku menolaknya.

Aku sudah meminta Merry mengurus serah terima untukku secara diam-diam. Penerbanganku tiga hari lagi. Sekarang tinggal satu urusan terakhir sebelum aku pergi.

Aku naik taksi kembali ke apartemen kami di pusat kota.

Begitu aku melangkah masuk, dekorasi yang familier terasa menyesakkan. Setiap benda adalah pengingat dari pernikahan palsu ini. Foto kami di meja ruang tamu, barang-barangnya di meja rias, vas dari bulan madu kami di Itala.

Aku mulai dengan foto-foto itu. Aku menariknya keluar dari bingkainya, satu per satu, menatap gadis yang masih percaya pada dongeng. Di foto pernikahan kami, aku tersenyum lebar, sementara dia dengan senyum sopan dan dingin. Foto ulang tahunku, lenganku melingkari pinggangnya, tapi matanya menatap ke arah lain.

Setiap foto menceritakan kisah yang sama tentang cintaku yang sepihak.

Aku merobeknya berkeping-keping dan membuangnya ke dalam kantong sampah.

Selanjutnya adalah hadiah-hadiah. Jam tangan Patek Philippe yang dia berikan padaku, seharga 1,5 miliar. Kalung yang aku berikan padanya, yang hanya dia pakai sekali. Semua hadiah itu kini terasa seperti lelucon yang kejam.

Di dalam meja malam, aku menemukan surat cinta yang ditulis Raka untukku sebelum pernikahan kami. Di atas kertas yang menguning, dengan tulisan tangannya yang elegan, tertulis:

[Kirana tercinta, terima kasih telah hadir dalam hidupku. Aku berjanji akan mencintaimu selamanya, sampai maut memisahkan kita .…]

Tawa dingin keluar dari bibirku. Mencintaiku selamanya?

Aku merobek surat itu menjadi potongan berkeping-keping.

Tepat saat aku hendak membuang sampah, ponselku berdering.

"Nona Kirana!" Suara Toni, pengawal pribadi Raka, terdengar panik. "Bos! Dia dalam bahaya!"

Tanganku membeku di atas kantong sampah.

"Ada apa?"

"Dia di klub Keluarga Santosa. Dia berkelahi dengan Prabu. Ini serius. Kamu satu-satunya yang bisa kutelepon .…"

Keluarga Santosa. Musuh bebuyutanku. Prabu adalah putra bos mafia yang mudah terpancing emosi, salah satu pria paling berbahaya di kota ini.

"Apa yang terjadi?"

"Mereka bertengkar karena seorang wanita. Aku tidak bisa mendengar jelas, tapi sekarang Prabu sudah mengeluarkan tantangan .…"

Keributan pecah, lalu aku mendengar suara Prabu.

"Karena kita berdua menginginkannya, biarkan nasib yang menentukan!"

Lalu terdengar suara Raka. "Prabu, apa yang mau kamu lakukan?"

"Russian Roulette!" teriak Prabu. "Yang kalah tidak boleh mendekati Julisa lagi!"

Telepon dipenuhi suara gaduh, lalu suara Toni terdengar kembali. "Nona Kirana, kamu harus datang! Dia terima tantangan Prabu!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 16

    "Tenang, Kirana," kata Ravino sambil menggenggam tanganku. "Ibuku akan menyukaimu."Mobil itu melaju perlahan memasuki kediaman Keluarga Dananjaya. Tempat itu bahkan lebih megah daripada yang kubayangkan. Sebuah rumah besar bergaya klasik, dengan taman yang terawat sempurna dan penjaga yang berpatroli di setiap sudut."Selamat datang, Kirana," terdengar suara tegas.Ibunda Ravino, Melisa Dananjaya, ternyata lebih ramah daripada yang kukira. Dia seorang wanita berusia lima puluhan, dengan rambut perak yang tertata rapi, dan mata biru yang sama persis dengan anaknya."Suatu kehormatan bertemu dengan Anda, Bu Melisa," kataku sambil mengulurkan tangan."Panggil aku Melisa saja," jawabnya, sambil menjabat tanganku dengan tegas. "Ravino sudah banyak bercerita tentangmu."Makan malamnya luar biasa. Melisa dan para tetua keluarga lainnya menunjukkan ketertarikan yang besar padaku. Kami berbicara tentang bisnis, masa depan, dan kemungkinan kerja sama."Kirana," kata Melisa, menarikku ke samping

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 15

    Seperti yang diduga, keesokan harinya seluruh dunia ilegal heboh.Keluarga Wiranegara menghadapi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan rahasia mereka terbongkar, dana mereka terputus, dan menghadapi serangan gabungan dari Keluarga Santosa dan Dananjaya, mereka berada di ambang kehancuran. Raka, orang yang bertanggung jawab harus menghadapi kemarahan para tetua keluarga.Dan Julisa menjadi orang buangan.Cuplikan video yang sudah diedit menyebar bak api, dan dia diejek serta dihina di mana pun dia pergi. Dia mencoba mencari perlindungan pada Prabu, tetapi Prabu secara terbuka menolaknya, mengklaim bahwa Julisa yang menggoda dirinya, yang justru membuatnya makin menjadi bahan tertawaan.Saat aku melihat beritanya, aku berkomentar kepada Ravino, "Prabu itu memang bajingan sejati. Menggunakan Julisa lalu membuangnya seperti sampah. Kupikir dia mungkin benar-benar punya perasaan untuk Julisa."Ravino mengangkat alisnya. "Jangan khawatir, Sayang. Aku sudah menelusurinya. Bisnis

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 14

    (Sudut Pandang Kirana)Pada malam gala itu, ruang dansa di Waldorf Astoria berkilauan.Aku melangkah masuk mengenakan setelan celana biru safir yang didesain khusus, dengan Ravino di sisiku. Dia mengenakan setelan hitam Valentino, seanggun seorang bangsawan dalam lukisan klasik."Sepertinya kita menjadi pusat perhatian," bisik Ravino di telingaku.Dia benar. Setiap mata di ruang dansa tertuju pada kami, tetapi tatapan itu lebih menilai daripada menyambut."Kirana, akhirnya kamu datang."Suara Julisa penuh sarkasme terdengar dari belakang. Aku menoleh dan melihatnya bersama Raka mendekat, keduanya berpakaian rapi, tampak seperti pasangan sempurna."Julisa, Raka." Aku mengangguk dengan nada datar."Kita perlu bicara," kata Raka, matanya menatap mataku, menyimpan badai emosi yang rumit di dalamnya. "Tentang tindakanmu belakangan ini."Para tamu di sekeliling tampak merasakan ketegangan itu dan menjadi tenang, mengalihkan perhatian mereka kepada kami."Ada apa yang perlu dibicarakan?" kata

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 13

    (Sudut Pandang Pihak Ketiga)Raka tidak tidur semalaman.Dia berguling-guling di tempat tidur, adegan di kereta gantung terus terulang di pikirannya. Kirana dan pria itu, cara mereka saling memandang. Tatapan itu dulu hanya miliknya.Dan Julisa ...."Julisa, bisa tidak jangan lihat ponselmu saat kita sedang makan?"Ini sudah ketiga kalinya minggu ini. Sejak mereka kembali dari pegunungan, Julisa terus-menerus menerima panggilan dan mengirim pesan saat kencan mereka, sama sekali mengabaikannya."Maaf, Sayang. Belakangan aku agak sibuk," jawab Julisa sambil menyingkirkan, matanya masih menempel pada layar.Raka menatapnya, dan bayangan Kirana muncul di pikirannya. Kirana tidak pernah terdistraksi saat mereka makan malam bersama. Bahkan di saat paling sibuknya, dia akan mendengarkan dengan saksama, mengingat setiap detail kecil yang Raka sebutkan."Lupakan saja," kata Raka sambil berdiri. "Aku pulang dulu."Saat Raka berjalan pergi, wajah Julisa menampakkan ekspresi meremehkan.Dia menyad

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 12

    (Sudut Pandang Kirana)Di kabin, rasa cemas setelah melihat Raka akhirnya memudar."Terima kasih," kataku, menoleh ke Ravino. "Kamu seharusnya tidak perlu membelaku tadi."Matanya yang hijau berkilau. "Mungkin aku punya motif yang egois.""Motif apa?"Ravino menarik napas dalam-dalam, seolah mengumpulkan keberaniannya. "Kirana, aku ingin secara resmi mengajukan sesuatu ...."Instingku ingin menghentikannya, tetapi dia terus melanjutkan."Aku sudah memperhatikanmu sejak kuliah. Bukan sekadar ketertarikan dangkal, melainkan kekaguman yang tulus." Suaranya lembut, tetapi setiap katanya terdengar jelas. "Studi kasusmu di sekolah bisnis, caramu menangani urusan keluarga, visimu .… Selama bertahun-tahun, aku telah melihat tak terhitung banyaknya orang yang disebut elite, tapi tak seorang pun pernah mencapai levelmu."Aku tertegun, sekaligus sedikit gelisah. Ekspresiku berubah dingin. "Kamu menyelidikiku?""Mengapa?"Dia menatapku, dan di mata hijaunya terpantul tekad yang putus asa. "Karena

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 11

    (Sudut Pandang Pihak Ketiga)Raka membuka pintu. Rumah itu sunyi senyap, seperti makam.Kirana benar-benar telah pergi. Pergi untuk selamanya.Hari itu, Raka menerima telepon dari pengacara keluarga."Tuan, Nona Kirana telah menarik seluruh dananya dari rekening bersama. Selain itu, dia menuntut bagian setengah dari harta bersama sesuai dengan yang tercantum dalam perjanjian .…"Tangan Raka bergetar. Akhirnya dia menyadari bahwa Kirana bukan sekadar sedang marah atau merajuk. Dia juga bukan sedang sok jual mahal.Kirana benar-benar akan meninggalkannya.Malam itu, Julisa datang untuk menghiburnya."Jangan buang air matamu untuk seseorang yang tidak pantas menerimanya, Raka," katanya sambil mengecup leher Raka. "Aku akan memberimu sesuatu yang jauh lebih baik."Raka tidak mendorongnya menjauh.Saat kecupan Julisa makin intens, dia memejamkan mata, berusaha melupakan bayangan Kirana yang berjalan pergi.Tubuh mereka saling terbelit di atas seprai. Julisa membisikkan kata-kata manis di te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status