Share

Bab 3

Author: Echo
Percakapan di dalam terus berlanjut.

"Julisa, ceritakan pada kami hal paling gila yang pernah Raka lakukan untukmu."

Suara Julisa terdengar ceria penuh antusiasme. "Paling gila? Banyak sekali." Dia mulai menghitung dengan jarinya. "Tiga tahun lalu, dia memukuli seorang pria sampai babak belur karena pria itu menatapku dengan cara yang salah. Dan dia dulu sering mentransfer uang dari rekeningnya sendiri untuk investasiku. Sekali transfer 750 juta."

Sebuah kemarahan dingin membeku di dadaku.

“Apa lagi?” Seseorang mendesak.

Julisa tersenyum puas, matanya bersinar penuh kemenangan. “Setahun terakhir, dia terbang ke Vantros setiap minggu hanya untuk menemuiku. Berangkat Kamis malam, kembali ke Vargas Minggu pagi. Katanya ke Kirana itu urusan bisnis … tapi kenyataannya ....”

Dia tak perlu berkata lebih banyak. Semua orang tertawa, paham maksudnya tanpa harus dijelaskan.

Setiap Kamis.

Aku sering memikirkan perjalanan bisnis Raka yang begitu sering. Selalu dari Kamis sampai Minggu. Dia bilang itu untuk urusan kerja, dan aku tak pernah menaruh curiga sedikit pun.

“Tapi bagian terbaiknya ....” Julisa melanjutkan dengan nada sinis. “Adalah setiap kali pulang, dia selalu membawa hadiah untuk Kirana. Semua jam tangan mahal, kalung, gelang .… Semua itu cuma sesajen untuk menutupi rasa bersalahnya.”

Aku teringat laci penuh hadiah yang entah bagaimana tiba-tiba muncul. “Aku melihat ini, langsung kepikiran kamu,” begitu katanya, selalu dengan nada itu, ringan, tetapi selalu membuat hatiku hangat.

"Dia bahkan .…"

Aku sudah muak mendengar. Aku mendorong pintu dan melangkah masuk.

Ruangan itu seketika hening. Julisa perlahan menoleh ke arahku, senyum menantang tersungging di wajahnya, seolah dia tahu aku sudah ada di sana sejak awal.

Aku menatap wajah-wajah di sekitar meja. Selama tiga tahun, aku pikir aku sudah mendapatkan rasa hormat mereka. Sekarang, mereka malah memperlakukan pernikahanku seolah lelucon.

Tepat ketika keheningan itu menjadi tak tertahankan, pintu terbuka lagi.

Raka terburu-buru masuk. Dia tak melihatku yang membelakangi pintu dan langsung menuju Julisa.

"Julisa, pestanya sebentar lagi dimulai. Aku datang menjemputmu .…"

Lalu dia melihatku.

"Kirana, apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya sambil memaksakan senyum. "Kupikir kamu ada di dermaga hari ini."

Aku perlahan menoleh, menatap pria yang telah kucintai selama tiga tahun.

"Ya," kataku, dengan suara yang menakutkan dalam ketenangannya. "Dan kupikir kamu punya urusan yang harus diselesaikan hari ini."

Aku pun berbalik dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi.

Udara di lorong terasa lebih segar, tetapi beban yang menyesakkan di dadaku tetap ada. Tiga tahun pernikahan ternyata hanyalah sebuah kebohongan yang direncanakan sejak awal.

"Kirana, tunggu!"

Sepatu pantofel Raka berderak di lantai yang mengilap di belakangku. Aku tidak memperlambat langkah.

"Kirana, biarkan aku jelaskan .…" Dia berhasil mengejarku, terengah-engah, lalu meraih lenganku.

Aku meringis dan menjauh dari sentuhannya.

"Jelaskan apa?" kataku, menekan tombol lift. "Perjalanan mingguanmu ke Vantros? Atau uang yang kamu alihkan dari rekening bersama kita?"

Wajah Raka memucat.

"Aku bisa jelaskan. Bukan seperti yang kamu pikirkan, aku bersumpah .…"

Pintu lift terbuka. Aku melangkah masuk. Raka bergerak mengikuti, tetapi suara Julisa terdengar.

"Raka, jangan buang waktumu untuk dia!" teriaknya sambil melangkah menuju kami. "Pesta malam ini akan luar biasa. Kamu pasti tidak mau ketinggalan, 'kan?"

Aku menatap Raka, menunggu.

Dia ragu-ragu, kakinya menggantung di ambang pintu. Tapi dia tidak masuk.

"Kirana, bisakah kita bicarakan ini besok? Aku .…"

Aku langsung menekan tombol tutup pintu.

...

Aku duduk di kursi pengemudi Maserati-ku dan menyalakan sebatang rokok, memandang lampu-lampu kota yang berkelap-kelip menjadi kabur. Lampu neon berkedip, mobil-mobil melintas cepat, semua orang menuju suatu tempat. Hanya aku yang tak punya tujuan.

Aku menyalakan mesin, bersiap kembali ke apartemenku sendiri yang tidak berbau cologne Raka dan kasih sayang palsunya.

"Kirana!"

Suara Julisa terdengar dari luar jendela mobilku.

Aku menurunkan kaca dan menatapnya dengan dingin.

"Kamu dengar apa yang kukatakan di sana, 'kan?" tanyanya sambil bersandar pada bingkai jendela. "Raka tidak pernah mencintaimu. Sejak awal, selalu aku."

Dia tertawa. Suaranya kejam dan menusuk. "Setiap kali dia tidur denganmu, dia memikirkanku! Dia sendiri yang mengatakannya padaku!"

Aku mendorong pintu mobil hingga terbuka, siap menyeret perempuan jalang itu keluar dengan menjambak rambutnya.

Tepat saat itu, klakson mobil meraung keras.

Sebuah truk yang tak terkendali meluncur ke arah trotoar. Sopirnya mabuk.

Julisa berdiri tepat di jalurnya tanpa sadar.

Waktu seolah melambat.

Aku melihat Raka menerobos keluar dari pintu klub.

"Julisa!" teriaknya.

Detik berikutnya, Raka berlari kencang ke arah Julisa, mendorongnya dengan sekuat tenaga sehingga keduanya terlempar ke tempat yang aman.

Aku masih berdiri di samping pintu mobil yang terbuka.

Truk itu menabrak Maserati. Kekuatan benturannya membuatku terlempar ke belakang. Aku merasakan tulang rusukku retak saat darah hangat memenuhi mulutku.

Saat aku terbaring di tanah, hal terakhir yang kulihat adalah Raka memeluk erat Julisa, memeriksa lukanya. Air mata menggenang di matanya, sambil terus mengulang, "Kamu baik-baik saja? Kamu baik-baik saja?"

Tak seorang pun menoleh padaku.

Bahkan di saat hidup dan mati, dia tetap tidak memilihku.

Raungan sirene makin dekat saat aku perlahan tenggelam dalam ketidaksadaran ....
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 16

    "Tenang, Kirana," kata Ravino sambil menggenggam tanganku. "Ibuku akan menyukaimu."Mobil itu melaju perlahan memasuki kediaman Keluarga Dananjaya. Tempat itu bahkan lebih megah daripada yang kubayangkan. Sebuah rumah besar bergaya klasik, dengan taman yang terawat sempurna dan penjaga yang berpatroli di setiap sudut."Selamat datang, Kirana," terdengar suara tegas.Ibunda Ravino, Melisa Dananjaya, ternyata lebih ramah daripada yang kukira. Dia seorang wanita berusia lima puluhan, dengan rambut perak yang tertata rapi, dan mata biru yang sama persis dengan anaknya."Suatu kehormatan bertemu dengan Anda, Bu Melisa," kataku sambil mengulurkan tangan."Panggil aku Melisa saja," jawabnya, sambil menjabat tanganku dengan tegas. "Ravino sudah banyak bercerita tentangmu."Makan malamnya luar biasa. Melisa dan para tetua keluarga lainnya menunjukkan ketertarikan yang besar padaku. Kami berbicara tentang bisnis, masa depan, dan kemungkinan kerja sama."Kirana," kata Melisa, menarikku ke samping

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 15

    Seperti yang diduga, keesokan harinya seluruh dunia ilegal heboh.Keluarga Wiranegara menghadapi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan rahasia mereka terbongkar, dana mereka terputus, dan menghadapi serangan gabungan dari Keluarga Santosa dan Dananjaya, mereka berada di ambang kehancuran. Raka, orang yang bertanggung jawab harus menghadapi kemarahan para tetua keluarga.Dan Julisa menjadi orang buangan.Cuplikan video yang sudah diedit menyebar bak api, dan dia diejek serta dihina di mana pun dia pergi. Dia mencoba mencari perlindungan pada Prabu, tetapi Prabu secara terbuka menolaknya, mengklaim bahwa Julisa yang menggoda dirinya, yang justru membuatnya makin menjadi bahan tertawaan.Saat aku melihat beritanya, aku berkomentar kepada Ravino, "Prabu itu memang bajingan sejati. Menggunakan Julisa lalu membuangnya seperti sampah. Kupikir dia mungkin benar-benar punya perasaan untuk Julisa."Ravino mengangkat alisnya. "Jangan khawatir, Sayang. Aku sudah menelusurinya. Bisnis

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 14

    (Sudut Pandang Kirana)Pada malam gala itu, ruang dansa di Waldorf Astoria berkilauan.Aku melangkah masuk mengenakan setelan celana biru safir yang didesain khusus, dengan Ravino di sisiku. Dia mengenakan setelan hitam Valentino, seanggun seorang bangsawan dalam lukisan klasik."Sepertinya kita menjadi pusat perhatian," bisik Ravino di telingaku.Dia benar. Setiap mata di ruang dansa tertuju pada kami, tetapi tatapan itu lebih menilai daripada menyambut."Kirana, akhirnya kamu datang."Suara Julisa penuh sarkasme terdengar dari belakang. Aku menoleh dan melihatnya bersama Raka mendekat, keduanya berpakaian rapi, tampak seperti pasangan sempurna."Julisa, Raka." Aku mengangguk dengan nada datar."Kita perlu bicara," kata Raka, matanya menatap mataku, menyimpan badai emosi yang rumit di dalamnya. "Tentang tindakanmu belakangan ini."Para tamu di sekeliling tampak merasakan ketegangan itu dan menjadi tenang, mengalihkan perhatian mereka kepada kami."Ada apa yang perlu dibicarakan?" kata

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 13

    (Sudut Pandang Pihak Ketiga)Raka tidak tidur semalaman.Dia berguling-guling di tempat tidur, adegan di kereta gantung terus terulang di pikirannya. Kirana dan pria itu, cara mereka saling memandang. Tatapan itu dulu hanya miliknya.Dan Julisa ...."Julisa, bisa tidak jangan lihat ponselmu saat kita sedang makan?"Ini sudah ketiga kalinya minggu ini. Sejak mereka kembali dari pegunungan, Julisa terus-menerus menerima panggilan dan mengirim pesan saat kencan mereka, sama sekali mengabaikannya."Maaf, Sayang. Belakangan aku agak sibuk," jawab Julisa sambil menyingkirkan, matanya masih menempel pada layar.Raka menatapnya, dan bayangan Kirana muncul di pikirannya. Kirana tidak pernah terdistraksi saat mereka makan malam bersama. Bahkan di saat paling sibuknya, dia akan mendengarkan dengan saksama, mengingat setiap detail kecil yang Raka sebutkan."Lupakan saja," kata Raka sambil berdiri. "Aku pulang dulu."Saat Raka berjalan pergi, wajah Julisa menampakkan ekspresi meremehkan.Dia menyad

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 12

    (Sudut Pandang Kirana)Di kabin, rasa cemas setelah melihat Raka akhirnya memudar."Terima kasih," kataku, menoleh ke Ravino. "Kamu seharusnya tidak perlu membelaku tadi."Matanya yang hijau berkilau. "Mungkin aku punya motif yang egois.""Motif apa?"Ravino menarik napas dalam-dalam, seolah mengumpulkan keberaniannya. "Kirana, aku ingin secara resmi mengajukan sesuatu ...."Instingku ingin menghentikannya, tetapi dia terus melanjutkan."Aku sudah memperhatikanmu sejak kuliah. Bukan sekadar ketertarikan dangkal, melainkan kekaguman yang tulus." Suaranya lembut, tetapi setiap katanya terdengar jelas. "Studi kasusmu di sekolah bisnis, caramu menangani urusan keluarga, visimu .… Selama bertahun-tahun, aku telah melihat tak terhitung banyaknya orang yang disebut elite, tapi tak seorang pun pernah mencapai levelmu."Aku tertegun, sekaligus sedikit gelisah. Ekspresiku berubah dingin. "Kamu menyelidikiku?""Mengapa?"Dia menatapku, dan di mata hijaunya terpantul tekad yang putus asa. "Karena

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 11

    (Sudut Pandang Pihak Ketiga)Raka membuka pintu. Rumah itu sunyi senyap, seperti makam.Kirana benar-benar telah pergi. Pergi untuk selamanya.Hari itu, Raka menerima telepon dari pengacara keluarga."Tuan, Nona Kirana telah menarik seluruh dananya dari rekening bersama. Selain itu, dia menuntut bagian setengah dari harta bersama sesuai dengan yang tercantum dalam perjanjian .…"Tangan Raka bergetar. Akhirnya dia menyadari bahwa Kirana bukan sekadar sedang marah atau merajuk. Dia juga bukan sedang sok jual mahal.Kirana benar-benar akan meninggalkannya.Malam itu, Julisa datang untuk menghiburnya."Jangan buang air matamu untuk seseorang yang tidak pantas menerimanya, Raka," katanya sambil mengecup leher Raka. "Aku akan memberimu sesuatu yang jauh lebih baik."Raka tidak mendorongnya menjauh.Saat kecupan Julisa makin intens, dia memejamkan mata, berusaha melupakan bayangan Kirana yang berjalan pergi.Tubuh mereka saling terbelit di atas seprai. Julisa membisikkan kata-kata manis di te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status