Share

Bab 5

Author: Echo
Aku teringat pada berkas yang dulu disusun Merry untukku.

Tiga tahun lalu, alasan Raka dan Julisa tak pernah bersatu adalah karena dia bertemu Prabu, seorang pria yang punya kekuasaan lebih dari Raka.

Dia meninggalkan Raka demi Prabu, menghabiskan tiga tahun di Vantros bersamanya. Satu-satunya alasan dia kembali sekarang adalah karena keluarga Prabu tidak membiarkannya menikahi pria itu. Mereka sempat bertengkar hebat, jadi dia lari kembali ke mantannya, berharap Raka mau menikahinya sebagai bentuk balas dendam terakhir terhadap Prabu.

Setelah ragu cukup lama, aku meraih kunci mobilku, luka di sisi tubuhku berdenyut nyeri.

Aku tidak tahu apa yang kuharapkan untuk kulihat. Mungkin aku hanya perlu melihatnya mempertaruhkan nyawanya demi perempuan lain untuk terakhir kalinya. Mungkin itu akhirnya akan membunuh sisa harapan terakhir yang masih kupunya.

Russian roulette. Duel paling kejam. Satu peluru di dalam revolver yang berisi enam kamar. Mereka bergiliran sampai seseorang mati. Prabu arogan dan brutal. Raka tidak akan punya peluang.

Aku baru saja sampai di garasi parkir ketika sebuah Bentley hitam menghalangi jalanku. Julisa berjalan keluar, senyum menyebalkan penuh kesombongan terpampang di wajahnya.

"Kirana. Mau ke mana terburu-buru begitu?"

"Minggir, Julisa," kataku sambil berusaha menuju mobilku.

"Mau menyelamatkan suamimu?" ejeknya. "Kamu pikir dia butuh diselamatkan?"

Aku berhenti. "Maksudmu apa?"

"Ketika Raka terima tantangan itu, tahukah kamu apa yang dia katakan?" Julisa menyalakan cerutu tipisnya. "Dia berkata, "Untuk Julisa, aku akan melakukan apa saja."

"Dia gila. Prabu bisa membunuhnya."

"Mungkin saja," kata Julisa sambil mengembuskan asap. "Tapi itulah cinta, Kirana. Suamimu rela mati demi wanita lain."

Kata-kata itu menusuk dadaku.

"Dan kamu?" lanjutnya. "Kamu bagaimana? Masih menjilat luka di rumah sakit?"

"Wanita sialan .…" Aku mengepalkan tinjuku.

"Tenang, Kirana. Hanya menyatakan fakta." Julisa mengadang jalanku. "Selain itu, aku mau coba sedikit eksperimen."

Dia merampas ponselku dari tanganku dan menekan nomor Raka sebelum aku sempat bereaksi.

"Julisa, apa-apaan ini ...."

Dia menempelkan jarinya di bibir, lalu menyalakan pengeras suara.

Telepon berdering beberapa kali sebelum Raka mengangkatnya.

"Kirana?" Suara Raka terdengar jauh, teredam oleh keramaian di sekitarnya.

Julisa menatapku dan mengangguk, memberi isyarat agar aku berbicara.

"Raka, aku dengar kamu sedang di klub milik Keluarga Santosa .…"

"Aku sedang sibuk sekarang, Kirana," jawabnya dengan nada tidak sabar. "Apa pun itu, kita bisa bicarakan nanti saat aku sampai di rumah."

Julisa mendekat lalu berbisik di telingaku, "Katakan padanya kamu diserang. Bilang kamu sekarat."

Aku ragu sejenak, tetapi akhirnya aku mengatakannya. "Raka, aku baru saja diserang, dan sekarang .…"

"Apa?" Suaranya menegang. "Kamu tidak apa-apa, 'kan?"

Jantungku berdegup kencang. Mungkin dia memang peduli.

"Ini parah. Aku mungkin perlu .…"

"Kirana, apa pun yang terjadi, kamu harus bertahan," potong Raka. "Tapi aku benar-benar tidak bisa pergi sekarang. Ada hal penting yang harus aku urus. Pergilah ke rumah sakit. Aku akan datang nanti."

Julisa memberiku senyum kemenangan.

"Raka, permainan itu berbahaya, kamu tidak bisa .…"

"Kirana, aku sudah bilang, aku sibuk!" Suaranya terdengar kasar karena kesal. "Ya Tuhan, kamu selalu menelepon di saat yang paling buruk. Aku tutup teleponnya. Nanti kita baru bicara."

Klik.

Dia menutup telepon.

Udara jadi hening, satu-satunya suara hanyalah deru lalu lintas yang jauh.

Julisa perlahan mengembalikan ponselku. "Kamu dengar itu, Kirana? Suamimu menganggap nyawamu kurang penting daripada permainan yang dia mainkan untukku."

Aku mengambil ponsel itu. Beratnya terasa seperti 500 kg.

"Ini kenyataannya," kata Julisa sambil menepuk pundakku. "Raka memilih mati demi aku, bukan hidup demi kamu."

Aku ingin membantah. Aku ingin mengatakan bahwa dia hanya bertindak impulsif, bahwa jauh di lubuk hatinya dia masih mencintaiku. Namun, panggilan telepon itu sudah menjelaskan segalanya.

Antara "Kirana dalam bahaya maut" dan "Russian Roulette untuk Julisa," dia tidak ragu sedikit pun.

Tanganku yang tadi terangkat untuk membantah, akhirnya jatuh lemas di samping tubuhku. Aku pun menatap wajah Julisa yang penuh kemenangan dan berbisik, "Kamu menang."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 16

    "Tenang, Kirana," kata Ravino sambil menggenggam tanganku. "Ibuku akan menyukaimu."Mobil itu melaju perlahan memasuki kediaman Keluarga Dananjaya. Tempat itu bahkan lebih megah daripada yang kubayangkan. Sebuah rumah besar bergaya klasik, dengan taman yang terawat sempurna dan penjaga yang berpatroli di setiap sudut."Selamat datang, Kirana," terdengar suara tegas.Ibunda Ravino, Melisa Dananjaya, ternyata lebih ramah daripada yang kukira. Dia seorang wanita berusia lima puluhan, dengan rambut perak yang tertata rapi, dan mata biru yang sama persis dengan anaknya."Suatu kehormatan bertemu dengan Anda, Bu Melisa," kataku sambil mengulurkan tangan."Panggil aku Melisa saja," jawabnya, sambil menjabat tanganku dengan tegas. "Ravino sudah banyak bercerita tentangmu."Makan malamnya luar biasa. Melisa dan para tetua keluarga lainnya menunjukkan ketertarikan yang besar padaku. Kami berbicara tentang bisnis, masa depan, dan kemungkinan kerja sama."Kirana," kata Melisa, menarikku ke samping

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 15

    Seperti yang diduga, keesokan harinya seluruh dunia ilegal heboh.Keluarga Wiranegara menghadapi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan rahasia mereka terbongkar, dana mereka terputus, dan menghadapi serangan gabungan dari Keluarga Santosa dan Dananjaya, mereka berada di ambang kehancuran. Raka, orang yang bertanggung jawab harus menghadapi kemarahan para tetua keluarga.Dan Julisa menjadi orang buangan.Cuplikan video yang sudah diedit menyebar bak api, dan dia diejek serta dihina di mana pun dia pergi. Dia mencoba mencari perlindungan pada Prabu, tetapi Prabu secara terbuka menolaknya, mengklaim bahwa Julisa yang menggoda dirinya, yang justru membuatnya makin menjadi bahan tertawaan.Saat aku melihat beritanya, aku berkomentar kepada Ravino, "Prabu itu memang bajingan sejati. Menggunakan Julisa lalu membuangnya seperti sampah. Kupikir dia mungkin benar-benar punya perasaan untuk Julisa."Ravino mengangkat alisnya. "Jangan khawatir, Sayang. Aku sudah menelusurinya. Bisnis

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 14

    (Sudut Pandang Kirana)Pada malam gala itu, ruang dansa di Waldorf Astoria berkilauan.Aku melangkah masuk mengenakan setelan celana biru safir yang didesain khusus, dengan Ravino di sisiku. Dia mengenakan setelan hitam Valentino, seanggun seorang bangsawan dalam lukisan klasik."Sepertinya kita menjadi pusat perhatian," bisik Ravino di telingaku.Dia benar. Setiap mata di ruang dansa tertuju pada kami, tetapi tatapan itu lebih menilai daripada menyambut."Kirana, akhirnya kamu datang."Suara Julisa penuh sarkasme terdengar dari belakang. Aku menoleh dan melihatnya bersama Raka mendekat, keduanya berpakaian rapi, tampak seperti pasangan sempurna."Julisa, Raka." Aku mengangguk dengan nada datar."Kita perlu bicara," kata Raka, matanya menatap mataku, menyimpan badai emosi yang rumit di dalamnya. "Tentang tindakanmu belakangan ini."Para tamu di sekeliling tampak merasakan ketegangan itu dan menjadi tenang, mengalihkan perhatian mereka kepada kami."Ada apa yang perlu dibicarakan?" kata

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 13

    (Sudut Pandang Pihak Ketiga)Raka tidak tidur semalaman.Dia berguling-guling di tempat tidur, adegan di kereta gantung terus terulang di pikirannya. Kirana dan pria itu, cara mereka saling memandang. Tatapan itu dulu hanya miliknya.Dan Julisa ...."Julisa, bisa tidak jangan lihat ponselmu saat kita sedang makan?"Ini sudah ketiga kalinya minggu ini. Sejak mereka kembali dari pegunungan, Julisa terus-menerus menerima panggilan dan mengirim pesan saat kencan mereka, sama sekali mengabaikannya."Maaf, Sayang. Belakangan aku agak sibuk," jawab Julisa sambil menyingkirkan, matanya masih menempel pada layar.Raka menatapnya, dan bayangan Kirana muncul di pikirannya. Kirana tidak pernah terdistraksi saat mereka makan malam bersama. Bahkan di saat paling sibuknya, dia akan mendengarkan dengan saksama, mengingat setiap detail kecil yang Raka sebutkan."Lupakan saja," kata Raka sambil berdiri. "Aku pulang dulu."Saat Raka berjalan pergi, wajah Julisa menampakkan ekspresi meremehkan.Dia menyad

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 12

    (Sudut Pandang Kirana)Di kabin, rasa cemas setelah melihat Raka akhirnya memudar."Terima kasih," kataku, menoleh ke Ravino. "Kamu seharusnya tidak perlu membelaku tadi."Matanya yang hijau berkilau. "Mungkin aku punya motif yang egois.""Motif apa?"Ravino menarik napas dalam-dalam, seolah mengumpulkan keberaniannya. "Kirana, aku ingin secara resmi mengajukan sesuatu ...."Instingku ingin menghentikannya, tetapi dia terus melanjutkan."Aku sudah memperhatikanmu sejak kuliah. Bukan sekadar ketertarikan dangkal, melainkan kekaguman yang tulus." Suaranya lembut, tetapi setiap katanya terdengar jelas. "Studi kasusmu di sekolah bisnis, caramu menangani urusan keluarga, visimu .… Selama bertahun-tahun, aku telah melihat tak terhitung banyaknya orang yang disebut elite, tapi tak seorang pun pernah mencapai levelmu."Aku tertegun, sekaligus sedikit gelisah. Ekspresiku berubah dingin. "Kamu menyelidikiku?""Mengapa?"Dia menatapku, dan di mata hijaunya terpantul tekad yang putus asa. "Karena

  • Kali Kesembilan Dia Pergi   Bab 11

    (Sudut Pandang Pihak Ketiga)Raka membuka pintu. Rumah itu sunyi senyap, seperti makam.Kirana benar-benar telah pergi. Pergi untuk selamanya.Hari itu, Raka menerima telepon dari pengacara keluarga."Tuan, Nona Kirana telah menarik seluruh dananya dari rekening bersama. Selain itu, dia menuntut bagian setengah dari harta bersama sesuai dengan yang tercantum dalam perjanjian .…"Tangan Raka bergetar. Akhirnya dia menyadari bahwa Kirana bukan sekadar sedang marah atau merajuk. Dia juga bukan sedang sok jual mahal.Kirana benar-benar akan meninggalkannya.Malam itu, Julisa datang untuk menghiburnya."Jangan buang air matamu untuk seseorang yang tidak pantas menerimanya, Raka," katanya sambil mengecup leher Raka. "Aku akan memberimu sesuatu yang jauh lebih baik."Raka tidak mendorongnya menjauh.Saat kecupan Julisa makin intens, dia memejamkan mata, berusaha melupakan bayangan Kirana yang berjalan pergi.Tubuh mereka saling terbelit di atas seprai. Julisa membisikkan kata-kata manis di te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status