Bulan purnama menggantung bulat sempurna di langit Ibukota Tianjing, memancarkan cahaya perak pucat yang menyapu atap-atap bangunan kekaisaran. Namun, bagi Pangeran Kedua Ling Xuan, cahaya bulan malam ini bukanlah keindahan, melainkan lonceng kematian yang menyiksa setiap inci nadinya.Di luar gerbang barat ibukota, tersembunyi di balik hutan pinus yang lebat, berdirilah sebuah Kuil Terbengkalai peninggalan dinasti masa lalu. Atapnya telah runtuh separuh, dan patung dewa berlengan empat di altar utamanya telah kehilangan kepalanya. Tempat ini biasanya hanya dihuni oleh burung gagak dan anjing liar.Namun malam ini, keheningan kuil itu dipecahkan oleh suara langkah kaki yang tergesa-gesa.Lima sosok berpakaian serba hitam melesat menembus semak belukar. Empat di antaranya adalah Pengawal Bayangan Elit tingkat tinggi, mengelilingi satu sosok pria di tengah yang terus memegangi dadanya sambil merintih tertahan."Pangeran, harap bertahan. Kita sudah sampai di titik pertemuan," bisik pemim
Baca selengkapnya