Bau anyir darah dari kotak kayu cendana itu masih memenuhi ruang belajar Istana Timur. Ling Jingyuan berdiri terpaku menatap seratus lidah yang tertumpuk menjijikkan di atas karpet sutranya. Dadanya naik turun dengan cepat, menahan amarah yang nyaris meledakkan pembuluh darah di kepalanya.Ia telah kalah telak. Seluruh kekuatan militer rahasia yang ia rampas dari ibunya hangus dalam semalam. Paviliun Lanyin bukanlah gubuk orang sakit, melainkan sarang monster yang menelan pasukannya tanpa menyisakan tulang.Namun, tawa hambar dan sinis perlahan keluar dari tenggorokan Sang Putra Mahkota. Tawa itu semakin keras, menggema memantul di dinding ruangan, terdengar sangat gila dan putus asa."Kau sangat hebat, Kakak Ipar... luar biasa hebat," bisik Jingyuan, matanya berkilat dipenuhi kegelapan murni. "Tapi kau lupa satu hal. Di kekaisaran ini, pedang paling tajam bukanlah milik Jenderalmu, melainkan milik Sang Naga."Tanpa memedulikan kekacauan di ruangannya, Jingyuan merapikan jubahnya,
Read More