Cahaya fajar yang pucat menyelinap di antara celah tirai, namun Xiaochen sudah lama terjaga. Ia duduk di tepi ranjang, sosoknya yang tegap membayang dalam remang. Matanya yang biasanya sedingin es kini terpaku pada sosok perempuan yang berbaring di hadapannya: Ruoyao.Dalam tidur yang sunyi, wajah itu tidak memancarkan aura masa muda. Di usianya yang baru delapan belas tahun, kulitnya tampak kusam, dengan gurat-gurat halus kelelahan yang tidak seharusnya ada. Ada semacam "penuaan paksa" yang merenggut vitalitasnya, seolah ada sesuatu di dalam tubuhnya yang terus-menerus mengisap nyawanya.Xiaochen mengulurkan tangan. Jemarinya yang kasar karena sering menggenggam pedang berhenti sejenak sebelum menyentuh pipi Ruoyao yang dingin."Jadi... apakah racun itu yang membuatmu menjadi seperti ini?" bisiknya pelan, suaranya hampir tidak terdengar, namun sarat dengan kecurigaan yang mendalam.Tepat saat ujung jarinya bersentuhan dengan kulit Ruoyao, sesuatu terjadi.Zhiyao, yang berada di dalam
Read More