"Kau bisa melakukannya?" Desi memandang laki-laki di depannya dengan tajam. "Sayang. Aku memang bajingan. Tapi aku bukan pembunuh!" Laki-laki itu meraup wajahnya kasar. 'Cuma kamu yang bisa melakukannya, Sayang!" Desi memelas kali ini. Ia tahu, itu adalah kelebihannya. "Sayang, aku pernah melakukannya sekali dan aku tak ingin lagi mengulanginya. Aku kapok, Sayang!" "Rendra!" Desi melepas kaca mata hitamnya. "Kau ingin rumah tangga Elena hancur? Sudah cukup kau membuatku hancur, tapi jangan pernah hancurkan kehidupan anakku!" Desi tak pernah menerima penolakan. Itu sebabnya, ia selalu bisa membuat Rendra merasa bersalah. "Desi, aku tak ingin lagi melakukan kesalahan. Aku menyesal melakukannya dulu. Aku ingin menjadi orang yang bisa kamu banggakan!" "Lakukan saja seperti yang aku minta!" "Tapi...ini berat, Sayang!" "Apa yang berat. Dulu kau bisa melakukannya, sekarang pun kau pasti bisa!" Desi mulai tak sabar. "Tapi...anak itu gak bersalah, Desi!" Desi mence
Read more