Sandra menarik kursi di depan sofa. “Silakan duduk.... Tante,” ucapnya ragu. Desi tak menjawab. Ia tetap berdiri, menatap ruangan itu dengan sorot mata tajam, menyapu sofa, meja, pintu kamar mandi, bahkan jendela yang sedikit terbuka. Sambil terus berjalan hingga berhenti di sudut jendela. Menatap jalanan dengan sedikit menahan nafas. “Kau pikir aku mau datang ke sini tanpa alasan?” Desi akhirnya bersuara. Tetap dingin dan menusuk. Sandra menelan ludah. Ia tahu, setiap kali bertemu dengan Desi, tak akan ada satu pun kata yang akan berujung baik. "Kau tahu, jika aku tak pernah menyukaimu?" Sandra menahan bafas. “Dan aku ..tak pernah suka perempuan yang mencoba merebut laki-laki lain,” lanjut Desi, menatap Sandra tanpa berkedip. Sandra terdiam. Dadanya naik turun. Ia ingin membela diri, namun rasa bersalah menahan lidahnya. Apa pun yang ia katakan tak akan mengubah fakta apapun. Dan Desi tak pernah mau mengerti. Desi tersenyum tipis, senyum yang tak mengandung kehangat
Read more