Sinar matahari pagi yang menembus kaca mobil terasa hangat, namun tidak cukup hangat untuk mencairkan rasa penasaran yang sejak tadi menyelimuti benak Arini. Alvaro duduk di balik kemudi dengan ekspresi yang sangat sulit dibaca, jemarinya mengetuk-ngetuk setir dengan irama yang tidak beraturan, seolah sedang menyembunyikan sebuah kegelisahan besar."Kak, kita sebenarnya mau ke mana, sih? Ini sudah lewat dari jalur menuju kantor Mahardika," tanya Arini sembari melirik arloji di pergelangan tangannya.Alvaro hanya menoleh sekilas, memberikan sebuah senyuman tipis yang justru membuat Arini semakin curiga. "Nanti kamu juga akan tahu sendiri, Rin. Nikmati aja perjalanannya.""Nggak bisa gitu dong, aku punya rapat jam sepuluh nanti dengan tim legal yang baru," protes Arini sembari membetulkan letak tas tangannya. "Kalau Kakak cuma mau ajak sarapan, kan bisa di dekat kantor aja."Alvaro tetap bungkam, ia membelokkan mobilnya memasuki sebuah kawasan perkantoran pemerintahan yang tampak cukup
Read more