Home / Rumah Tangga / WANITA LAIN DI RUMAHKU / 170. BADAI DI LOBI UTAMA

Share

170. BADAI DI LOBI UTAMA

Author: vitafajar
last update publish date: 2026-04-04 21:40:23

Ratusan lampu flash kamera wartawan menyambar wajah Arini bagaikan kilat yang mematikan, menciptakan pendar putih yang menyakitkan mata di lobi utama gedung apartemen mewah itu. Suara riuh pertanyaan media saling tumpang tindih, menciptakan kebisingan yang memekakkan telinga, namun Arini tetap berdiri tegak.

Ia merasakan jemari Alvaro meremas bahunya dengan sangat erat, sebuah sandaran kokoh yang menyalurkan kekuatan instan di tengah badai yang baru saja menghantam identitasnya. Pengkhianatan p
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   171. ARSITEK DI BALIK LAYAR

    Mobil mewah Alvaro meluncur membelah kemacetan Jakarta dengan kecepatan yang sangat stabil dan terkendali. Di dalam kabin yang kedap suara itu, Arini masih terpaku menatap suaminya dengan tatapan yang sarat akan rasa ingin tahu yang mendalam.Pertanyaan tentang Operasi Vertex tadi benar-benar terus menggelitik benaknya, apalagi setelah serangan telak yang dilancarkan Tuan Besar di lobi apartemen tadi. Arini merasa seolah ada lapisan dunia Alvaro yang selama ini sengaja disembunyikan darinya dengan sangat rapi."Operasi Vertex?" ulang Arini pelan, suaranya kini terdengar jauh lebih tenang namun tetap menuntut penjelasan yang jujur dari pria di sampingnya.Alvaro tidak langsung menjawab. Ia memutar setir dengan satu tangan secara lihai, sementara tangan lainnya tetap menggenggam jemari Arini dengan remasan yang memberikan rasa aman. Ia menarik napas panjang sejenak, seolah sedang bersiap untuk membongkar rahasia terbesarnya."Tujuh tahun yang lalu, aku sadar kalau namaku bakal selalu di

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   170. BADAI DI LOBI UTAMA

    Ratusan lampu flash kamera wartawan menyambar wajah Arini bagaikan kilat yang mematikan, menciptakan pendar putih yang menyakitkan mata di lobi utama gedung apartemen mewah itu. Suara riuh pertanyaan media saling tumpang tindih, menciptakan kebisingan yang memekakkan telinga, namun Arini tetap berdiri tegak.Ia merasakan jemari Alvaro meremas bahunya dengan sangat erat, sebuah sandaran kokoh yang menyalurkan kekuatan instan di tengah badai yang baru saja menghantam identitasnya. Pengkhianatan para pemegang saham minoritas Mahardika Group terasa seperti sembilu yang menyayat jantungnya, namun ia menolak untuk tumbang di depan publik.Tuan Besar Wijaya duduk tenang di kursi rodanya, memegang dokumen merah bersegel itu dengan keanggunan seorang penguasa yang baru saja memenangkan wilayah jajahan baru."Gimana rasanya, Arini? Melihat warisan ayahmu berpindah tangan dalam satu kedipan mata cuma karena pengkhianatan orang-orang yang kamu percaya?" tanya Tuan Besar sinis.Arini menarik napas

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   169. CATUR DI BALIK KORIDOR

    Langkah kaki yang berirama tegas di atas lantai marmer koridor seketika menghentikan aktivitas Kael dan tim keamanan Vertex. Arini menoleh perlahan, ia tidak lagi menangis. Wajahnya kini tampak sangat datar, sebuah topeng dingin yang ia pasang rapat-rapat saat melihat Sofia Wijaya muncul dengan keangkuhan yang sudah menjadi ciri khasnya.Sofia berhenti tepat di depan tumpukan barang Arini, lalu melirik selembar cek kosong yang ia jepit di antara jemarinya yang terawat. "Alvaro, minggir sekarang. Ibu mau bicara sama wanita ini secara profesional sebagai sesama pemilik aset," perintah Sofia dengan nada ketus.Alvaro tidak beranjak sedikit pun, ia justru melipat kedua tangan di dada dengan senyum miring yang sangat meremehkan. "Profesional? Ibu baru saja melakukan tindak pidana perusakan properti dan masuk ke wilayah pribadi orang lain tanpa izin.”"Itu sama sekali nggak profesional namanya, Bu. Itu namanya kriminal," lanjut Alvaro sembari menatap ibunya dengan tatapan menantang.Sofia m

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   168. RETAKAN DI AMBANG PINTU

    Arini tetap terdiam membisu, ia sama sekali tidak memiliki niat sedikit pun untuk menjawab ucapan penenang yang dilontarkan oleh Alvaro. Rasa malu yang menghimpit dadanya, terasa jauh lebih menyesakkan daripada dinginnya air es yang baru saja membasahi kulitnya.Ia masih mengingat jelas bagaimana tatapan merendahkan dari para pengunjung restoran mewah tadi tertuju tepat ke arah wajahnya yang basah kuyup. Tatapan-tatapan itu seolah-olah sedang menguliti harga dirinya, menghakiminya sebagai wanita bermasalah yang hanya pantas menjadi tontonan publik.Arini menyadari sepenuhnya bahwa kejadian memalukan ini sebenarnya bukanlah kesalahan Alvaro, melainkan ulah Clarissa yang merupakan saudara jauh pria itu. Namun, tetap saja hal itu membuatnya merasa kerdil, seolah perbedaan status di antara mereka kembali diperdebatkan secara paksa."Rin, kita pulang sekarang, ya? Kamu ganti baju dulu biar nggak masuk angin," ujar Alvaro dengan nada suara yang sangat lembut dan penuh kekhawatiran.Alvaro m

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   167. Percikan Api di Hari Pertama

    Suasana di restoran yang tadinya panas mendadak mendingin oleh kehadiran Alvaro. Clarissa yang tadinya tampak seperti singa betina yang siap mencabik, seketika berubah. Ekspresi wajah yang ia tunjukkan pada Arini tadi berubah 180 derajat begitu matanya bertumbukan dengan manik mata tajam Alvaro.Clarissa langsung tersenyum manis, sebuah senyuman yang dipaksakan untuk terlihat manja dan tanpa dosa. Ia mengerjapkan matanya yang masih sedikit basah karena amarah, mencoba meraih lengan jas Alvaro yang terasa kaku."Kak Alvaro! Kok, Kakak bisa ada di sini? Ya ampun, aku kangen banget sama Kak Al!" seru Clarissa dengan nada suara yang melengking manja, seolah-olah ia tidak baru saja menyiram wajah seseorang dengan air es.Alvaro tidak bergeming. Ia masih berdiri tegak sebagai tameng di depan Arini, tangan kanannya masih mengepal kuat setelah menepis tangan Clarissa yang hendak mendaratkan tamparan."Hentikan sandiwara kamu. Jangan kira saya nggak tahu apa yang mau kamu perbuat pada istri sa

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   166. RACUN DARI MASA LALU

    Air dingin yang bercampur dengan bongkahan es kecil itu menetes perlahan dari ujung rambut Arini, membasahi blus sutranya yang kini melekat dingin di kulit. Arini terkesiap hebat, napasnya sempat tertahan sejenak karena syok yang menghujam sarafnya secara mendadak di tengah ruang publik.Di balik tirai air yang memburamkan pandangannya, ia melihat seorang wanita muda berdiri dengan dada naik turun menahan murka yang meledak-ledak. Sosok itu tampak begitu asing namun memancarkan kebencian yang sangat personal, seolah Arini adalah musuh bebuyutan yang telah mencuri segalanya."Dasar janda nggak tahu diri! Berani-beraninya kamu menyeret Kak Alvaro ke hidupmu yang menjijikkan kayak gini!" teriak wanita itu dengan suara melengking.Maya yang duduk tepat di depan Arini seketika bangkit berdiri dengan wajah merah padam akibat amarah yang menyulut keberaniannya. "Heh! Apa-apaan kamu ini?! Datang-datang nggak punya sopan santun banget jadi orang!" bentak Maya sembari menunjuk wanita asing itu.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status