Alvaro masih mematung di ambang pintu walk-in closet, tangannya masih menggenggam gagang pintu geser yang baru saja ia buka. Matanya sama sekali tidak berkedip, seolah-olah jika ia bernapas sedikit saja, pemandangan indah di depannya akan menghilang bak fatamorgana.Ia sudah sering melihat Arini dalam berbagai keadaan, anggun dengan gaun pesta, formal dengan setelan kantor, bahkan berantakan saat menangis. Namun, Arini yang berdiri di hadapannya saat ini adalah sebuah definisi godaan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya di dalam benaknya.Warna merah dari lingerie sutra itu tampak begitu kontras, hampir seperti api yang membakar kulit putih bersih istrinya yang bercahaya. Renda hitam yang tipis membingkai lekuk dadanya yang montok dengan sangat provokatif, sementara potongan tinggi di bagian paha memamerkan kaki jenjang yang indah.Namun, yang paling membuat pertahanan Alvaro runtuh adalah bibir Arini yang kini berwarna merah pekat, memberikan kesan berani, liar, dan sangat berku
Read more