LOGIN"Papa tidak habis pikir, Farel bisa berbuat seburuk itu." Frans Alaric melepaskan kacamata bacanya di atas meja kerja. Menatap kedepan, melihat wajah Aurel yang sudah memucat dibawah lampu temaram ruang kerjanya di kediaman Alaric. Vida yang juga ada di sana, menatap Aurel dengan wajah tegang. "Apa sebelumnya kalian memang selalu bertengkar?" tanya Vida pada putrinya. Aurel hanya menggeleng tanpa berkata apapun. Dia lelah. Sangat lelah dengan semua hal yang menimpa hidupnya. Sejak awal ia tidak menyetujui untuk dijodohkan dengan Farel karena laki-laki itu mengatakan dia sudah memiliki kekasih. Tapi kedua keluarga seakan tidak perduli dan tetap menikahkan mereka. Hingga dua tahun pernikahan, Farel sama sekali tidak mau menyentuhnya. Lagi-lagi karena desakan keluarga, mereka akhirnya melakukan hubungan suami istri yang sepertinya juga dilakukan oleh Farel bersama kekasihnya yang ternyata adalah Evelyn. "Sekarang, perempuan itu hamil," desis Frans, suaranya memberat karena menahan a
Suasana di dalam ruang operasi terasa sangat dingin, ketegangan yang menyelimuti membuat udara seakan membeku. Bunyi teratur dari mesin anestesi dan monitor jantung menjadi satu-satunya melodi yang menemani fokus Devan. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan baju bedah steril, tangannya yang terbungkus sarung tangan lateks kini tengah memegang skalpel. Di atas meja operasi, Deline, adik kandung mendiang Rossa, terbaring tak berdaya. Cedera kepala berat yang dialaminya menuntut Devan untuk melakukan kraniotomi darurat guna mengurangi tekanan intrakranial akibat perdarahan hebat di otaknya. "Bor," perintah Devan singkat. Suaranya rendah namun waspada. Vanya, yang bertindak sebagai asisten satu dalam operasi ini, menatap wajah Devan. Ia bisa melihat betapa kaku otot-otot bahu pria itu. Devan tidak sedang sekedar melakukan operasi pada pasien kecelakaan, ia sedang berperang melawan trauma masa lalunya sendiri. Setiap tetes darah Deline seolah menjadi pengingat kegagalannya menyelam
Devan melangkah maju dengan kemarahan yang terpeta di wajah tampannya, mengikis jarak di antara mereka hingga Vanya terdesak ke dinding ruangan. Vanya bisa merasakan hawa panas yang keluar dari tubuh Devan, berbeda dengan dinginnya dinding beton di punggungnya. Mata Devan yang biasanya tenang dan menyejukkan, kini berkilat penuh amarah dan rasa sakit yang teramat dalam. "Mas, jangan seperti ini..." bisik Vanya, suaranya bergetar hebat saat tangan Devan terkunci di kedua sisi kepalanya, mengurungnya tanpa celah untuk melarikan diri. "Kenapa? Bukankah ini yang kamu pikirkan sejak tadi? Bahwa aku menikmati setiap detik bersamanya?" Devan menyeringai perih, wajahnya merunduk hingga napasnya yang memburu terasa di permukaan kulit Vanya. "Kamu tidak tahu rasanya harus menyentuh orang yang paling kamu benci hanya untuk memastikan orang yang paling kamu cintai tetap bernapas!" Tanpa peringatan, Devan mencengkeram dagu Vanya, memaksanya menatap langsung ke dalam badai di matanya. "Eve
"Apa yang kamu lakukan di sini?!" Bentakan itu meledak dari mulut Aurel. Tubuhnya bergetar hebat menahan amarah. Melihat Evelyn berdiri di depan matanya, Aurel seolah dipaksa menyaksikan bagaimana tubuh ramping itu melayani suaminya di ranjang yang hangat. Rasa mual seketika menguap ke tenggorokannya. Aurel merasa kotor karena telah menyerahkan kesuciannya pada laki-laki brengsek seperti Farel, semua pengorbanan yang ia lakukan demi memenuhi tuntutan keluarga kini terasa sia-sia dan menjijikkan. "Kak, tidak apa-apa?" tanya Devan khawatir. Aurel menatap tajam Evelyn dengan nafas memburu. "Aku tidak tahan lagi berlama-lama di sini!" geramnya melangkah pergi. Evelyn sama sekali tidak menghiraukan kemurkaan Aurelia yang berlalu melewatinya begitu saja. Ia melangkah maju dengan angkuh, tatapannya terkunci rapat pada Devan. "Mas Devan, apa kita bisa bicara berdua?" tanyanya tanpa nada berdosa. "Tidak ada bicara berdua dengan calon menantuku!" Potong Henry yang berdiri di belak
Vanya terus mengikuti pria bertopi itu hingga masuk kedalam tangga darurat. Ia menutup pintu darurat sepelan mungkin. Suasana di dalam tangga darurat itu mendadak hening, hanya terdengar suara deru napas Vanya yang memburu dan detak jantungnya yang berpacu liar. Cahaya lampu neon yang temaram memberikan kesan mencekam pada dinding-dinding beton yang dingin. Vanya melangkah berjinjit, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun di atas lantai semen. Langkah kaki pria bertopi itu berhenti di antara lantai tiga dan lantai dua. Vanya mengintip dari celah pegangan tangga, matanya menyipit mencoba memastikan apakah itu benar Adam. Namun, ada sesuatu yang aneh. Pria itu tidak tampak seperti seseorang yang sedang merencanakan kejahatan, tubuhnya justru limbung, tangannya bertumpu kuat pada pegangan besi, dan bahunya naik turun dengan tidak beraturan. "Uhukk!" Suara batuk tertahan yang disertai erangan rasa sakit itu membuat Vanya tersentak. Pria itu perlahan meluruh, duduk
Henry Harrington berdiri di ambang pintu, tangannya masih memegang gagang pintu yang berlapis krom mengkilap. Setelan jas mahalnya tampak sangat elegan dan berwibawa. Matanya yang tajam melirik ke arah kancing kemeja Devan yang masih terbuka, memperlihatkan perban putih yang melingkar di bahunya. Vanya segera merapikan rambut dan pakaiannya, kepalanya tertunduk dalam sementara pipinya terasa terbakar menahan malu. "Apa aku mengganggu?" Tanya Henry dengan suara beratnya, melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Devan berdeham, mencoba mengembalikan sisa-sisa wibawanya sebagai Kepala Departemen Bedah. Ia mengancingkan kembali kemejanya dengan gerakan cepat namun tenang. "Tidak mengganggu, tapi Anda datang lebih awal dari jadwal pertemuan kita, Pak Henry." "Hal mendesak tentang administrasi pemindahan tugas memang harus dibicarakan secepatnya, Devan. Jadi aku memutuskan untuk mempercepat jadwal pertemuan kita." Henry duduk dengan punggung tegak, matanya kini terfo
Dengan cepat Frans melangkah mendekati putranya yang diam mematung di depan pintu ruang operasi satu. PLAK! Tanpa basa basi, sebuah tamparan keras di pipi Devan membuat semua perawat yang berada di nurse station ruang operasi menutup mulut mereka, terkejut melihat amarah seorang Frans Alaric.
"Apa! Devan tidak datang ke butik?" Wajah murka Frans Alaric memenuhi ruang kerjanya saat asistennya memberi kabar, kalau Devan pergi dari rumah sakit dengan terburu-buru. "Hubungi anak itu! Sekarang!" Sang Asisten segera melaksanakan perintahnya dengan meraih ponsel dan menekan nomor Devan. "
Vanya menyentuh bibirnya tak percaya. "Kami berciuman?dokter Devan membalas ciumanku?" Gumamnya sambil terus berjalan meninggalkan ruang kerja Devan. Bibirnya membentuk senyum manis membayangkan kejadian yang bahkan tidak pernah ia bayangkan akan terjadi. Vanya terus berjalan dengan pikiran yan
"Dua hari lagi kita akan bertunangan," ujar Evelyn pagi ini dengan nada penuh penekanan saat mereka baru saja tiba di area parkir rumah sakit. Keduanya turun dari sedan hitam milik Devan. Pagi tadi, Frans dan Vida Alaric memberikan perintah yang tidak bisa dibantah. Devan wajib menjemput Evelyn s







