Salju di belakang mereka telah reda, meninggalkan jejak-jejak pertarungan yang kini membeku dalam sunyi. Ayundria berjalan di samping Bill, matanya masih sesekali menoleh ke arah Bill, ia masih bisa melihat bekas luka bakar dan goresan mendalam di tubuh pria itu, meski sebagian sudah ia sembuhkan. Bill, tentu saja, berjalan dengan senyum liar seperti biasa, seakan rasa sakit hanya minuman keras yang bisa ia telan mentah-mentah. “Aku bilang apa, Ayundria,” katanya sambil menepuk dadanya yang masih berasap tipis. “Tubuhku ini memang dibuat untuk dilumat petir, api, es, atau bahkan—ah, apapun. Tapi jangan sampai kau berharap aku mati duluan, oke?” Ayundria hanya mendesah, lalu memandang jauh ke depan. Lembah kabut menyambut mereka. Awan-awan tebal merayap di dasar lembah, seperti lautan putih yang hidup. Udara di sini berbeda, tidak hanya dingin, tapi terasa bergetar, penuh energi magis yang liar. Bill berhenti sejenak, merentangkan tangannya, lalu tertawa keras. “Hahaha! Aku bisa
Ler mais