Kerajaan Aethoria kembali bernyawa. Dinding marmer putih yang dulu ternoda oleh bayangan kini bersinar lagi, memantulkan cahaya matahari pagi yang menyemburat ke segala arah. Aula agung, yang bertahun-tahun terkunci dalam keheningan mencekam, kini dipenuhi tawa, musik, dan cahaya obor yang berkilauan. Di tengahnya, sebuah perjamuan besar digelar. Meja panjang penuh dengan hidangan buah segar, daging panggang, dan anggur merah. Para penyihir, bangsawan, dan rakyat jelata berkumpul, menyatu dalam euforia yang sama: akhir dari kegelapan. Dan di kursi kehormatan Ayundria duduk dengan senyum terbaiknya. Gaun putih perak membalut tubuhnya, sederhana tapi anggun, dengan aura cahaya lembut yang mengikutinya ke mana pun ia melangkah. Wajahnya masih menyimpan sisa-sisa kelelahan dari perang besar, tapi sorot matanya sudah berbeda. Ada ketenangan dan keteguhan yang terpancar di wajahnya. Di sampingnya, Bill. Duduk dengan postur seenaknya, kakinya naik ke kursi lain, tangan memegang gelas a
Ler mais