Cahaya menelan mereka. Tapi tubuh mereka tidak jatuh, tidak juga terbang, hanya melayang dalam kehampaan. Lalu, perlahan, dunia lain terbentuk di sekitar masing-masing. Torren berdiri di padang perang. Tanah penuh tengkorak, langit merah, dan di tangannya, kapaknya berlumur darah. Di depannya, ribuan wajah yang pernah ia bunuh menatapnya tanpa suara. Tangannya bergetar, berusaha melepaskan kapaknya. Tapi ia tak bisa melepaskan kapak itu, seolah kapak lah yang memegang dirinya. “Apakah aku hanya mesin pembantai?” bisiknya. Tapi tiba-tiba suara lain menjawab dari dalam kepalanya, “Tanpa darah, kau bukan siapa-siapa.” Kaelith berada di perpustakaan tak berujung. Rak-rak buku menjulang ke langit tanpa batas, tapi setiap buku yang ia tarik berubah menjadi abu. Ia berlari, mencari satu kebenaran, tapi semakin ia mencarinya, semakin perpustakaan itu hancur. Tiba-tiba, ia menemukan satu buku utuh, namun di sampulnya hanya tertulis, satu kata yang membuat tubuhnya menegang. ‘Pengkhianat’.
Ler mais