Matahari sore menjelma bulatan emas besar, menggantung rendah di langit. Di bawahnya, sabana luas membentang sampai ke ujung cakrawala. Rumput setinggi pinggang berwarna keemasan bergoyang pelan, bergemerisik seperti bisikan rahasia dunia. Setiap langkah Ayundria meninggalkan jejak kecil, seakan bumi sendiri mengingat kehadirannya. Seekor kijang bercahaya muncul di kejauhan. Tubuhnya dilapisi bulu perak yang berkilau, tanduknya bercabang seperti kristal. Saat berlari, tiap hentakan kakinya memercik cahaya biru yang langsung memudar jadi bunga kecil. Ayundria terpana. "Indah sekali," bisiknya pelan. Matanya tak berkedip, takjub melihat keindahan yang memenuhi indra penglihatannya. Bill, tentu saja, mencondongkan tubuh, menyilangkan tangan, lalu berkomentar, "Pffft. Tanduk kristal? Cahaya biru? Itu cuma hiasan. Aku pun bisa begitu. Lihat ini." Bill menjentikkan jari, dan petir kecil berkilat di ujung kukunya. "Lihat, lebih keren daripada tanduk kaca berjalan itu, bukan!" Ayund
Ler mais