Pagi datang tanpa burung, tanpa kicau, tanpa tanda kehidupan. Hutan yang biasanya ramai kini sunyi, seolah alam sedang menahan napas. Ayundria terbangun lebih dulu. Ia merasakan dingin menusuk, bukan dari udara, melainkan dari dalam tanah. Saat ia menapakkan kakinya, ada getaran samar yang menjalar melalui akar pohon, seperti detak jantung—tapi asing. Ia menoleh. Bill masih tidur pulas, wajahnya santai, tapi sesekali tubuhnya bergetar kecil, seolah bermimpi buruk. Seraphine menggeliat, membuka mata, lalu ikut terdiam. “Kau juga merasakannya?” bisiknya, langsung menegakkan tubuhnya. Torren dan Kaelith menyusul, wajah mereka sama-sama menegang. Mereka semua tahu, sesuatu sedang bergerak. Apapun itu, jelas itu seperti peringatan untuk mereka. Dari kejauhan terdengar suara lirih, semacam rintihan. Tak besar, tak meledak, hanya bunyi halus seperti es yang pecah di permukaan danau. Tapi suara itu berulang. Lalu berulang lagi. Seraphine berlutut, menyentuh tanah. Tangannya segera ditari
Mehr lesen