Setelah rombongan duduk di dalam pesawat, Liana mengamati Ryan sekali lagi, dan tak tahan untuk bertanya. "Omong-omong, untuk apa kau pergi ke lubang runtuhan di Pegunungan Lorcan? Tempat itu penuh api dan panasnya mematikan, tidak ada apa pun yang menarik untuk dilihat." "Jangan bilang kau, seorang awam, mau menonton Pertemuan Gerbang Naga?" Sebagai anggota Skuadron Feniks Api, mereka tentu memiliki kemampuan menilai orang. Namun sejak pertama bertemu sampai saat ini, ia merasa tidak sanggup menembus diri Ryan. Sosok di hadapannya itu seperti danau tenang yang dasarnya tak terlihat, dan itu justru membuatnya semakin jengkel. Meski begitu, ia yakin Ryan bukanlah orang yang berkultivasi. Sebab jemari Ryan ramping seperti jari perempuan, sama sekali tidak seperti praktisi kuno yang menempa Raga mereka. Sebaliknya, ia justru tampak seperti seorang tuan muda kaya yang belum pernah merasakan susahnya hidup. Bagi Liana, sosok seperti ini paling-paling hanya pandai menghamburkan ua
Magbasa pa