LOGINSore Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Nofrivul Nofrivul atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Ronald Teguh Widodo dan Kak Al Walid Mohammad atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Selamat Membaca (◠‿・)—☆
Setelah memakai Teknik Pencarian Jiwa pada biksu tua itu, Ryan akhirnya memahami seluruh rangkaian kejadian.Semua ini memang jebakan yang sudah disusun sejak jauh hari. Sekte Sihir Arwah sejak awal mengincar Elena, tetapi karena mempertimbangkan kekuatan Ryan, mereka tidak berani bergerak sembarangan. Mereka menunggu, mengamati, lalu mencari celah yang paling aman untuk bertindak.Sebelumnya, mereka mengirim seorang Pelindung Sekte Sihir Arwah untuk mendekati Elena secara diam-diam. Orang itu menyamar sebagai tokoh sakti, lalu menghasut Elena agar percaya pada sesuatu yang mereka sebut Ilmu Karma. Dengan cara itulah benih keyakinan ditanam, sampai akhirnya Elena bersedia datang sendiri ke tempat yang sudah mereka siapkan.Ketika Ryan tertahan di negeri sakura, Sekte Sihir Arwah langsung memanfaatkan kesempatan itu. Mereka memancing Elena datang ke Kuil Amerta, lalu menangkapnya. Demi memastikan r
Ryan memandang biksu muda itu lebih saksama.Dua nyala emas berkobar diam-diam di kedalaman matanya. Mata Emas Berapi terbuka tanpa menimbulkan gerakan mencolok, sehingga tidak seorang pun di sekitar balai menyadarinya. Dalam kobaran emas itu, bayangan biksu muda perlahan muncul, lalu membesar dengan jelas.Di antara alis biksu muda tersebut, tampak segurat kabut hitam samar membelit pelan. Bentuknya seperti ulat kecil yang melingkar, bergerak halus seolah hidup.Kabut semacam itu jelas bukan sesuatu yang bisa dilihat orang biasa. Hanya orang yang menguasai ilmu mata, atau memiliki Kekuatan Jiwa cukup kuat, yang mampu menangkap keberadaannya.Ryan tetap tenang. Pandangannya menyapu para biksu lain di sekitar balai utama. Hasilnya sama. Di antara alis setiap orang di kuil itu, kabut hitam serupa membelit tanpa henti.Ia menyimpan temuan tersebut di dalam hati, lalu bertanya perlahan, “Maaf,
"Maksudmu kuil tempat Elena menyalakan dupa?" Ryan langsung menoleh begitu mendengar ucapan itu. Langkahnya yang semula cepat mendadak melambat, dan tatapannya jatuh kepada Arjan Decha. "Benar!" Arjan Decha melirik Wendy yang berdiri di samping mereka, lalu mengangguk dengan wajah sungguh-sungguh. "Ketika Nyonya dan Nona Wendy masuk ke kuil untuk menyalakan dupa, hamba mengamati dari jauh." "Sejak saat itu, hamba sudah merasa kuil tersebut sangat ganjil." "Ganjil bagaimana?" Ryan menghentikan langkah sepenuhnya. Kali ini tubuhnya berbalik menghadap lelaki tua itu, membuat tekanan di sekitar mereka ikut berubah. Wendy membelalakkan matanya. "Aku sama sekali tidak merasa ada yang aneh di sana. Tempat itu terlihat seperti kuil biasa. Bahkan sambutannya sangat sopan." "Hamba tua ini dahulu orang nomor satu Thailand, sekaligus dukun ilmu hitam," ujar Arjan Decha sambil mendesah pelan. "Dalam hal merasakan hawa yin dan hawa keji, hamba cukup percaya diri." "Kuil yang Nyonya kunj
Gunung Semaya. Pada mulanya, nama itu merujuk pada sebuah gunung dalam dongeng kuno. Namun seiring waktu, sebutan tersebut bergeser menjadi nama kawasan tempat orang-orang suku pegunungan berkumpul. Permukiman mereka kemudian dikenal sebagai kampung pegunungan. Tempat itu berada di dataran tinggi yang dingin, jauh di dalam pegunungan dan rimba lebat. Kabut beracun sering menyelimuti lerengnya, sementara hawa dingin menetap sepanjang tahun, membuat orang luar jarang berani masuk terlalu dalam. Jumlah suku pegunungan di Garudapolis sekitar dua juta enam ratus ribu jiwa. Namun karena permukiman mereka terpencar dan kebanyakan warganya menutup diri dari dunia luar, nama mereka tidak terlalu dikenal di luar wilayah tersebut. Adat pernikahan mereka pun tergolong tidak lazim. Anak lelaki boleh menikah keluar, sedangkan anak perempuan justru mengambil menantu dari luar. Karena itulah, dalam banyak keluarga pegunungan, anak perempuan menjadi tumpuan utama penerus garis keluarga.
Begitulah.Ryan berjalan terang-terangan di jalanan negeri sakura. Siapa pun dari negeri itu yang tidak mampu menahan diri dan berani menyerangnya di sepanjang perjalanan, semuanya mati di tangannya. Jumlahnya bahkan sulit dihitung.Ia seperti dewa pembantai tanpa tanding. Jalanan yang dilaluinya berubah menjadi jalur merah yang membuat orang-orang mundur ketakutan, dan tak seorang pun berani menyeberang sembarangan.Bila dewa menghalangi, dewa akan ia bunuh. Bila sosok suci menghalangi, sosok suci pun akan ia tebas.Hilangnya Elena sudah membuat niat membunuh di dadanya bergolak. Ia benar-benar sudah kehilang sisi manusianya, menjadi Kaisar Iblis sejati tanpa belas kasih.Karena orang-orang itu tetap bersikeras datang mencari mati, mereka hanya bisa menyalahkan kebodohan sendiri.Sore harinya, Kota Sentralis, Garudapolis.Langit di atas kota berwarna jingga. Angin sore berembus tenang, seolah kota it
Isara memandang Ryan cukup lama. Mula-mula hanya curiga, tetapi sesaat kemudian ia seperti mengingat sesuatu. Wajahnya langsung berubah, lalu ia berteriak keras. "Hei, kau yang di sana, berhenti!"Seruan itu menarik perhatian beberapa pejalan kaki di sekitar jalan. Langkah mereka melambat, dan suasana yang semula biasa mendadak terasa menegang, seakan udara di tempat itu menjadi jauh lebih berat.Ryan berhenti.Ia berbalik perlahan, menatap tiga polisi itu dengan sikap yang amat dingin. Hawa beku perlahan memancar dari tubuhnya, membuat orang-orang di dekat sana tanpa sadar mundur setengah langkah.Pada saat Isara dan dua rekannya bertemu pandang dengan Ryan, dada mereka langsung mengencang.Rasanya seperti tiba-tiba dilempar ke dalam gua es. Dingin itu tidak hanya menyentuh kulit, tetapi meresap sampai tulang.Lebih ganjil lagi, permukaan tanah di bawah kaki Ryan mulai tertutup lapisan es tipis.
Wulan mempersilakan Ryan duduk di sofa lusuh yang pegas-pegasnya sudah nyungsep di beberapa bagian. Lalu dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, dia mulai menceritakan semuanya.Ayahnya, Hendrik Hartono, bekerja sebagai buruh bangunan. Gajinya tidak besar, tiga juta GDP per bulan kalau lagi be
Gunawan merasakan sesuatu yang sangat menakutkan dari tatapan Ryan. Ini bukan tatapan manusia biasa. Ini tatapan seseorang yang pernah melihat kematian, yang pernah membawa kematian, berkali-kali lipat. Tatapan predator puncak yang tidak mengenal belas kasihan."L... lepaskan aku!" Gunawan mencoba
Wulan yang baru keluar dari dapur langsung pucat pasi. Tangannya yang memegang spatula gemetar hebat. Dia menatap Ryan dengan panik, bibirnya bergetar tapi tidak ada kata yang keluar.Ryan bangkit dari sofa, menatap ibunya dengan tatapan tenang. "Ibu, siapa mereka?""Ryan..." Wulan berbisik, suaran
Ryan awalnya terkejut, lalu menatap gadis kecil itu dengan tak percaya.Nenek... Dia... dia adalah...Gadis kecil itu akhirnya menyadari kehadiran Ryan. Tangisannya berhenti seketika, dan secara naluriah dia bersembunyi di belakang Wulan, mengintip Ryan dengan mata penuh curiga.Ryan segera menatap







