Axel berhenti, tangannya masih di gagang pintu mobil. Perlahan, ia menoleh ke arah suara tersebut, alisnya berkerut. Wajahnya dingin dan sedikit bingung, seperti mencari-cari siapa yang memanggil namanya.“Axel. Ini aku, Cairo.” Cairo melangkah maju, melambai sedikit agar Axel bisa mengenalinya dengan lebih jelas.Axel menatap Cairo dengan ekspresi kosong, matanya mengerjap sejenak, mencoba mengaitkan nama itu dengan wajah di depannya. Seketika, memori lama mulai muncul di sudut pikirannya. Nama itu, wajah itu... sesuatu mulai terasa familiar, tapi masih kabur, seperti bayangan yang tidak bisa ia sentuh sepenuhnya.“Cairo?” Axel akhirnya berkata, suaranya rendah dan ragu. Ada keheranan dalam sorot matanya, seolah ia sedang berusaha menyusun kembali potongan kenangan yang tercerai-berai.Cairo mengangguk, senyum tipis muncul di wajahnya. “Iya, Bro. Ini aku,” katanya dengan nada lebih lembut, berharap kehangatan pertemana
Read more