Axel duduk santai di sofa kamarnya, tubuhnya tidak lagi terbalut kemeja, memperlihatkan postur tegapnya yang dikelilingi sinar redup lampu. Matanya terpaku pada ranjang, di mana Elara tertidur pulas, tubuhnya berselimutkan kain sutra halus yang menutupi lekuk tubuhnya. Selimut itu, seolah menjadi tirai tipis yang mengisyaratkan rahasia momen indah yang baru saja terjadi di antara mereka. Axel menatap Elara dengan penuh kasih sayang, menelusuri setiap detil wajah wanita itu. Dalam hati, ia tenggelam dalam pemikiran yang dalam, memikirkan bagaimana ia bisa membahagiakan wanita yang ada di hadapannya, dan menebus waktu dua tahun yang hilang begitu saja. Saat ia larut dalam lamunan, Elara perlahan terbangun, matanya mencari sosok Axel. Ketika pandangan mereka bertemu, rona merah langsung menghiasi wajah Elara, mengingat apa yang baru saja mereka lakukan. Axel tersenyum lembut, sedikit geli melihat betapa salah tingkahnya Elara. “Ada apa, Lara? Kenapa bangun?&r
Read more