Elara merebahkan tubuhnya di atas kasur, mencoba memejamkan mata, tapi pikirannya berputar liar. Bayangan Axel yang dicium oleh Ana terus terulang di kepalanya. Wajah bahagia gadis itu, cara ia memanggil Axel dengan mesra, dan ciuman yang tampak begitu akrab. Semuanya menghantam perasaannya, membuat dada Elara sesak. Ia ingin melupakan momen itu, tapi tak bisa. Bayangan itu terlalu jelas, terlalu menyakitkan.Elara menghela napas panjang. Tubuhnya terasa gerah, meskipun udara malam sebenarnya cukup sejuk. Rasa panas yang ia rasakan berasal dari pikirannya yang kacau. Dia ingin marah, ingin meluapkan semua amarah yang tertahan, tapi kenyataannya, dia hanya bisa merasakan hampa. Pukul satu pagi, matanya masih terbuka lebar. Setelah berjam-jam berguling di tempat tidur, akhirnya Elara tertidur.Keesokan paginya, Elara berangkat ke kantor. Di perjalanan, ia memutuskan untuk mencoba melupakan Axel untuk sementara waktu. "Aku harus fokus," bisiknya pada diri sendiri. Sampai di kantor, Axel
더 보기