Begitu polisi yang tengah berbicara dengan Axel mendengar teriakan dan suara gaduh di ujung lorong, ia segera berlari ke arah sumber suara. Axel, yang penasaran mengikuti dari belakang. Sesampainya di sana, ia mendapati Ana berdiri dengan tubuh bergetar, memegang pistol yang diarahkan ke kepalanya. Matanya tampak merah dan penuh air mata, sementara bibirnya gemetar, berbisik penuh rasa sakit, “Kenapa? Kenapa kamu juga meninggalkanku, Axel?”Di ruangan itu, para tamu yang tersisa menatap dengan ngeri, tak ada yang berani mendekat. Namun, Axel memberanikan diri mendekati Ana dengan pelan, kedua tangannya terangkat, mencoba menenangkannya. “Ana, tolong, letakkan pistolnya. Kita bisa bicara,” katanya dengan nada lembut, penuh kehati-hatian. Namun, kemarahan dan sakit hati Ana malah semakin memuncak.“Kamu juga, Axel. Kamu sama seperti mereka! Setiap orang selalu meninggalkanku. Aku sudah kehilangan segalanya!” teriak Ana sambil mengacungkan pistolnya ke arah Axel dengan penuh dendam. Axel
Read more