Elara terkesiap, buru-buru menghapus air mata yang mulai menetes tanpa sadar. Ia menegakkan tubuh dan menarik napas panjang, mencoba bersikap biasa di depan Axel meskipun hatinya terasa remuk. “Gak papa, Pak. Saya gak apa-apa,” katanya dengan suara bergetar tetapi berusaha terdengar wajar. “Bapak gimana? Gak apa-apa, kan?” Axel menggeleng pelan sambil memijat pelipisnya, tampak berusaha keras mengabaikan sakit kepala yang masih terasa menusuk. Ia mencoba kembali memegang setir, berniat melanjutkan perjalanan. Namun Elara segera menghentikannya. “Jangan, Pak! Jangan nyetir. Kita naik taksi aja, mobil bapak bisa kita ambil nanti,” ujarnya cepat, suaranya dipenuhi kekhawatiran. Axel terdiam, menimbang ucapan Elara, lalu mengangguk lemah. “Baiklah. Antar aku ke apartemen aja kalau gitu,” ucapnya dengan suara serak. Namun saat Axel membuka pintu mobil, tubuhnya mendadak limbung.
Read more