Keheningan di atas jembatan batu bertahan beberapa saat. Angin malam terus berembus membawa kabut tipis dari permukaan sungai, membuat obor-obor di kejauhan tampak bergetar seperti lautan api yang tak berujung. Tak seorang pun bergerak lebih dulu. Bahkan pengawal di belakang Lu Dehai tetap berdiri tegak tanpa mengubah posisi, seolah memahami bahwa percakapan malam ini jauh lebih berbahaya daripada sebuah pertempuran.Lu Dehai akhirnya mengembuskan napas pelan. Sorot matanya masih tertuju pada Zhao Fenglin, meneliti wajah pucat yang seharusnya sudah tak bernyawa itu. Setelah beberapa saat, sudut bibir kasim tua tersebut perlahan terangkat membentuk senyum tipis."Tampaknya," ucap Lu Dehai tenang, "rumor yang beredar di ibu kota memang tidak selalu bisa dipercaya."Zhao Fenglin tidak membalas senyumnya. Tatapannya tetap datar, sementara tubuhnya berdiri tegak meski napasnya terdengar sedikit berat."Kalau hanya untuk memastikan aku masih hidup," katanya pelan, "kau sudah mendapatkan jaw
Read More