ANMELDENMatahari naik perlahan di atas pegunungan, tapi hangatnya tidak mampu menembus dingin yang tertinggal dari malam.Rombongan kecil Wei Chen bergerak turun meninggalkan jurang. Tidak ada seorang pun yang banyak bicara. Suara tapak kuda di jalur batu terdengar lebih keras dari biasanya, seolah setiap langkah sedang menginjak kemarahan yang ditahan.Gu Liang menunggang di sisi kiri dengan wajah kelam.“Jadi kita pura-pura tidak terjadi apa-apa?” gumamnya akhirnya.Wei Chen menatap lurus ke depan. “Aku bilang kita simpan dulu.”“Bedanya tipis.”“Kalau kabar ini keluar sekarang,” potong Wei Chen dingin, “musuh yang gagal membunuhnya akan datang lagi untuk membunuh kita semua.”Gu Liang terdiam. Ia tahu itu benar.Shen Yu yang biasanya paling ribut justru diam sejak tadi. Darah di punggungnya merembes lagi dari perban kasar, tapi sedikitpun ia tidak peduli.“Aku tidak suka berharap,” katanya tiba-tiba. “Tapi orang itu terlalu keras kepala untuk mati.”Wei Chen tidak menjawab.Dalam benaknya,
Fajar datang lambat di pegunungan.Kabut semalam belum sepenuhnya pergi. Ia menggantung rendah di antara pepohonan dan jalur batu, menutup bekas pertempuran dengan selimut pucat. Hanya bau darah dan bangkai kuda yang masih tertinggal, mengingatkan bahwa malam tadi bukan mimpi.Wei Chen adalah orang pertama yang kembali ke jalur utama.Kudanya penuh lumpur. Lengan kirinya dibalut kain seadanya, darah sudah mengering sampai ke siku. Namun sorot matanya tetap tajam, menyapu sekeliling begitu tiba di tempat mereka tercerai-berai.Mayat berserakan.Tubuh para penunggang bertopeng tergeletak di sisi jalan, beberapa masih mengenakan topeng hitam polos yang kini retak dan berlumur darah. Ada pula prajurit Yuwen yang tak sempat lari jauh.Wei Chen turun dari kuda tanpa suara.Ia berjongkok di dekat satu mayat bertopeng, menarik topengnya kasar.Wajah asing.Bukan bandit. Bukan pasukan perbatasan. Kulit tangan orang itu halus, kuku bersih, dan ada bekas kapalan khas latihan senjata istana.Raha
Kabut di bibir jurang bergerak seperti makhluk hidup, melingkari tebing dan kaki-kaki kuda yang gelisah.Zhao Fenglin berdiri tegak di tengah lingkaran musuh. Darah menetes dari ujung jarinya, membasahi gagang pedang hingga licin. Napasnya berat, namun sorot matanya tetap setenang dan sedingin malam.Huo Ren menurunkan pedangnya sedikit.Dari jalur utara, derap kuda semakin jelas. Belasan penunggang muncul membawa obor, berhenti di kejauhan tanpa mendekat. Mereka mengenakan pakaian biasa, seperti pasukan pengawal perjalanan, namun gerakan mereka terlalu rapi untuk orang biasa.Benar kata Huo Ren.Mereka adalah saksi. Saksi yang akan membawa kabar ke ibu kota.Huo Ren tersenyum tipis. “Lihat? Bahkan langit malam pun ingin menyaksikan akhir hidupmu.”Zhao Fenglin menoleh sekilas ke arah rombongan baru itu, lalu kembali menatap Huo Ren.“Kalau begitu,” katanya datar, “kau pasti sangat takut aku masih bernapas.”Senyum Huo Ren memudar. Ia mengangkat tangan memberi titah. “Habisi dia.”De
Zhao Fenglin menatap jurang, kemudian tersenyum tipis. “Siapa bilang aku yang akan jatuh?” Kalimat itu membuat pemimpin bertopeng menyipitkan mata. Angin gunung berhembus keras di bibir tebing, membawa kabut tipis dan bau air sungai yang mengamuk jauh di bawah. Tanah di bawah kaki kuda licin oleh hujan malam, penuh kerikil longgar yang mudah runtuh. Pemimpin bertopeng mengangkat pedangnya sedikit. “Masih sempat bercanda saat ajal di depan mata?” Zhao Fenglin tidak menjawab. Ia hanya menepuk leher kudanya pelan, lalu memutar setengah tubuh. Posisi itu membuat punggungnya menghadap jurang, seolah benar-benar terdesak tanpa jalan keluar. Puluhan penunggang mulai menyebar, menutup sisi kiri dan kanan. Mereka tidak ingin memberi celah sekecil apa pun. Wei Chen selalu mengatakan satu hal tentang Zhao Fenglin. Jika pria itu tampak tenang saat terpojok, berarti orang lain sedang berjalan masuk ke perangkap. Pemimpin bertopeng menghentakkan kudanya maju dua langkah. “Turun dari k
Gelombang hitam itu datang tanpa ragu.Puluhan penunggang bertopeng memacu kuda lurus ke arah satu orang yang berdiri di tengah jalur sempit. Cahaya obor menari di bilah pedang mereka, memantulkan kilau dingin yang mematikan.Zhao Fenglin tidak mundur.Ia menghentakkan kudanya maju lebih dulu.Benturan pertama pecah seperti petir. Pedangnya menebas dari atas, membelah topeng dan tengkorak penyerang terdepan dalam satu garis lurus. Tubuh itu jatuh dari pelana sebelum sempat menjerit.Kuda-kuda di belakang kacau sesaat.Ia memanfaatkan celah itu. Bilahnya berputar ke samping, memotong leher penunggang kedua. Darah menyembur panas ke udara malam.“Lewat!” raung Shen Yu dari belakang.Shen Yu menerjang bersama belasan prajurit tersisa, menghantam sisi kanan musuh. Tawa gilanya kembali pecah meski wajahnya pucat karena kehilangan darah.Gu Liang di jalur tebing memaksa kudanya melompati batu besar sambil menyeret dua prajurit terluka. Tombak patahnya masih menghantam siapa pun yang terlalu
Malam telah larut sepenuhnya.Di kediaman Zhou, tepatnya di dalam kamar, hanya cahaya lampu minyak yang tinggal separuh menyala. Bayangannya bergoyang pelan di dinding, memanjang lalu memendek mengikuti tiupan angin dari celah jendela.Yuwen Shuang terbangun dalam keadaan duduk.Napasnya tidak teratur. Ujung rambut di pelipisnya basah oleh keringat dingin. Selimut yang menutupi tubuhnya telah bergeser setengah, jatuh di pangkuan tanpa ia sadari.Dadanya terasa sesak.Untuk beberapa saat, ia hanya menatap ke depan dengan mata kosong, berusaha membedakan mana mimpi dan mana kenyataan. Ingatan di kepalanya kacau seperti potongan kain yang tercabik-cabik.Rasa pahit di lidah. Suara seseorang berteriak, cangkir pecah, lalu gelap.Yuwen Shuang menunduk perlahan. Jemarinya menyentuh lehernya sendiri, lalu bergerak ke dada kiri. Detak jantung di sana begitu cepat, menghantam telapak tangannya tanpa ritme.Perasaannya sangat tidak enak.Seolah sesuatu sedang terjadi di tempat yang tidak bisa i
Bibi Sun tidak langsung menjawab pertanyaan itu.Pelayan tua itu menundukkan kepalanya sejenak, seolah sedang mengingat kembali semua percakapan yang ia dengar dari para kasim dan pelayan di luar.“Sejauh yang hamba dengar … belum ada kabar seperti itu, Niangniang.”Li Mei menatapnya tanpa berkedip
“Ibu ….”Suara Yuwen Shuang tenggelam di tengah hiruk-pikuk pertempuran.Kereta kembali berguncang keras. Sesuatu menghantam sisi luarnya hingga kayu tebal itu berderak seakan ingin pecah. Mei’er menjerit pelan dan semakin merapat, sementara Yunxi memeluk tubuh majikannya erat, berusaha menahan gun
‘Rasanya mustahil dia mencariku. Aku tak sepenting itu dalam hidupnya.’Yuwen Shuang masih mengingat jelas ucapan Zhao Fenglin di ruang belajar hari itu. Dia tidak akan peduli padanya, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan atau diragukan lagi. Yuwen Shuang pergi menjalankan perintah Kaisar dengan
Han Ruoxi tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan kepada kepala pelayan itu, lalu menoleh pada Yuwen Shuang.“Putri, lanjutkan makanmu. Aku akan kembali sebentar lagi.”Setelah memastikan Yunxi dan Mei’er tetap berada di dalam, ia melangkah keluar dan menutup pintu kamar itu dengan hati-







