Gelas air putih di tangan Senja bergetar halus. Ia meneguknya dengan rakus, bukan karena haus, melainkan untuk membilas rasa mual yang terus naik ke kerongkongan. Aroma sabun Gavi yang tadi menempel di kulitnya kini terasa seperti residu kimia yang menyesakkan."Makannya sedikit sekali, Nak? Apa masakan Eyang kurang enak?" tanya Eyang Kamila lembut, menatap piring Senja yang masih penuh."Enak kok, Eyang. Hanya saja... tadi di jalan banyak debu, tenggorokanku agak sakit," Senja melempar senyum tipis. Ia melirik Gavi yang duduk di seberangnya, pria itu sedang memotong daging steak dengan presisi, seolah sedang membedah mangsa."Mungkin kamu perlu istirahat total malam ini," ujar Gavi tanpa mengangkat wajah, suaranya tenang namun penuh otoritas. "Biar aku yang bereskan meja. Kamu masuk kamar saja, ya?"Senja mengeratkan cengkeraman pada serbet di bawah meja. Ia tahu itu bukan tawaran tulus, melainkan cara halus untuk mengusirnya agar Gavi bisa bergerak bebas di rumah ini. Namun, Senj
Last Updated : 2026-02-12 Read more