"Eh, beneran enak lho ini? Gurihnya pas, daging sapinya juga empuk banget," Sinar melotot kaget, ia segera menyuap fuyunghai yang nampak garing di luar namun lembut di dalam."Iya, kamu pinter masak, Pram. Bumbunya meresap sampai ke dalam. Aku suka tekstur kwetiaunya," puji Bondan sembari mengangguk-angguk puas. Pram hanya berdiri diam di sudut ruangan dengan posisi tangan di depan, menunjukkan sikap hormat meski hatinya bergejolak melihat mereka menikmati hasil jerih payahnya di atas penderitaan Sisil.Daniah dan Andri, yang sejak awal memang kurang menyukai kehadiran Pram karena dianggap sebagai sisa-sisa 'orangnya Sisil', hanya berkata singkat tanpa ekspresi. "Lumayanlah. Setidaknya nggak bikin eneg."Mereka makan dengan lahap, menghabiskan hampir seluruh hidangan yang disajikan Pram. Begitu selesai, Bondan, Daniah, dan Andri segera beranjak dan naik ke lantai atas untuk melanjutkan urusan mereka, menyisakan Sinar yang masih duduk santai sembari meminum jus jeruknya.Sinar menata
続きを読む