LOGINSuara desahan napas berat terdengar dari arah Sisil di Indonesia, menandakan betapa ia mengerti betapa kejamnya dunia spekulasi saham di daratan Eropa. ”Wah... bahaya tuh, Mas. Aliansi minoritas di Eropa kalau sudah bersatu dan membawa nama hukum niaga lokal biasanya sangat licik dan sulit ditembus. Pak Herman pasti tertekan sekali menghadapi mereka sendirian selama ini.””Iya, memang sangat berbahaya dan hampir saja mereka memenangkan konspirasi tersebut di atas meja rapat,” timpal Pram dengan seulas seringai jantan yang sangat puas terpancar di wajahnya. ”Tapi, kamu tenang saja, Sil. Semua masalah pelik dan gertakan hukum dari mereka itu sudah bisa aku atasi dengan sangat bersih sampai ke akar-akarnya kemarin.”Mendengar konfirmasi kesuksesan dari Pram, ketegangan di suara Sisil seketika mengendur, digantikan oleh rasa kagum yang luar biasa terhadap kemampuan adaptasi sang pria. ”Wah, syukurlah kalau begitu, Mas. Kamu memang luar biasa. Lalu... bagaimana kondisi mereka sekarang, Ma
Jane yang melihat Dara mulai tersudut akhirnya menemukan keberaniannya untuk ikut bersuara, membalas dendam atas godaan Dara sebelumnya. Wanita Belanda itu menegakkan tubuh matangnya, menatap Dara dengan senyuman sensual yang sangat menawan. ”Benar begitu, Dara? Tapi seingat saya, kamar Pak Pram itu adalah kamar paling steril di mansion ini yang dibersihkan dua kali sehari. Mana ada serangga yang bisa bebas berkeliaran di kamar itu? Lagipula, tadi malam saya sepertinya sempat mendengar ada suara desahan kecil yang sangat mirip suara Dara... apa itu juga suara gigitan serangganya?” goda Jane dengan nada suara sengau yang sangat nakal.Meja makan seketika meledak oleh tawa riuh dari Pak Herman dan Pram. Pram menggeleng-gelengkan kepalanya sembari merangkul pundak ramping Dara yang kini sudah menyembunyikan wajah malunya di balik dada bidang sang kekasih. Pertempuran verbal di meja sarapan pagi itu berlangsung dengan sangat seru, dinamis, dan akrab. Kedua pasangan yang baru saja men
Keesokan paginya, suasana di dalam ruang makan utama mansion mewah milik Pak Herman terasa begitu cerah dan dipenuhi oleh energi yang sangat berbeda. Sinar matahari pagi Amsterdam yang hangat menerobos masuk melewati celah-celah jendela kaca besar, memantulkan pendar keemasan di atas meja makan panjang dari kayu jati yang telah dipenuhi oleh berbagai hidangan sarapan pagi yang menggugah selera. Aroma harum kopi ekspreso yang pekat berpadu sempurna dengan wangi roti panggang mentega, omelet keju yang masih mengepulkan asap tipis, serta potongan buah-buahan segar.Pram dan Dara sudah lebih dulu duduk berdampingan di salah satu sisi meja. Pram tampil segar dengan kaos polos santai berwarna navy yang membungkus ketat tubuh tegap berototnya, sementara Dara nampak luar biasa manis mengenakan dress kasual berwarna kuning cerah dengan rambut hitamnya yang dicepol asal, menyisakan leher mulusnya yang putih bersih, meski jika dilihat lebih dekat, terdapat beberapa tanda kemerahan samar di sa
Dara bergoyang liar di bawah kendali penuh Pram, dadanya yang padat berayun-ayun erotis menyapu permukaan meja kayu. Saraf intimnya kini sudah benar-benar berada di titik didih tertinggi, bersiap untuk runtuh ke dalam jurang pelepasan berikutnya yang jauh lebih dahsyat."Mas... Mas Pram, aku udah mau keluar lagi... shhh, kencengin lagi, Mas! Ahhhhh, aku keluar, oooohhh!" jerit Dara dengan suara yang terputus-putus dan napas yang sesak, menandakan hantaman gelombang orgasme keduanya sudah berada di ujung tanduk.Pram mengejan sangat keras, mempercepat hantaman pinggulnya dalam belasan kali sentakan terakhir yang luar biasa dalam, dan menghancurkan sisa kesadaran Dara. Tumbukan demi tumbukan bertenaga tinggi itu akhirnya sukses mengantarkan sang gadis ke puncak menara kebahagiaan.Dara klimaks lagi di posisi ini dengan sangat hebat. Tubuh moleknya seketika kejang-kejang kaku di atas meja dengan punggung yang melengkung ekstrem dan sepasang mata yang mendelik sayu menahan nikmat saat
Napas Dara masih memburu cepat, tersengal-sengal di atas kasur setelah puncak ombak kepuasan pertamanya baru saja reda di dalam mulut Pram. Tubuhnya terasa lemas lunglai, dengan sisa-sisa kedutan manja yang masih terasa di dinding intimnya. Namun, Pram dengan stamina jantan yang luar biasa dan gairah yang belum terpuaskan sepenuhnya, sama sekali tidak berniat membiarkan permainan malam ini berakhir begitu saja.Pram menegakkan tubuh tegapnya yang polos tanpa sekat pakaian. Sepasang mata elangnya yang menggelap penuh dominasi menatap liar ke arah lekuk tubuh polos Dara yang terkapar pasrah. Seringai jantan tersungging di bibirnya yang masih menyisakan kebasahan cairan asmara sang gadis. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Pram meraih kedua lengan halus Dara, lalu dengan kekuatan otot lengannya yang kokoh, ia membawa Dara turun dari ranjang."M-Mas Pram... mau ke mana? Kakiku masih lemas banget, shhh..." lirih Dara dengan suara yang teramat sangat serak dan sengau. Tubuhnya yang ting
Dua tubuh polos yang kini saling menempel tanpa sekat di atas ranjang king size itu memancarkan hawa panas yang kian mendidih. Pram, dengan segala keperkasaan dominasi jantannya, sama sekali tidak memberikan ruang bagi Dara untuk sekadar menghela napas panjang. Setelah menanggalkan seluruh pakaian hingga mereka polos sepenuhnya, Pram kembali menurunkan tubuh tegapnya, mengunci pergerakan Dara di bawah kungkungan tubuh bidangnya yang berat dan berotot.Tatapan mata Pram yang menggelap penuh gairah perlahan turun, tertuju pada sepasang buah dada kembar milik Dara yang membusung tegang menantang langit-langit kamar. Gundukan aset berharga milik asisten pribadinya itu terlihat begitu putih bersih, padat, dan sangat ranum dengan puting merah muda yang sudah mengeras kaku akibat rangsangan ciuman pembuka tadi.Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Pram menundukkan wajah tampannya. Ia langsung melumat dada Dara dengan sangat rakus dan penuh kelaparan. Mulut hangat Pram menyergap salah s
Ia terpana, matanya melotot meneliti setiap inci dari mercusuar Pram yang sangat panjang, besar, dan memiliki urat-urat kokoh."Ya Tuhan... Mas Pram..." bisik Bunga dengan nada tidak percaya. "Punya Mas... kok bisa kayak gini? Ini mah bukan meriam lagi, ini Menara Eiffel! Gede banget, Mas!"Bunga m
Pram menarik napas panjang saat menekan tombol kirim. Pikirannya melayang kembali pada momen di dalam mobil tadi, saat resleting celananya terbuka dan mercusuarnya yang tegang sempurna disambut oleh pandangan lapar gadis itu.Tidak butuh waktu lama bagi Bunga untuk membalas. Sebuah emotikon hati be
Sisil menuntun Pram menuruni anak tangga kolam renang secara perlahan. Begitu permukaan air yang dingin menyentuh kulit mereka, Sisil tiba-tiba sedikit tersentak. Tubuhnya bergetar, dan dengan gerakan yang sangat alami, ia langsung merapat dan memeluk tubuh hangat Pram di dalam air yang setinggi d
"Eh, anu… nggak apa-apa, Pak. Ini... ini tiba-tiba perut saya melilit, kayaknya salah makan tadi siang," bohong Bunga sambil menggigit bibir bawahnya, menahan getaran hebat yang sedang mengobrak-abrik pusat hulu ledaknya.Bunga cepat-cepat menyelesaikan coretan terakhir di kertasnya, lalu berpamita