Share

384. Rentetan Tugas

Penulis: Leva Lorich
last update Tanggal publikasi: 2026-04-29 22:38:49

Pagi yang ditunggu pun tiba. Udara masih terasa dingin dan embun masih menempel di dedaunan saat Pram bersiap-siap.

Kali ini, ia tidak membawa mobil Mini Cooper-nya agar tidak mencolok dan memancing kecurigaan keluarga Bondan.

Ia lebih memilih naik ojek motor menuju kawasan rumah megah milik Sisil yang kini telah berpindah tangan secara paksa itu.

Sesampainya di sana, Pram tidak langsung masuk ke gerbang utama.

Ia justru masuk ke rumah kecilnya dulu yang berada tepat di sebelah rumah megah i
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   389. Belum Mau Pulang

    "Ohhhh, Prammm... gedenya kebangetan! Masukin sekarang, aku udah banjir banget ini!" erang Sinar sembari memandu ujung pedang pusaka Pram menuju mulut lorong labirin miliknya yang sudah sangat licin.Sekali lesakan kuat dari Pram membuat seluruh batang senapan runduk itu menghujam masuk hingga ke dasar lembah curam Sinar. Mobil bergoyang pelan akibat momentum tersebut."Ohhhhhh... ahhhh... pas banget! Gila, kamu hebat banget, Pram!" teriak Sinar tertahan sembari mencengkeram jok mobil hingga kukunya membekas di kulit sintetis itu.Pram mulai menghentak dengan ritme yang cepat dan kasar, sesuai dengan permintaan Sinar yang liar. Suara pertemuan kulit paha mereka terdengar nyaring di dalam mobil yang kedap suara itu. Sinar terus mendesah kencang, kakinya melilit pinggang Pram agar setiap dorongan terasa lebih mentok ke dalam relungnya."Hajar terus, Pram! Jangan kasih ampun! Ahhhh... aku mau keluar... aku mau keluar!"Sinar mencapai puncaknya dengan tubuh yang mengejang kaku, kawah g

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   388. Tak Bisa Menahan Diri

    Tak lama kemudian Sinar terlihat keluar dari pintu restoran.Sinar segera masuk ke dalam mobil dengan gerakan yang sangat lincah.Gaun merah ketatnya semakin terangkat, menyingkap paha mulusnya yang jenjang hingga hampir memperlihatkan pangkal paha. Aroma saus truffle dan anggur putih sisa makan siangnya menyebar dari bibir tipisnya yang kini dipulas lipstik merah menyala. Sinar menyandarkan tubuhnya, membiarkan sepasang semangka miliknya yang ranum membusung ke depan, menekan kain gaun itu hingga tekstur puncaknya terlihat samar.Pram segera menyalakan mesin mobil. Ia merasa bisa menebak dengan sangat akurat ke mana Sinar akan mengajaknya pergi setelah ini. Pola perilaku Sinar benar-benar seperti salinan dari Cindy, seolah-olah mereka memiliki buku panduan yang sama dalam menghabiskan hari."Pram, sekarang aku mau—""Ke panti pijat," potong Pram cepat sembari memutar setir, wajahnya nampak tenang namun matanya menatap lurus ke depan dengan penuh arti.Sinar ternganga kaget, matan

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   387. Masih Wajar

    Namun, ada satu hal yang membedakannya dengan pengalaman pahit bersama Cindy. Sebelum turun tadi, Sinar sudah memberinya beberapa lembar uang ratusan ribu."Nih, buat kamu makan siang yang enak. Cari kafe di sekitar sini aja, jangan makan di pinggir jalan, nanti perutmu sakit terus nggak ada yang bisa nyetirin aku pulang," ucap Sinar tadi dengan nada yang terdengar cukup perhatian meski tetap terasa memerintah.Sangat beda dengan Cindy yang dulu membiarkannya kelaparan hingga sore hari tanpa uang sepeser pun. Pram mulai menganalisa situasi itu dalam diam. 'Sepertinya Sinar nggak sejahat yang aku bayangkan sebelumnya jika dibandingkan dengan anggota keluarga Bondan yang lain,' guman Pram.'Apa dia beneran nggak tahu ya kalau ibunya yang kemungkinan besar meracun Bu Sisil sampai lumpuh? Atau jangan-jangan... Bu Daniah juga bukan pelakunya? Siapa sebenernya dalang di balik semua kekacauan ini?' Pram kembali berkata dalam hati.Otaknya mulai bekerja keras menyusun kepingan teka-teki yan

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   386. Ada Kemiripan

    "Eh, beneran enak lho ini? Gurihnya pas, daging sapinya juga empuk banget," Sinar melotot kaget, ia segera menyuap fuyunghai yang nampak garing di luar namun lembut di dalam."Iya, kamu pinter masak, Pram. Bumbunya meresap sampai ke dalam. Aku suka tekstur kwetiaunya," puji Bondan sembari mengangguk-angguk puas. Pram hanya berdiri diam di sudut ruangan dengan posisi tangan di depan, menunjukkan sikap hormat meski hatinya bergejolak melihat mereka menikmati hasil jerih payahnya di atas penderitaan Sisil.Daniah dan Andri, yang sejak awal memang kurang menyukai kehadiran Pram karena dianggap sebagai sisa-sisa 'orangnya Sisil', hanya berkata singkat tanpa ekspresi. "Lumayanlah. Setidaknya nggak bikin eneg."Mereka makan dengan lahap, menghabiskan hampir seluruh hidangan yang disajikan Pram. Begitu selesai, Bondan, Daniah, dan Andri segera beranjak dan naik ke lantai atas untuk melanjutkan urusan mereka, menyisakan Sinar yang masih duduk santai sembari meminum jus jeruknya.Sinar menata

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   385. Memasak Dulu

    Sinar tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat genit di telinga Pram. "Kamu ini ya, formal banget manggil 'Ibu'. Panggil Sinar aja kayak kemarin kenapa sih? Kan umur kita nggak beda jauh. Lagian, aku lebih suka kalau hubungan kita itu... lebih akrab."Sinar mulai memainkan ujung rambutnya, matanya menatap tajam ke arah Pram, seolah sedang menilai kekuatan di balik pakaian pelayan pria itu. Ia nampak sangat menikmati kecanggungan Pram."Tugas pertama kamu pagi ini gampang kok. Kamu cuma perlu memastikan aku merasa nyaman di rumah ini," bisik Sinar sembari menatap dalam ke arah mata Pram, senyum nakalnya nampak semakin lebar.Pram menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu betul arah pembicaraan itu. "Maksud kamu... kenyamanan rumah ini secara keseluruhan?""Nggak usah pura-pura polos, Pram. Kamu tahu persis apa yang aku mau," jawab Sinar sembari berdiri dan melangkah mendekati Pram, hingga jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa senti saja.Pram merasakan panas tubuh Sina

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   384. Rentetan Tugas

    Pagi yang ditunggu pun tiba. Udara masih terasa dingin dan embun masih menempel di dedaunan saat Pram bersiap-siap. Kali ini, ia tidak membawa mobil Mini Cooper-nya agar tidak mencolok dan memancing kecurigaan keluarga Bondan. Ia lebih memilih naik ojek motor menuju kawasan rumah megah milik Sisil yang kini telah berpindah tangan secara paksa itu.Sesampainya di sana, Pram tidak langsung masuk ke gerbang utama. Ia justru masuk ke rumah kecilnya dulu yang berada tepat di sebelah rumah megah itu. Rumah sederhana yang selama ini menjadi tempat tinggalnya. Di sana, ia mengeluarkan motor matik tuanya yang sudah agak berdebu. Dengan motor itulah ia meluncur pelan menuju gerbang rumah megah Sisil.Pram memarkirkan motornya di area parkir samping. Ia menarik napas dalam, merapikan sejenak pakaiannya, lalu melangkah menuju pintu samping."Udah dateng kamu, Pram?! Baguslah, setidaknya kamu nggak bikin kami nunggu lama," sapa Daniah datar. Wanita tua itu sedang berdiri di koridor tengah de

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   72. Gempa Lokal

    "Mas, jangan diangkat dulu! Jangan sampai Ibu tahu kalau aku ada di rumah kamu dalam kondisi kayak gini!" bisik Bunga panik, suaranya gemetar sementara tubuh polosnya masih menempel erat di atas tubuh Pram.Pram menatap layar ponselnya dengan ekspresi frustasi yang luar biasa. Pasalnya, Sisil lagi-

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   76. Keajaiban Dunia

    "Bi, permisi, aku mau bikin jus jeruk. Tari tadi minta dianterin ke atas," ucap Pram sambil melangkah masuk ke area dapur yang harum oleh aroma bumbu masakan.Bi Surti yang sedang merapikan rak piring segera menoleh, lesung pipitnya menyembul saat ia memberikan senyuman manis pada pria itu. "Eh, Ma

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   71. Tak Rela

    “Ada apa, Mas?“ Bunga kaget."Bunga, mending kamu nggak usah pijat aku deh. Tadi siang aku sempat pijat pelipis Intan pas dia demam, eh malah panasnya pindah semua ke aku. Aku nggak mau kamu ketularan juga gara-gara nyentuh aku," ucap Pram dengan suara parau, mencoba memperingatkan gadis lembut di

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   65. Kondisi Terbalik

    "Tunggu dulu, Tan! Jangan buru-buru," ucap Pram sambil menahan bibir Intan dengan telunjuknya, menghentikan gerakan gadis itu yang sudah hampir menempelkan bibir panasnya ke bibir Pram.Intan mengerjap kaget, matanya yang sayu karena demam menatap Pram dengan bingung. "Ada apa sih, Mas? Kok pake di

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status