Malam di Jakarta seharusnya memberikan ketenangan bagi jiwa-jiwa yang lelah, namun bagi Reno Dirgantara, setiap detik yang berlalu dalam kegelapan terasa seperti detak bom waktu yang siap meledakkan seluruh dunianya. Di dalam ruang kerja pribadinya yang kini telah bertransformasi total menjadi pusat komando teknis tingkat tinggi, suasana terasa sangat mencekam. Aroma kopi hitam pahit yang sudah dingin bercampur dengan bau panas yang dihasilkan oleh deretan mesin server super-komputer yang bekerja tanpa henti di sudut ruangan. Reno berdiri mematung di depan jendela kaca besar, menatap gemerlap lampu kota Jakarta dari ketinggian, namun pikirannya berada ribuan kilometer jauhnya, menyisir gang-gang gelap di Zurich, Swiss."Siska, aku tidak mau mendengar kata 'mungkin' atau 'sepertinya'. Di dalam kamus Dirgantara, hanya ada kepastian atau kegagalan total," suara Reno terdengar sangat berat, dalam, dan bergetar karena amarah yang ia tekan sedalam mungkin.Siska, yang ke
Ler mais