LOGIN
“Kamu lagi ngapain? Mainan manuk?”
Dengan mata terbelalak melihat ubin dinding sewarna air kencing, aku mendesah gelisah, mendramatisir kekesalanku.
Tidak bolehkah aku mendapatkan sedikit ketenangan di sini? Toilet kantor satu-satunya tempat aku bisa melaksanakan kegiatanku sebagai seorang jomlo?
“Cuma istirahat pipis bentar, Bondet!”
“Bisakah kamu setidaknya menyiram toilet sebagai bentuk sopan santun?”
Bondan tertawa, dan tawanya bergema di tengah aliran air kencingku saat aku mengacungkan jari tengahku dari atas pintu.
Tanpa melihatnya, aku tahu dia sedang memeriksa bayangannya ubun-ubunnya yang botak di cermin, pantulannya membuat ruangan silau.
“Masih ada toilet cewek kalau kamu kebelet,” jawabku saat aku mendekati garis finish, membayangkan aku mengencingi wajahnya.
“Kau tahu, ada urinoir di sini.” Suaranya bergema.
“Oh. Itu bukannya wastafel mewah?” Aku menguap saat suara kecingku juga bergema di dalam bilik.
Pengganggu.
“Jangan main-main di bawah sana. Aku perlu bertemu langsung denganmu waktu makan siang, jadi pastikan aku tidak melihat resleting celanamu macet.”
Mesum.
Pada goyangan ketiga, aku hampir selesai bermain-main dengan diriku sendiri sambil memeriksa jam tanganku. Aku tidak ingin ketemu Bondan saat aku meninggalkan bilik ini.
Sambil memutar bola mata, aku mengerang—bukan momen terbaikku—dan menghirup udara di antara gigiku, berdoa kepada Tuhan agar tidak ada orang lain yang masuk saat ini.
Dengan desahan keras dan terbata-bata, aku menggelengkan kepala untuk keempat kalinya, menyeringai sendiri.
Aku mendengar Bondan menggumam.
“Jangan lupa. Kantorku tiga puluh menit.”
“Ya, Bondet.”
Karena Bondan Amaroso begitu mudah ditebak. Aku tahu dia menyipitkan matanya ke arahku dari sisi lain pintu.
Karena tidak bisa membalas, dia mendorong tubuhnya yang kekar ke arah pintu.
“Sekarang sudah dua puluh sembilan menit, Gatheli.”
Gatheli.
Ya. Itu aku. Dulu aku cuma Arjuna Galih.
Gatheli julukan yang diberikan kepadaku oleh mantan rekan kerja yang menyebalkan itu bahkan telah melampaui lama kerjanya di sini.
Sekarang, sebagian besar rekan kerjaku dan Bondan, bosku yang terkutuk, memanggilku dengan julukan itu. Meskipun itu adalah versi paling ringan dari julukan yang biasa diberikan wanita kepadaku, mengingat namaku Arjuna.
Tariklah kesimpulan sendiri.
Terkadang aku masih dipanggil Arjuna di tempat kerja. Tapi jarang dan cuma oleh beberapa orang tertentu.
Aku tidak akan pernah lepas dari Gatheli selama bekerja di sini. Aku sudah terbiasa. Aku hanya membenci sumbernya.
Aku juga telah menerima kenyataan bahwa aku adalah badut kantor yang membuat semua orang tertawa. Sebenarnya, aku seharusnya menjadi sosok yang luar biasa atas layanan yang kuberikan karena sebagian besar rekan kerjaku adalah manusia sampah.
Aku telah menciptakan jarak. Menangkis dengan kecerdasan yang telah kupahat dengan cermat. Yang telah matang sempurna selama hampir dua puluh sembilan tahun.
Bisa dibilang, kalau aku minuman keras, aku adalah wiski murni tanpa campuran. Itulah kekuatan superku.
Kalau dipikir-pikir, mungkin aku cari lowongan kerja saja di pabrik minuman keras di Mojokerto. Atau sekalian pabrik miras gelap.
Sambil memasukkan kembali kemejaku ke dalam celana, aku menendang pintu.
Keluar dari bilik toilet sambil mengencangkan ikat pinggang, suara siraman toilet memenuhi ruangan yang sepi, tepat saat Ganendra Syauki masuk.
Aku langsung menyeringai.
Dengan gaya rambut Caesar-nya yang seperti George Clooney tahun 1996, rekan kerja ini adalah favoritku.
Mungkin karena dia kebalikan dariku dan tidak suka nge-prank, sehingga aku bisa mengasah kemampuanku. Bagi mereka yang tidak mengenalnya, Ganendra memiliki kepribadian yang kaku.
Itu kerugian mereka. Karena sifat pendiam dan formalitasnya yang menakutkan, tawanya yang jarang terdengar adalah harta karun.
Dia menerima apa pun yang kulemparkan padanya. Ganendra adalah buku mewarnai untuk ember krayonku. Aku suka membuatnya kaget, tertawa atau ternganga ngeri, yang kebetulan, mirip dengan wajah ibuku yang memandangku setiap hari.
"Hei, Genderuwo. Bercinta semalam?"
Wajahnya memerah lebih cepat daripada pantat semok yang ditampar. Dia menatap dinding dengan ekspresi seolah aku baru saja menendangnya tepat di ulu hati.
“Eh, gak. Uhm … kamu?”
Senyumku tak pudar meskipun aku berbohong.
“Kamu tahu aku. Sepanjang malam. Setiap malam.”
Ganendra pria tampan. Dia mungkin bisa menemukan pasangan kencan kalau dia berusaha.
Aku cukup yakin dia penyuka sesama, sama dugaanku tentang Bondan. Bukan berarti mereka pantas pacaran.
Itu sungguh tak pantas.
Ganendra pantas mendapatkan yang jauh lebih baik. Bukan Bondan Amaroso, bos-ku.
Bondan tulang lunak bajingan sakit jiwa.
Ganendra berusaha untuk tidak menatapku.
Aku suka menggoda keculunannya.
“Kalau kamu sepertiku, aku yakin kamu jagoan di ranjang.”
Ketika matanya menatap tanganku yang sedang mengencangkan ikat pinggangku, aku menggodanya.
“Aku tidak akan menceritakan kejadian semalam untukmu.”
Dia menelan ludah dengan keras, menatapku dengan ternganga.
“Cuma bercanda, Genderuwo. Tenanglah.”
Aku tertawa saat dia menatap langit-langit, masih diam.
“Mungkin aku bisa membantumu mencari pasangan. Tipe seperti apa yang kamu cari?”
“Aku tidak terlalu tertarik untuk berkencan saat ini.”
Setelah selesai mengencangkan ikat pinggangku, aku pergi ke wastafel. Sambil mencuci tangan, aku memperhatikan Ganendra menggaruk lengannya melalui sweter yang belum perlu dipakai untuk cuaca awal Oktober.
“Ayolah. Aku tahu ada seorang penggila ML yang bersembunyi di balik penampilan penurutmu itu.”
Bayangan dirinya diborgol di tempat tidur membuatku tersentak melihat bayanganku sendiri.
Dia mengangkat bahu saat aku melihat senyum mengejutkan di bibirnya di cermin.
“Aku membosankan, Jun. Aku tidak seberuntung kamu, terutama dengan seorang rekan kerja tertentu.”
Sialan, Gan. Jangan sebut nama dia….
POV EvelynAku tertawa agak bingung.“Ramalan cuaca tadi sangat ekstrem.”“Ya.” Dia kembali mengacak-acak rambutnya dengan desahan yang lebih berat.Bingung, aku pergi ke lemari dan mengambil syal merah mudaku.Juna menatapku lagi dengan tatapan tajam, seolah-olah dia ingin aku membaca pikirannya. Mungkin berhubungan dengan esek. Saat aku menyampirkan syal di bahuku, dia mengejutkanku ketika bibirnya menyentuh bibirku dengan gairah tiba-tiba yang hampir membuatku terjatuh. Tangannya menyentuh wajahku, memegang pipiku seolah dia tidak ingin aku menjauh. Aku menciumnya tapi segera mengakhirinya, benci harus bekerja. Aku lebih suka berbaring di tempat tidur bersamanya sepanjang hari, meskipun hanya menonton TV atau mendengarkan musiknya yang aneh.Atau membicarakan apa yang baru saja terjadi.Kami mengerutkan kening, tetapi alih-alih mengatakan lebih banyak, dia berg
POV EvelynSetelah mandi, Juna dan aku menyingkirkan selimut basah ke ujung tempat tidur, dan aku tertidur sambil memeluknya. Tapi kemudian kami menyadari bahwa kami berdua tidur lasak dan akhirnya berbaring di ujung yang berlawanan, terentang.Setidaknya dia punya tempat tidur ukuran queen.Setelah selesai bersiap-siap untuk bekerja, aku turun ke bawah, merapikan gaun hitamku dengan garis-garis putih di sisinya, dan meskipun tidak ada alasan, Juna menungguku di sofa. Juna menatapku, dan mulutnya ternganga. Aku tersenyum."Kamu tidak perlu menunggu.""Aku yang mau, kok. Kau akan bekerja dengan penampilan seperti itu?""Apa yang salah dengan itu?""Kau terlihat … cantik." Dia duduk kembali, dan tangannya menyentuh selangkangannya, menggosok benjolan yang mulai membesar.Aku menyeringai sambil bergegas ke dapur untuk mengambil makan siangku nanti.Ketika aku kembali ke ruang t
Evelyn menunduk dan menciumku. Bibirnya membangkitkan hasratku padanya, dan aku meraih pantatnya untuk mendorongnya mengambilku. Evelyn duduk dan mengibaskan rambutnya ke sisi lain, dan aku tak bisa mengalihkan pandangan saat dia meraih manukku dan memasukkannya ke celah celana dalamnya. Aku melihatnya menembus rambut pirangnya, lalu dia mengangkatnya dan melakukannya lagi, hanya ujungnya saja.“Sayang, seluruh diriku.”“Aku sedang berusaha.” Dia menunduk, dan kami melihat mekinya menggesek ereksiku. Akhirnya dia memasukkanku lebih dalam ke dalam dirinya. Saat aku sepenuhnya masuk, dia menutupi wajahnya dengan tangan dan terisak.Jancuk.Aku duduk dengan siku dan menarik satu tanganku. “Ada apa?”“Semua yang telah kau lalui, bahkan denganku, dan kau mempercayaiku untuk berada di atasmu.”Aku mengusap air matanya di pipinya ketika dia menurunkan tangan satunya.“Aku butuh ini karena
Buljem pirangnya sangat menggoda, dan aku menurunkan celana jins dan pakaian dalamku, dan manukku menegang.Evelyn meliriknya dan menarik napas dengan keras. “Sial, sayang. Apakah itu untukku?”“Itu milikmu, Evelyn.”“Apa yang akan kamu lakukan padaku dengan itu?” Dia menggigit bibirnya, dan kurasa pipinya semakin merah.Aku membuka laci meja samping tempat tidurku untuk mengambil kondom dan meletakkannya di atas. Kemudian aku mendekatkan jarak di antara kami. Meskipun manukku menjadi penghalang, aku menyelipkan tanganku ke rambutnya saat dia menatapku dengan tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Serius, seksi, dan intens.Aku berbisik, “Mari bercinta.”Mata Evelyn berkedip cepat dan menatap seluruh wajahku. Aku menariknya ke tempat tidur, dan dia berbaring di sisi tempat aku biasanya tidur.Bantalku akan berbau seperti rambutnya, dan kalau aku beruntung, tempat tidurku akan berb
Evelyn terkikik, dan ketika aku berhenti di lampu merah di jalan yang relatif sepi, aku terkejut ketika dia meraih gesper sabukku. Karena dia berada di posisi yang aneh di atas konsol, aku membukanya, tidak yakin mengapa karena rumah mamaku tidak jauh.Namun, Evelyn membuka kancingnya dan menarik resletingnya. Meraih ke dalam celana dalamku, dia menarikku keluar dan menggesekkan jarinya di atas batangku, yang sangat menginginkan sentuhan Evelyn. Aku suka merasakan sentuhannya padaku.Ketika lampu hijau menyala, aku meletakkan tanganku di atas tangannya saat dia membelaiku. Bukannya menghentikannya, aku hanya memegang tangannya seperti yang dia lakukan saat kami meraba-raba mekinya bersama di ruang penyimpanan di kantor mamaku. Ya Tuhan, itu sangat seksi.Dia bergerak sedikit lebih cepat, sambil membawa tanganku bersamanya, dan aku mengerang, "Cuk. Kau harus berhenti.""Kenapa begitu?"Evelyn menggeser ibu jarinya di atas ujung batangku yang basah.
Aku menjilat bibirku sambil memperhatikan mobil-mobil yang meninggalkan tempat parkir.“Menurutmu, bisakah kita melakukannya lagi?”“Kamu sudah punya janji kencan Sabtu malam.”“Dia mengirimiku pesan dari liburannya untuk mengatakan dia mendapatkan tiket untuk acara musik. Semoga tidak seperti festival pengupas singkong yang Fiona ajak aku datangi.” Aku tertawa, tapi kemudian wajah Evelyn berubah sedih, dan itu adalah hal paling menyedihkan yang pernah kulihat.“Oh.”“Dia kebanyakan mengirimiku foto pantai, matahari terbenam, dan minuman. Itu saja.”Evelyn mengangguk, tapi matanya tetap kosong.Aku meletakkan tanganku di lengan atasnya. “Aku tidak akan pergi. Aku bahkan tidak mau.”Itu benar. Ketika Evelyn mulai bekerja di bar, aku tahu aku sudah tamat, dan aku membatalkan kencanku dengan Kleo. Itu sebelum aku kabur dan menikah. Aku merasa bersalah sekarang
“Ya.”Aku melempar kunci di meja kopi ketika Evelyn pergi ke kamar mandi di ujung lorong. Melepas sepatu, aku menjatuhkannya di dekat pintu, memikirkan betapa malam ini menjadi bencana bagi Evelyn. Seandainya saja dia tidak ingin berpacaran dengan Ricky wercok itu. Dia bahkan t
Aku mengangkat bahu.“Dia pasti akan menyukainya.” Aku tahu aku juga akan menyukainya.Jancuk.“Aku gak bilang apa-apa karena kamu tidak ingin aku bantu di gym.”“Itu beda.”Aku menghela napas, menyalakan pikap. “Dengar,
“Ya.”Aku melempar kunci di meja kopi ketika Evelyn pergi ke kamar mandi di ujung lorong. Melepas sepatu, aku menjatuhkannya di dekat pintu, memikirkan betapa malam ini menjadi bencana bagi Evelyn. Seandainya saja dia tidak ingin berpacaran dengan Ricky wercok itu. Dia bahkan t
Kamu masih saja tidak mendengarkan sepatah kata pun yang kukatakan. Aku mengenalmu, adikku. Untuk membuktikan aku salah, kamu mengabaikan semua yang kukatakan. Aku akui, kamu mungkin telah melangkah maju beberapa langkah hanya untuk kemudian jatuh terperosok ke belakang







