共有

Jadilah Pria Kencang Kendor
Jadilah Pria Kencang Kendor
作者: Rayhan Rawidh

BAB 1

作者: Rayhan Rawidh
last update 公開日: 2026-01-26 07:09:44

“Kamu lagi ngapain? Mainan manuk?”

Dengan mata terbelalak melihat ubin dinding sewarna air kencing, aku mendesah gelisah, mendramatisir kekesalanku.

Tidak bolehkah aku mendapatkan sedikit ketenangan di sini? Toilet kantor satu-satunya tempat aku bisa melaksanakan kegiatanku sebagai seorang jomlo?

“Cuma istirahat pipis bentar, Bondet!”

“Bisakah kamu setidaknya menyiram toilet sebagai bentuk sopan santun?”

Bondan tertawa, dan tawanya bergema di tengah aliran air kencingku saat aku mengacungkan jari tengahku dari atas pintu.

Tanpa melihatnya, aku tahu dia sedang memeriksa bayangannya ubun-ubunnya yang botak di cermin, pantulannya membuat ruangan silau.

“Masih ada toilet cewek kalau kamu kebelet,” jawabku saat aku mendekati garis finish, membayangkan aku mengencingi wajahnya.

“Kau tahu, ada urinoir di sini.” Suaranya bergema.

“Oh. Itu bukannya wastafel mewah?” Aku menguap saat suara kecingku juga bergema di dalam bilik.

Pengganggu.

“Jangan main-main di bawah sana. Aku perlu bertemu langsung denganmu waktu makan siang, jadi pastikan aku tidak melihat resleting celanamu macet.”

Mesum.

Pada goyangan ketiga, aku hampir selesai bermain-main dengan diriku sendiri sambil memeriksa jam tanganku. Aku tidak ingin ketemu Bondan saat aku meninggalkan bilik ini.

Sambil memutar bola mata, aku mengerang—bukan momen terbaikku—dan menghirup udara di antara gigiku, berdoa kepada Tuhan agar tidak ada orang lain yang masuk saat ini.

Dengan desahan keras dan terbata-bata, aku menggelengkan kepala untuk keempat kalinya, menyeringai sendiri.

Aku mendengar Bondan menggumam.

“Jangan lupa. Kantorku tiga puluh menit.”

“Ya, Bondet.”

Karena Bondan Amaroso begitu mudah ditebak. Aku tahu dia menyipitkan matanya ke arahku dari sisi lain pintu.

Karena tidak bisa membalas, dia mendorong tubuhnya yang kekar ke arah pintu.

“Sekarang sudah dua puluh sembilan menit, Gatheli.”

Gatheli.

Ya. Itu aku. Dulu aku cuma Arjuna Galih.

Gatheli julukan yang diberikan kepadaku oleh mantan rekan kerja yang menyebalkan itu bahkan telah melampaui lama kerjanya di sini.

Sekarang, sebagian besar rekan kerjaku dan Bondan, bosku yang terkutuk, memanggilku dengan julukan itu. Meskipun itu adalah versi paling ringan dari julukan yang biasa diberikan wanita kepadaku, mengingat namaku Arjuna.

Tariklah kesimpulan sendiri.

Terkadang aku masih dipanggil Arjuna di tempat kerja. Tapi jarang dan cuma oleh beberapa orang tertentu.

Aku tidak akan pernah lepas dari Gatheli selama bekerja di sini. Aku sudah terbiasa. Aku hanya membenci sumbernya.

Aku juga telah menerima kenyataan bahwa aku adalah badut kantor yang membuat semua orang tertawa. Sebenarnya, aku seharusnya menjadi sosok yang luar biasa atas layanan yang kuberikan karena sebagian besar rekan kerjaku adalah manusia sampah.

Aku telah menciptakan jarak. Menangkis dengan kecerdasan yang telah kupahat dengan cermat. Yang telah matang sempurna selama hampir dua puluh sembilan tahun.

Bisa dibilang, kalau aku minuman keras, aku adalah wiski murni tanpa campuran. Itulah kekuatan superku.

Kalau dipikir-pikir, mungkin aku cari lowongan kerja saja di pabrik minuman keras di Mojokerto. Atau sekalian pabrik miras gelap.

Sambil memasukkan kembali kemejaku ke dalam celana, aku menendang pintu.

Keluar dari bilik toilet sambil mengencangkan ikat pinggang, suara siraman toilet memenuhi ruangan yang sepi, tepat saat Ganendra Syauki masuk.

 Aku langsung menyeringai.

Dengan gaya rambut Caesar-nya yang seperti George Clooney tahun 1996, rekan kerja ini adalah favoritku.

Mungkin karena dia kebalikan dariku dan tidak suka nge-prank, sehingga aku bisa mengasah kemampuanku. Bagi mereka yang tidak mengenalnya, Ganendra memiliki kepribadian yang kaku.

Itu kerugian mereka. Karena sifat pendiam dan formalitasnya yang menakutkan, tawanya yang jarang terdengar adalah harta karun.

Dia menerima apa pun yang kulemparkan padanya. Ganendra adalah buku mewarnai untuk ember krayonku. Aku suka membuatnya kaget, tertawa atau ternganga ngeri, yang kebetulan, mirip dengan wajah ibuku yang memandangku setiap hari.

"Hei, Genderuwo. Bercinta semalam?"

Wajahnya memerah lebih cepat daripada pantat  semok yang ditampar. Dia menatap dinding dengan ekspresi seolah aku baru saja menendangnya tepat di ulu hati.

“Eh, gak. Uhm  … kamu?”

Senyumku tak pudar meskipun aku berbohong.

“Kamu tahu aku. Sepanjang malam. Setiap malam.”

Ganendra pria tampan. Dia mungkin bisa menemukan pasangan kencan kalau dia berusaha.

Aku cukup yakin dia penyuka sesama, sama dugaanku tentang Bondan. Bukan berarti mereka pantas pacaran.

Itu sungguh tak pantas.

Ganendra pantas mendapatkan yang jauh lebih baik. Bukan Bondan Amaroso, bos-ku.

Bondan tulang lunak bajingan sakit jiwa.

Ganendra berusaha untuk tidak menatapku.

Aku suka menggoda keculunannya.

“Kalau kamu sepertiku, aku yakin kamu jagoan di ranjang.”

Ketika matanya menatap tanganku yang sedang mengencangkan ikat pinggangku, aku menggodanya.

“Aku tidak akan menceritakan kejadian semalam untukmu.”

Dia menelan ludah dengan keras, menatapku dengan ternganga.

“Cuma bercanda, Genderuwo. Tenanglah.”

Aku tertawa saat dia menatap langit-langit, masih diam.

“Mungkin aku bisa membantumu mencari pasangan. Tipe seperti apa yang kamu cari?”

“Aku tidak terlalu tertarik untuk berkencan saat ini.”

Setelah selesai mengencangkan ikat pinggangku, aku pergi ke wastafel. Sambil mencuci tangan, aku memperhatikan Ganendra menggaruk lengannya melalui sweter yang belum perlu dipakai untuk cuaca awal Oktober.

“Ayolah. Aku tahu ada seorang penggila ML yang bersembunyi di balik penampilan penurutmu itu.”

Bayangan dirinya diborgol di tempat tidur membuatku tersentak melihat bayanganku sendiri.

Dia mengangkat bahu saat aku melihat senyum mengejutkan di bibirnya di cermin.

“Aku membosankan, Jun. Aku tidak seberuntung kamu, terutama dengan seorang rekan kerja tertentu.”

Sialan, Gan. Jangan sebut nama dia….

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Jadilah Pria Kencang Kendor   BAB 278

    Tertawa sendiri, aku masuk ke kamar mandi. Aku menyalakan lampu dan melihat tumpukan kotak dan kertas yang diselipkan di sudut wastafel. Tawaku mereda ketika kehamilan menarik perhatianku.Apa-apaan ini? Saat menggeledah semuanya, aku melihat hampir semua tes kehamilan hilang. Aku pergi ke tempat sampah untuk melihat apakah tes yang sudah terpakai ada di sana, tapi tidak ada. Astaga. Dia berbohong padaku. Darahku membeku karena tubuhku bergetar karena amarah dan pengkhianatan.Aku mondar-mandir di kamar mandinya, lupa mengapa aku masuk ke sini. Dia tidak hanya menggunakan satu tes. Dia menggunakan setidaknya tiga. Jika Evelyn mengatakan yang sebenarnya, dia seharusnya tidak membutuhkan ini. Kalau dia hamil, mungkin itu bukan kecelakaan. Vindy pernah melakukannya padaku sebelumnya. Evelyn juga bisa.Aku mengacak-acak rambutku saat cermin memantulkan amarah, kepanikan, dan rasa sakit yang menyelimutiku. Bagaimana dia bisa melakukan ini?Aku memeriksa ponsel

  • Jadilah Pria Kencang Kendor   BAB 277

    Alexis mengangguk sambil meletakkan tangannya di sandaran kursi makan.“Kamu benar-benar tidak memperhatikan. Tapi dia baru di sini kurang dari seminggu ketika semuanya berubah. Kamu menawarkan untuk membantunya dengan nama belakangnya? Gatheli, itu sangat manis.”Aku melirik Bondan, kesal. Dia tidak melewatkan apa pun ketika dia melaporkan kembali kepada Alexis.“Ya, tapi aku tidak ingin membatalkan pernikahan kami karena aku mencintainya. Dia merasakan hal yang sama. Jadi, di sinilah kami.”“Aku geli kamu menikahi Evelyn. Kuharap pernikahan kalian panjang dan bahagia.”“Ya. Aku juga.”“Itu mengejutkan Harum. Kamu adalah saudara iparnya. Itu sangat lucu!”Bondan tertawa. “Aku benar-benar tidak menyangka itu akan terjadi.”Aku berkata, “Dia yang memberitahuku.”“Aku sangat senang kamu telah berbicara dengannya. Dia sedih untuk waktu

  • Jadilah Pria Kencang Kendor   BAB 276

    POV ArjunaMembaca pesan terakhir Evelyn, aku membalas bahwa dia tidak pernah menghalangiku.Mengapa dia berpikir begitu? Dia adalah alasanku untuk semua yang kulakukan sekarang. Sebelum dia, impianku adalah menjadi pengacara. Tetapi bersamanya, aku menemukan dorongan untuk melakukan apa pun, termasuk membantu diriku sendiri seperti yang kujanjikan padanya.Mengetuk pintu, aku menunggu. Aneh rasanya berada di sini tanpa Evelyn. Aku sudah merindukannya. Hal-hal konyol yang keluar dari mulutnya membuatku tersenyum. Kuharap aku juga bisa melakukan itu untuknya.Pintu terbuka, dan Bondan tertawa.“Kau tinggal di sini. Kau tidak perlu mengetuk.”“Aku tidak akan pernah tinggal bersamamu. Dan seseorang bisa saja mengunci pintu.”“Kau belum mencobanya?”“Kenapa juga harus? Aku nggak tinggal di sini.”“Tapi istrimu tinggal di sini.&rdquo

  • Jadilah Pria Kencang Kendor   BAB 275

    POV EvelynPada percobaan ketiga, akhirnya aku mengirim balasan.“Tidak apa-apa. Bersenang-senanglah dengan Bondan, tapi jangan berlebihan.”“Kuharap kau tidak bermaksud sesuatu yang menjijikkan. Aku hanya melakukan itu denganmu.”Aku tertawa sambil air mata kesedihan mengalir di wajahku.“Aku mencintaimu, Juna. Selalu. Selalu. Jangan pernah lupa itu.”“Apakah kau baik-baik saja? Aku juga mencintaimu. Aku bisa menyuruh Bondan pergi dan makan siang bersamamu. Jancuk. Aku akan menghabiskan sepanjang hari di kantor mamaku atau ruang tunggu kalau kau membutuhkanku. Ruang penyimpanan akan lebih baik untuk menghabiskan waktu, tetapi aku tidak akan membiarkanmu melakukan apa pun, kecuali untukku.”Aku terisak-isak di atas telepon dan setir. Memikirkan Juna dan masa depannya, aku menggelengkan kepala sambil mengetik.“Tidak. Bicaralah dengan B

  • Jadilah Pria Kencang Kendor   BAB 274

    POV EvelynAku tertawa, dan tawa itu palsu, sangat menyeramkan, dan melengking karena aku hampir menangis.“Aku baik-baik saja.”“Kamu akan memberitahuku kalau ada yang salah?”Tidak mungkin. Masalah ini bisa mengubah hidupmu sepenuhnya.Aku mengangguk. “Tentu saja.”Aku mengambil jaket dan tasku lalu bergegas keluar dari kantor, melewati Evian, Sapi Betina Dua, dan tiga pasien di ruang tunggu.Aku langsung menuju mobilku dan berkendara ke K24 terdekat, tempat aku membeli sebungkus permen karet, Diet Sprite, dan tiga merek alat tes kehamilan yang berbeda.Aku gemetar hebat. Kasir mungkin mengira aku pecandu narkoba yang sedang sakau dan sekarang dalam masalah serius.Tapi memang benar.Aku hampir jatuh tersungkur saat berlari menaiki tangga ke kamar tidurku. Frenchie ada di tempat tidurku, tapi aku melewatinya dulu dan mengunci diri di kam

  • Jadilah Pria Kencang Kendor   BAB 273

    POV EvelynAku bersyukur bisa tiba di tempat kerja sebelum Evian. Suasananya canggung di dekatnya sejak dia menolak untuk berbicara denganku. Aku masuk ke kantor Dr. Kinasih dan duduk di meja kecilku di sudut. Di situlah aku mengerjakan tugas kampus atau apa pun yang dia butuhkan. Meskipun, aku lebih suka ruang penyimpanan.“Selamat pagi, Evelyn,” sapanya saat dia masuk ke ruangan.Aku tersenyum. “Selamat pagi.”Sambil meletakkan kopinya, dia berkata, “Aku tidak menyangka kamu akan datang sepagi ini. Aku sudah bilang pada suamimu tidak apa-apa kalau kamu datang lebih siang.”“Aku tahu. Dia sudah bilang. Terima kasih. Aku menghargainya, tapi aku di sini.”“Di mana kalian berdua menginap semalam?”“Di Favehotel. Sangat bagus. Ada kolam renangnya, dan Juna melihatku berenang beberapa putaran, lalu kami tidur. Kami mendapat tempat tid

  • Jadilah Pria Kencang Kendor   BAB 59

    “Selamat hari Senin, semuanya.”Sebagian besar orang di ruangan itu bergumam memberikan respons umum kepada pemimpin kami yang agung sementara aku duduk di tempat dudukku yang biasa untuk rapat kantor. Namun demikian, pagi ini Harum duduk di sisi lain Alexis, menolak untuk mela

  • Jadilah Pria Kencang Kendor   BAB 57

    Vindy memegangku, dan aku hampir menendangnya di mulut agar dia berhenti menyentuhku.Aku berbisik, “Aku tidak bisa melakukan ini saat anak itu ada di sini.”Atau selamanya.Dia menyeringai, akhirnya melepaskan tangannya.“Kalau begitu, kita pergi ke

  • Jadilah Pria Kencang Kendor   BAB 56

    Apa-apaan ini?” teriakku mengatasi tangisan bayi di pelukanku, yang tidak senang.Vindy mengambil botol dari lantai dan mendorongnya ke arahku. Tapi bahkan waktu teriakan Tunjung menembus dinding suara, aku mendorongnya kembali.“Bukankah seharusnya kau membersihkannya?

  • Jadilah Pria Kencang Kendor   BAB 55

    Vindy berjalan ke arahku, tapi aku malah mundur ke pintu.“Kamu mau ke mana?”“Aku eh … aku nggak bisa…”“Oh, ya, kamu bisa, Juni.” Dia mengangguk ke arah tempat tidur saat Tunjung menjerit.Vindy menggendongnya seolah-

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status