MasukAir busa sabun cuci tangan yang berputar di wastafel untuk sementara memikatku, jadi aku tidak perlu melihat ekspresi kami berdua.
“Uh … Dia … Kami—”
“Vindy?”
Melihat ke cermin, aku menatap wajah kami berdua dengan tajam.
Sial. Aku yang kena tipu.
Vindy.
Cukup mudah, sih.
Sebenarnya, tidak. Aku punya banyak hal yang ingin kukatakan tentang si brengsek itu.
Aku berharap bisa menyalahkan Vindy atas apa yang kami lakukan, tapi akulah yang mendatanginya.
Itu adalah upaya terakhir untuk melupakan hidupku malam itu. Dan sialnya aku melakukan hal-hal dengan Vindy yang tidak kubanggakan.
Bukan berarti aku tidak akan melakukannya lagi. Hanya saja tidak dengannya. Dan karena kondom yang robek, aku menempel padanya.
Ketika aku mengambil tisu, senyumku menyusut lebih cepat daripada manukku tadi, saat berpura-pura main sendiri untuk menggoda Bondan.
“Tidak akan pernah.”
“Yah, Jun, maksudku, kamu punya anak perempuan dengannya.”
Setelah mengeluarkan pejuh—bukan yang seperti itu—ke tempat sampah, aku mencoba tertawa, tetapi aku masih terkejut dengan komentarnya yang tidak biasa.
“Tidak. Ya. Maksudku, tidak akan pernah lagi, bahkan kalau neraka membeku, mencair, terbakar, dan kemudian membeku lagi. Sialan, Gan. Kamu tahu cara menghancurkan hari seseorang.”
Dia berdehem sambil mendekati urinoir.
“Aku tidak bermaksud begitu. Maaf. Kupikir karena kamu bercanda, aku perlu menanggapinya.”
“Ya Tuhan. Hari yang tepat bagimu untuk mendapatkan lubang buaya.”
Aku kembali ke cermin, menyesuaikan simpul Windsor dasi Storm Trooper-ku sementara dia berkata, “Um, baiklah. Baiklah.”
Melalui cermin, aku melihatnya menatap urinoir, dan aku setengah berharap dia mulai menyanyikan “In Your Eyes” Peter Gabriel.
Aku tidak pernah mengatakan dia tidak aneh.
Aku mendengus.
“Kamu butuh izin ke kamar mandi atau undangan cetak emboss?”
Dia tersenyum tipis.
Aku anggap itu sebagai kemenangan. “Gak. Aku cuma—”
“Aku cuma bercanda.”
Ganendra memalingkan muka dariku, dan aku merasa sangat canggung sekarang karena mengatakan itu.
“Uh, baiklah. Pokoknya, selamat menikmati. Jangan terlalu lama. Ada beberapa bajingan gila yang bekerja di sini.”
Kenapa aku tidak diam saja?
Saat aku pergi, aku mendengar tawanya yang pelan.
Ketika aku sampai di lorong, aku kesal karena sekarang memikirkan Vindy. Kurasa berbicara dengan Ganendra memang ada kekurangannya.
Berbelok ke kiri, aku menjauhi kantorku karena kantorku bersebelahan dengan kantor Bondan. Aku belum siap menghadapi si psikopat berambut acak-acakan itu lagi.
Mendekati pintu yang terbuka, aku mendengar suara yang tak asing. Berhenti di ambang pintu dan bersandar di kusen, aku merapikan dasi dan menyilangkan tangan.
Dia menatapku dengan senyum cerah sambil berbicara. Aku tidak tahu bagaimana dia melakukannya, tetapi aku balas tersenyum padanya. Itu suatu keharusan.
Harum.
Orang favoritku.
Yah, kurasa selain putriku yang masih bayi dan mbakku, Shangrila.
Tapi jujur saja. Putriku baru hadir di kota ini, dan kakakku sudah meninggal.
Aku memperhatikan Harum bergerak saat dia berbicara. Aku selalu memperhatikannya.
Aku dan Harum telah menjadi sahabat sejak aku mulai bekerja sebagai paralegal di firma hukum Ginting, S.H, Amaroso, S.H, Alexis, S.H & Associates lebih dari tiga tahun yang lalu.
Baru tiga tahun? Rasanya aku sudah membusuk di sini selama satu setengah abad.
Harum mengalihkan perhatiannya kembali ke layar komputernya sambil mengangguk. Kuncir rambutnya yang berwarna cokelat madu bergoyang-goyang saat aku menatapnya, dan aku tak bisa menahan diri untuk tidak melakukannya, meskipun aku tidak punya hak.
Saat dia tertawa, pandanganku tertuju pada buah dadanya yang montok, lebih besar dari beberapa bulan yang lalu. Tangan kirinya menyentuh dadanya, dan cincin safir dan berliannya memantulkan cahaya lampu di atas kepala, membutakanku sekaligus mengingatkanku.
Aku tidak memberinya cincin-cincin itu, tetapi aku seolah-olah telah memberikannya mengingat betapa kerasnya aku berusaha agar cincin-cincin itu terpasang di jarinya.
Lupakan Ganendra. Akulah yang sakit jiwa karena cinta.
Setelah menutup telepon mejanya, dia mengalihkan perhatiannya sepenuhnya kepadaku dengan mata hijau cerah dan senyum yang lebih lebar, membuatku memutar bola mata karena kehilangan kendali atas senyumku yang menyebalkan.
“Hei. Mau minum kopi?”
Suara Harum sejenak menyadarkanku dari rutinitas harian yang membosankan. Aku langsung mengalihkan pandangan dari wajahnya yang tidak begitu polos dan beralih ke jendela yang menghadap ke pemakaman di seberang jalan.
Aku menyukai pemakaman, bukan karena mereka menyimpan orang mati, tetapi karena bagaimana kisah mereka berakhir—bahagia, sedih, menegangkan, atau misteri. Semua itu ada di sana.
Dalam catatan yang kurang tragis, itu adalah tempat yang bagus untuk makan siang dan menghindari rekan kerja. Hampir. Tidak membantu ketika aku selalu mengajak seseorang yang menyebalkan itu bersamaku.
Aku menyadari dia masih menunggu jawaban, jadi aku melupakan pemakaman itu, tetapi sekali lagi, aku terpikat oleh senyumnya.
“Ya. Sudah selesai memerah susumu?”
“Gatheli!”
Dia terkikik, dan perhatianku kembali tertuju pada dadanya saat dia tertawa. Sebelum mulutku berbusa, aku menatap karpet abu-abu.
Bagaimana aku bisa bertahan bertahun-tahun di sini?
“Aku sudah memompa ASI pagi ini. Aku hanya perlu menyelesaikan satu hal ini.”
“Apa pun itu. Aku tidak terburu-buru.”
Bondan boleh melompat dari Elitz Tower, bos atau bukan. Dia akan tersesat tanpaku. Aku tidak pernah tepat waktu untuk rapat dengan si brengsek itu, dan kami praktis berbagi kantor yang sama.
Sambil menunggu, aku melihat ke mejanya. Di sebelah komputer Harum ada foto-foto yang mencekikku, tidak pernah membiarkanku melupakan pilihan hidupku yang bodoh.
Setiap kali aku masuk ke ruang kerjanya. Foto di sebelah kiri adalah lelucon kejam yang mengguncang jiwaku seperti kaleng soda.
Foto pernikahannya.
Meskipun suaminya berhutang budi padaku atas apa yang telah kulakukan untuknya, senyum kemenangannya mengejekku, siang dan malam.
Mengalihkan pandanganku, aku melihat foto yang lain. Foto itu membuatku tersenyum balik, seperti yang dilakukan ibunya.
Putri kecil Harum seumuran dengan putriku—sekitar dua bulan. Si kecil yang menggemaskan. Aku tak bisa berhenti menatap foto itu, karena alasan yang bahkan tak bisa kuakui dengan lantang.
“Gatheli, eling!” Harum tersenyum, menarik perhatianku.
Sambil menyeringai untuk menutupi lamunanku, aku menjauh dari siksaan itu, secara otomatis bergerak ke lorong. Namun, ketika dia bergabung denganku, aku memperhatikan betapa sempurnanya lehernya dan bagaimana dadanya membesar di bawah blus hitamnya.
Liz Claiborne. Dia selalu berbelanja di JC Penney Galaxy Mall, jadi gampang ditebak. Sebelum lekuk tubuhnya menjadi baru dan lebih baik, akusudah pernah menyentuh beberapa di antaranya. Aku masih tak bisa melupakan bagaimana rasanya.
Atau bagaimana perasaanku.
POV Evelyn“Ya Tuhan.. Itu Bondan bersama anakku.”Aku mengikuti Dr. Kinasih ke pintu depan, sambil memikirkan panggilan teleponnya tadi.“Evelyn, ini Kinasih Pandu. Aku benci meneleponmu selarut ini, tapi ini Arjuna.”“A-ada apa? Apa yang terjadi?”“Bondan bilang Arjuna mabuk di tempat kerja. Dia membutuhkanmu, Evelyn.”Tidak ada tempat lain yang ingin kutuju.“Maaf, Ricky. Aku harus pergi. Ini Juna.”“Dia gak suka kita keluar bersama?”“Dia mabuk di tempat kerja, jadi mungkin gak.”“Aku akan mengatakannya lagi, Evelyn. Kenapa dia? Aku tahu kau secara teknis menikah dengan pria itu, tapi itu bukan pernikahan. Tapi, kau akan meninggalkan segalanya untuk menyelamatkannya? Apakah kau masih mencintai Arjuna?”“Ini rumit. Aku peduli padanya. Dia mungkin sahabat terbaikku, terlepas
POV Arjuna“Ada lebih banyak hal tentang Ricky daripada yang terlihat di permukaan. Terlepas dari keberaniannya, dia adalah pria kesepian dengan hati yang hancur. Dia hanya mencoba untuk mengatasi—”“Kasihan sekali. Sekarang kau naksir dia? Aku muak dengan bajingan itu yang mencuri—”Jancuk.“Pertama, aku tidak tergila-gila pada Ricky. Aku hanya meluangkan waktu untuk berbicara dengannya sesekali. Kedua, apa yang telah dia curi darimu?”Aku hampir cemberut, “Nggak ada.”“Kalau yang kau maksud Evelyn, kalian berdua memiliki kewajiban hukum satu sama lain, tetapi kalian belum menjalin hubungan yang sebenarnya.”“Sudahlah, Bondan. Kami memiliki kesepakatan. Tapi dua minggu kami hampir berakhir.”“Dua minggu? Pernikahanmu harus berlangsung setahun sebelum berakhir.”Aku memutar bola mataku,
POV ArjunaSetelah empat kali isi ulang, Mojo menghela napas saat aku menuangkan yang kelima.“Kau akhirnya kehilangan akal sehat.”“Apa?” tanyaku, sambil tertawa.Karena apa? Aku tidak tahu. Tertawa adalah hal terakhir yang ingin kulakukan. Yyang pertama adalah menghancurkan diriku sendiri.Candita bersandar di bar. “Apa yang terjadi di sini?”Mojo berkata, “Evelyn punya kencan. Dengan seorang polisi, kudengar.”Senyum balasan Candita membuatku menjatuhkan gelas lagi ke lantai, dan bukan karena tidak sengaja. Aku terkikik karena—Siapa yang peduli kenapa? Meletakkan gelas berisi minumanku, aku menyeret sapu untuk menyapunya. Setidaknya itu membuatku merasa lebih baik.Dia, Mojo, dan para pengunjung bar yang sedang minum memperhatikan aku menyapu.Bodoh.Candita berkata, "Yah, ini menyakitkan dan sangat bisa diperb
POV Arjuna“Aku tahu ini akan berujung pada perpisahan, tapi demi Tuhan, kalau kau menyakitinya, aku akan membuatmu menderita.”“Aku tidak akan. Aku menyukai Evelyn.”Seandainya saja.“Dia bilang kau akan berkencan dengan orang lain selama pernikahan ini?”Aku memaksa diri untuk mengangguk. “Ya. Itulah kesepakatannya.”“Aku akan membenci diriku sendiri karena bertanya, tapi bukankah kalian berpacaran beberapa bulan yang lalu?”Aku menyandarkan punggung bawahku ke meja di belakangku.“Putus nyambung.”“Oh. Mmengejutkan.”Aku meliriknya dan menjaga suaraku tetap tenang. “Kenapa?”Alis gelap Willy terangkat lalu menyatu.“Kalian berdua selalu memiliki hubungan simbiosis yang aneh ini.”“Kami tidak punya hubungan. Kami hanya berteman.&rdquo
POV ArjunaAku berpaling dan bertanya kepada siapa pun apakah mereka perlu isi ulang. Dari sudut mataku, aku melihat Evelyn menghalangi kakaknya berjalan ke arahku. Namun, Polisi Sok Macho menghampiriku, duduk di bangku kosong.“Bagaimana kabarmu, Arjuna?”Aku memaksakan senyum sopan. “Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu, Ricky?”“Aku mendengar hal yang paling lucu.” Mata cokelatnya menyipit, dan aku tahu apa pun yang dia dengar tidak lucu. “Kau menikahi gadis kami, Evelyn.”Aku tertawa sambil mengambil gelas dan mengocoknya bolak-balik. “Ya. Aku memang menikahinya.”“Kenapa?”“Aku yakin dia sudah memberi tahu Willy alasannya.”“Sebenarnya, dia memberi tahu mamanya, yang kemudian memberi tahu Willy. Astaga, mama mertuamu tidak terlalu senang dengan kalian berdua.”Aku mengangguk. &ldq
POV ArjunaR Tersayang.Di mana nasihatmu yang sok bijak? Aku membolak-balik buku harian ini, dan isinya semua omong kosong New Age, Yanni dengan sedikit sentuhan omong kosong Sarah McLaughlin. Kuharap kalaut Kenny G. datang, dia dirantai padamu sebagai hukuman karena mengintipku saat mandi. Mesum.Aku butuh kakakku, tapi aku bahkan tidak bisa mendapatkan kunjungan hantu darimu. Sial. Apa yang kukatakan? Aku tidak butuh dukun pengusir hantu di kamarku. Kau tetaplah di tempatmu. Aku akan tetap di tempatku.Kabar terbaru: Aku sudah menikah. Aku akan menunggu sampai kau berhenti tertawa. Masih menunggu. Bukan, bukan Harum. Kurasa kau sudah tahu itu. Sekarang setelah aku menjauh darinya, aku mengerti apa yang dia bicarakan. Willy Samudrawan adalah belahan jiwanya. Aku menemukan ... Cuk. Kurasa... Aku bertemu seorang wanita. Ya. seorang wanita, nenek sihir. Aku menika
“Apakah kita menang?”“Nggak. Mereka menang dengan selisih delapan poin. Kita hanya mendapat satu poin dari home run-mu. Dan setelah kamu dan Ganendra pergi, tim seperti hancur berantakan. Paling nggak, apakah kamu bersenang-senang meluncur ke home plate?”&l
“Benarkah? Astaga. Ngobrol napah? Ini kok dibiarin berlarut-larut. Berapa kali aku harus mengingatkanmu bahwa dia bukan istrimu saat kami melakukan itu? Dan ya, aku peduli padanya. Teman macam apa yang tidak peduli? Tapi bagaimana dengan waktumu di Semarang? Kudengar kau membagikan manukmu
Ganendra menggelengkan kepalanya, dan dia mencoba untuk duduk, tetapi tidak bisa melakukannya hanya dengan satu tangan dan jatuh kembali. Ricky menyuruhnya untuk tidak bergerak kalau-kalau tangannya patah. Membuktikan bahwa dia adalah seorang yang tangguh, Ganendra mencoba lagi, dan dia berhasil.Se
Mendekat, aku merangkulnya, meletakkan lengan bawahku di dada bagian atasnya, di atas payudaranya, dan daguku di pelipisnya.Topi sialan itu menggores wajahku. Aku mendesah, meniupkan udara panas ke arahnya, dan meskipun hari itu panas, bulu kuduknya merinding. Dia menyesuaikan posisi leng







