“Deandra, tolong ambilkan kotak P3K,” perintah Azalea tanpa menoleh, suaranya lebih tegas dari yang ia kira.Deandra, yang berdiri tidak jauh, langsung segera bergerak. Yang lain saling berpandangan, baru beberapa jam disandera itu kini malah berani memerintah bos mereka, bahkan merawatnya. Namun, tidak ada yang berani bersuara, terutama saat melihat tatapan intens antara Azalea dan pria misterius itu.Pria itu mendengus pelan, sebuah suara yang nyaris seperti tawa sinis. “Kau pikir kau sedang apa?”“Mengobatimu,” jawab Azalea singkat, tidak terpengaruh. “Kau terluka. Apa kau mau lukanya infeksi?”“Aku tidak butuh bantuanmu. Ini hal biasa, aku bisa menanganinya.” katanya, mencoba menarik diri.Azalea mendongak, matanya bertemu dengan matanya. Ada kobaran api di sana, campuran kekhawatiran dan kemarahan. “Kau tidak punya pilihan. Aku tidak akan membiarkanmu mati di depanku setelah… setelah semua ini.” Kalimat terakhirnya berbisik, merujuk pada ciuman yang masih menghantuinya. Wajahnya
最終更新日 : 2026-01-27 続きを読む