Beranda / Mafia / Bayangan di Balik The Obsidian Crown / Bab 2: Di Bawah Kendali Sang Pria Misterius

Share

Bab 2: Di Bawah Kendali Sang Pria Misterius

Penulis: Audreynatasha20
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-27 20:08:10

Ia selalu tahu bagaimana cara membersihkan kekacauan. Galeri itu kini sunyi. Terlalu sunyi. Tubuh di lantai telah ditangani, darah dibersihkan sebisanya, jejak-jejak yang tak perlu ditinggalkan telah dihapus. Tidak sempurna—tak pernah sempurna—namun cukup untuk membuat siapa pun yang datang kemudian ragu akan apa yang sebenarnya terjadi malam ini.

Ia berdiri di dekat jendela besar, memandang ke luar. Kota terbentang dengan lampu-lampu yang berkilau dingin, tak peduli pada satu nyawa yang baru saja padam di balik dinding kaca. Di belakangnya, langkah kaki ringan terdengar.

Gadis itu.

Ia tahu setiap geraknya tanpa perlu menoleh. Napasnya masih tidak teratur. Bahunya kaku. Cara ia berdiri menunjukkan satu hal: ia belum berhenti ketakutan.

Wajar.

Ia baru saja melihat sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Ia tidak berbalik. Tidak sekarang.

“Jangan berdiri terlalu dekat dengan jendela,” katanya tanpa emosi. “Kaca memantulkan siluet.”

Gadis itu menurut. Ia bisa mendengarnya bergerak menjauh. Ia menatap pantulan dirinya sendiri di kaca. Jas hitam, rambut rapi, wajah tenang. Tidak ada satu pun tanda bahwa beberapa menit lalu tangannya baru saja membuat satu nyawa melayang.

Ia telah melakukan ini terlalu lama untuk membiarkan satu kejadian kecil mengganggu semua rencananya. Seharusnya, gadis itu sudah tidak bernapas sekarang. Seharusnya, namanya hanya menjadi satu baris laporan singkat—saksi dieliminasi.

Seharusnya.

Namun pikirannya kembali pada ruangan lain. Sebuah kamar dengan tirai tertutup dan bau obat yang menempel di udara. Dan seorang pria tua yang napasnya tinggal hitungan.

“Dengarkan aku baik-baik.”

Suara itu lemah, tapi tatapannya masih tajam. Terlalu tajam untuk seseorang yang hampir mati.

“Jika aku tidak ada nanti, kamu yang akan mengambil alih semuanya.”

Ia ingat bagaimana ia berdiri di sisi tempat tidur itu, tangan terlipat rapi, ekspresi datar. Tidak ada air mata. Tidak ada kepanikan. Ia tidak dibesarkan untuk itu.

“Ada satu hal,” lanjut suara itu, lebih pelan. “Satu nama.”

Nama itu diucapkan nyaris seperti bisikan.

Azalea Steffani Leandra.

“Lindungi dia.”

Tidak ada penjelasan. Tidak ada alasan. Hanya perintah.

Ia ingat bagaimana alisnya sedikit berkerut—satu-satunya tanda kebingungan yang ia izinkan muncul.

“Dia bukan siapa-siapa,” kata pria tua itu seolah membaca pikirannya. “Cewek biasa.”

Cewek biasa. Kata-kata itu kini terasa… tidak tepat. Ia menutup matanya sesaat, menarik napas dalam-dalam. Ayahnya tidak pernah memberi perintah tanpa alasan, tapi apa alasan yang membuat cewek biasa itu Istimewa? Dan kalimat terakhir itu masih terngiang jelas di kepalanya.

“Jika dia mati, semuanya akan hancur.”

Ia membuka mata. Gadis itu berdiri beberapa langkah di belakangnya. Tangan terlipat di depan dada, seperti seseorang yang mencoba membuat dirinya sekecil mungkin. Ia menoleh sekarang. Tatapan mereka bertemu. Ia melihatnya dengan cara yang sama seperti ia menilai segalanya—tanpa emosi. Postur tubuh. Cara berdiri. Cara matanya bergerak, cepat namun terkontrol. Ketakutan, ya. Tapi tidak panik. Tidak histeris.

Menarik.

“Kamu akan ikut denganku,” katanya.

Nada suaranya tidak mengandung pilihan.

Gadis itu menelan ludah. “Ke mana?”

“Ke tempat yang aman.”

“Bagimu,” jawabnya pelan.

Ia tidak membantah. Ia tidak perlu.

“Apa pun yang kamu pikirkan,” katanya, “tidak akan mengubah apa pun.”

Ia berbalik dan berjalan menuju pintu keluar galeri. Ia tidak menoleh untuk memastikan gadis itu mengikutinya. Ia tahu gadis itu akan menuruti apa maunya. Langkah kaki itu terdengar di belakangnya, ragu namun patuh.

Malam menyambut mereka dengan udara dingin. Sebuah mobil hitam terparkir tak jauh dari pintu belakang. Mesin menyala pelan, seolah sudah menunggu sejak lama.

Ia membuka pintu belakang.

“Masuk.”

Gadis itu berhenti sejenak sebelum menurut. Matanya menatap interior mobil—kulit hitam, bersih, rapi. Terlalu rapi untuk sesuatu yang ternyata sangat berbahaya. Begitu pintu tertutup, ia mengitari mobil dan duduk di sisi lain. Pintu ditutup. Dunia luar teredam.

Keheningan kembali memenuhi mobil itu. Ia memperhatikan pantulan gadis itu di kaca jendela. Cara ia menggenggam tangannya sendiri. Cara napasnya masih belum stabil.

“Kamu akan tinggal di tempat yang aku tentukan,” katanya. “Kamu tidak akan menghubungi siapa pun tanpa izin.”

“Itu… itu seperti penjara,” katanya lirih.

“Tidak,” jawabnya. “Penjara tidak memberimu pilihan untuk tetap hidup.”

Gadis itu terdiam. Ia menyandarkan punggung, menatap lurus ke depan. Mobil mulai bergerak. Ia tidak tahu berapa lama perintah ini akan mengikatnya. Ia tidak tahu apa sebenarnya peran gadis ini dalam semua kekacauan yang perlahan mulai bergerak di balik layar.

Yang ia tahu hanya satu hal: Ia telah melanggar aturannya sendiri malam ini. Dan ia tidak menyukai perasaan itu. Namun selama perintah itu belum selesai, selama gadis itu masih bernapas—ia akan menjaganya tetap hidup. Apa pun risikonya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bayangan di Balik The Obsidian Crown    Bab 8: Identitas Yang Mulai Terungkap

    “Deandra, tolong ambilkan kotak P3K,” perintah Azalea tanpa menoleh, suaranya lebih tegas dari yang ia kira.Deandra, yang berdiri tidak jauh, langsung segera bergerak. Yang lain saling berpandangan, baru beberapa jam disandera itu kini malah berani memerintah bos mereka, bahkan merawatnya. Namun, tidak ada yang berani bersuara, terutama saat melihat tatapan intens antara Azalea dan pria misterius itu.Pria itu mendengus pelan, sebuah suara yang nyaris seperti tawa sinis. “Kau pikir kau sedang apa?”“Mengobatimu,” jawab Azalea singkat, tidak terpengaruh. “Kau terluka. Apa kau mau lukanya infeksi?”“Aku tidak butuh bantuanmu. Ini hal biasa, aku bisa menanganinya.” katanya, mencoba menarik diri.Azalea mendongak, matanya bertemu dengan matanya. Ada kobaran api di sana, campuran kekhawatiran dan kemarahan. “Kau tidak punya pilihan. Aku tidak akan membiarkanmu mati di depanku setelah… setelah semua ini.” Kalimat terakhirnya berbisik, merujuk pada ciuman yang masih menghantuinya. Wajahnya

  • Bayangan di Balik The Obsidian Crown    Bab 7: Perasaan Aneh

    Setelah pria itu pergi, Azalea tetap berdiri di tempatnya beberapa detik lebih lama dari yang ia sadari. Udara di kamar terasa berbeda—lebih hangat, lebih sesak. Bibirnya masih berdenyut halus, seolah mengingatkan bahwa apa yang baru saja terjadi bukan mimpi. Ia akhirnya mundur, duduk kembali di tepi ranjang. Tangannya gemetar saat ia menggenggam ujung selimut. Jantungnya berdetak terlalu cepat, pikirannya kacau. Ia dicium oleh seorang pria asing. Tidak pernah terbayang bahwa ciuman pertamanya akan dicuri oleh seorang pria misterius yang sedang menyanderanya. “Ini salah…Kenapa aku hanya diam tadi, malah memalukan di akhir.” gumamnya lirih, berusaha meyakinkan diri sendiri. Namun tubuhnya mengkhianati pikiran itu. Tidak ada dorongan untuk menangis. Yang ada justru rasa kosong yang aneh—dan sesuatu yang bergetar pelan di dadanya, seperti benang tipis yang baru saja ditarik terlalu keras. Ketukan pelan di pintu memecah lamunannya. Azalea tersentak. “I-ya?” Apakah mungkin itu dirinya

  • Bayangan di Balik The Obsidian Crown    Bab 6: Sentuhan Tak Terduga Sang Pria Misterius

    Azalea masih duduk di tepi ranjang, Ia memeluk lututnya, menunduk. Kepalanya berdenyut terlalu banyak pikiran, terlalu banyak ketakutan yang belum sempat ia cerna. Di antara napas yang tersengal, satu suara tiba-tiba muncul di benaknya. Suara yang begitu dikenalnya. “Kalau hidup menekanmu sampai kau ingin menyerah, jangan mundur, Lea. Bertahan itu juga keberanian.” Axel. Kakaknya selalu berkata begitu setiap kali Azalea merasa hidupnya terlalu berat. Saat ia hampir menyerah, air mata mengalir tanpa ia sadari. Ia tidak tahu di mana kakaknya sekarang. Tidak tahu apakah Axel mencarinya, atau bahkan tahu ia masih hidup. Namun satu hal ia tahu—ia tidak boleh diam saja. Jika ia terus tinggal di kamar ini, terus menunggu, maka ia akan benar-benar akan menghilang. Azalea berdiri, berjalan dengan langkah mantap. Tangannya menyentuh gagang pintu. Ia menarik napas dalam-dalam, mengingat wajah kakaknya, senyum kecil yang selalu muncul meski hidup mereka tidaklah mudah. Aku tidak boleh menyer

  • Bayangan di Balik The Obsidian Crown    Bab 5 : Perdebatan

    Malam turun perlahan di rumah itu, membawa sunyi yang lebih berat dari biasanya. Lucas berdiri sendirian di dekat jendela tinggi. Dari lantai atas, ia bisa melihat halaman yang dijaga ketat—pria-pria bersenjata, pola ronda yang rapi, keamanan tanpa celah. Semuanya sempurna. Namun untuk pertama kalinya, kesempurnaan itu terasa seperti kebohongan. Langkah kaki terdengar pelan di belakangnya. Lucas tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. “Dante,” katanya singkat. Kepala keamanan itu berhenti beberapa langkah dari Lucas. Tidak ada sikap defensif, tidak ada basa-basi. Hanya kewaspadaan yang melekat seperti napas kedua. “Bos,” jawab Dante. Lucas tetap menghadap jendela. “Aku ingin kau pastikan penjagaan wanita itu dua kali lebih ketat dari standar.” Dante mengangguk. “Sudah dilakukan. Tidak ada yang mendekat tanpa izinku.” Keheningan menyelinap di antara mereka. Biasanya, percakapan berhenti sampai di situ. Tapi malam ini, Lucas tidak segera mengakhiri pembicaraan. “Ada satu hal

  • Bayangan di Balik The Obsidian Crown    Bab 4: Sunyi di Ruang Tanpa Kunci

    Setelah menangis berjam-jam Azalea pun tertidur karena lelah, setelah beberapa lama ia tidur ia pun terbangun, menatap ke sekeliling nya. Ia berharap semua ini hanyalah mimpi, bukan kenyataan. Ia berharap kakaknya akan muncul di balik pintu mengantarkan sarapan favorit nya sebelum pergi bertugas, tapi semua nihil. Ia tidak berada di sini atas kehendaknya sendiri. Tapi atas kehendak si pria misterius itu, sebenarnya siapa pria misterius itu? Pintu kamar itu tertutup. Ia bangun dari tempat tidur, melangkah ke arah pintu, tangan nya memutar gagang pintu, mencoba mengintip keluar. Huftt…sepi sekali. Sebenarnya kemana semua orang pergi? Dan tempat apakah ini, cukup bagus jika aku menyebutnya istana. Istana kan indah, ini kenapa aura nya seram sekali dan udaranya mencekat, ucap Azalea dalam hati. Memori itu kembali berputar. “…Keluar.” Satu kata itu cukup membuat bulu kuduknya berdiri. Suara itu rendah tapi cukup untuk membuat orang yang mendengarnya ngeri. Jantungnya berdetak keras,

  • Bayangan di Balik The Obsidian Crown    Bab 3: Bayangan yang Terlalu Dekat

    Pria itu duduk di ruang tamu, tubuhnya tenggelam dalam sofa kulit berwarna gelap. Ia mengingat saat suatu sore ia datang ke galeri dengan penyamaran. Itu pertama kalinya ia melihat gadis itu, Azalea sedang membantu seorang wanita tua yang tampak kebingungan mencari jalan keluar. Ketika tas wanita itu terjatuh dan barang-barangnya ikut berserakan di lantai, Azalea tanpa ragu berlutut, mengumpulkannya satu per satu dengan senyum yang tulus—senyum yang tidak dibuat-buat, tidak mengharapkan imbalan apa pun. Ia bahkan mengantar wanita itu hingga ke luar, memastikan taksi berhenti dengan aman sebelum kembali ke dalam galeri. Gadis itu sangat berbeda dengan yang lainnya, benar-benar terlihat tulus, ucap priayang dari tadi mematung. Saat Azalea berbalik, pandangan mereka bertemu. Dengan cepat, pria itu menundukkan kepala, berpura-pura memeriksa kameranya. “Permisi, apakah Anda membutuhkan bantuan?” tanya Azalea, suaranya lembut, tidak mengandung kecurigaan. Ia mengangkat kepala perlahan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status