Masuk
Azalea Steffani Leandra menahan napasnya. Ia meringkuk di balik bingkai kanvas kosong yang menjulang tinggi—kanvas itu kini menjadi satu-satunya perlindungan yang ia miliki. Tubuhnya kaku, seolah menyatu dengan lantai dingin galeri.
Di hadapannya, seorang pria berdiri tenang. Jas hitamnya rapi. Tidak ada noda darah di sana, seakan kekerasan yang baru saja terjadi bukan urusannya. Di lantai, seorang pria tergeletak tak bergerak. Darah mengalir perlahan, merusak warna putih pada ubin galeri, menggantikan aroma cat minyak dengan bau amis yang membuat perut Azalea mual. Tangannya menekan mulut, menahan napas yang nyaris pecah. Jangan bergerak. Jangan bersuara. Keheningan terasa berat—menekan dada, mengunci tenggorokan. “…Keluar.” Satu kata itu cukup membuat bulu kuduknya berdiri. Suara itu rendah tapi cukup untuk membuat orang yang mendengarnya ngeri. Jantungnya berdetak keras, tidak seperti biasanya. Ia tidak bergerak. “Aku tahu kamu di sana.” Nada suaranya tetap sama—tenang, dingin, tanpa emosi. Langkah kaki terdengar pelan, terukur, mendekat. “Di balik kanvas besar itu,” lanjutnya. “Bau manusia berbeda dengan bau darah.” Azalea menelan ludah. Tangannya mencengkeram bingkai kayu hingga kukunya memutih. Tidak ada tempat lari. Tidak ada jalan keluar. “A-aku…” suaranya pecah. “Aku tidak melihat apa-apa. Aku bersumpah.” Langkah itu berhenti tepat di hadapan kanvas. “Kalimat itu,” ucap pria itu pelan, “biasanya diucapkan orang yang melihat terlalu banyak.” Kanvas ditarik dengan satu gerakan kasar. Azalea tersentak. Ia menahan jeritan yang hampir lolos, tubuhnya refleks mundur hingga punggungnya menabrak dinding. “Tolong,” katanya cepat, suaranya bergetar. “Aku tidak akan bicara.” Tatapan pria itu jatuh padanya. Wajahnya tampan, rapi, nyaris tak bercela. Namun matanya kosong—gelap dan tenang, seperti permukaan laut sebelum badai. Tidak ada kemarahan. Tidak ada keraguan. Hanya penilaian. “Namamu.” Bukan pertanyaan melainkan perintah. “A-Azalea,” jawabnya lirih. “Azalea Steffani Leandra.” Untuk sesaat, pria itu terdiam. Tatapannya tidak berubah, namun ada jeda—terlalu singkat untuk disebut reaksi, terlalu lama untuk diabaikan. Ia mengamatinya dari ujung rambut hingga kaki, seperti seseorang yang sedang menimbang sebuah keputusan sederhana. “Kamu bekerja di sini,” katanya. Azalea mengangguk cepat. “Iya. Aku asisten kurator. Aku lembur.” “Kesalahan,” ucapnya singkat. Air mata mulai menggenang di mata Azalea. “Aku hanya ingin pulang. Tolong biarkan aku pulang.” Pria itu melangkah mendekat satu langkah. Azalea refleks menahan napas. “Lihat aku.” Nada itu tidak keras, tapi mustahil ditolak. Dengan ragu, Azalea mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu. “Kamu tidak berteriak,” katanya. “Tidak pingsan.” “Aku takut,” Azalea berbisik. “Tapi aku tidak bodoh.” Tidak ada respons. Tidak ada senyum. Tidak ada perubahan ekspresi. Hanya keheningan yang membuat dadanya semakin sesak. “Apakah…” Azalea menelan ludah. “Apakah kamu akan membunuhku?” Pria itu menatapnya lama. “Jika aku mau,” katanya akhirnya, “kamu sudah mati.” Kalimat itu diucapkan tanpa nada ancaman. Tanpa emosi. Seolah itu hanya fakta sederhana. Azalea memejamkan mata sejenak. “Kalau begitu… kenapa aku masih hidup?” Ada jeda. Pria itu mendekat hingga jarak mereka nyaris tak ada. Suaranya turun, dingin dan rendah. “Karena kamu harus tetap hidup.” Azalea membuka mata dengan cepat. “Harus?” “Kamu melihat sesuatu,” lanjutnya. “Dan aku tidak membiarkan apa yang kamu lihat tersebar.” “Ini tidak adil,” katanya lirih. “Aku tidak meminta semua ini.” “Tak ada yang meminta,” jawabnya. “Itu sebabnya kamu berada di sini.” Ia berdiri kembali dan mengulurkan tangan. “Bangun.” Azalea menatap tangan itu ragu. “Aku… bebas?” Jawabannya datang tanpa ragu. “Tidak.” Tangannya gemetar saat akhirnya menerima uluran itu. “Lalu… apa aku sekarang?” Pria itu menariknya berdiri, lalu menunduk sedikit hingga wajah mereka sejajar. “Kamu,” katanya pelan, “akan berada di bawah pengawasanku.” Ia melepaskan tangan Azalea dan berbalik. “Dan selama itu,” lanjutnya tanpa menoleh, “kamu hidup.”“Deandra, tolong ambilkan kotak P3K,” perintah Azalea tanpa menoleh, suaranya lebih tegas dari yang ia kira.Deandra, yang berdiri tidak jauh, langsung segera bergerak. Yang lain saling berpandangan, baru beberapa jam disandera itu kini malah berani memerintah bos mereka, bahkan merawatnya. Namun, tidak ada yang berani bersuara, terutama saat melihat tatapan intens antara Azalea dan pria misterius itu.Pria itu mendengus pelan, sebuah suara yang nyaris seperti tawa sinis. “Kau pikir kau sedang apa?”“Mengobatimu,” jawab Azalea singkat, tidak terpengaruh. “Kau terluka. Apa kau mau lukanya infeksi?”“Aku tidak butuh bantuanmu. Ini hal biasa, aku bisa menanganinya.” katanya, mencoba menarik diri.Azalea mendongak, matanya bertemu dengan matanya. Ada kobaran api di sana, campuran kekhawatiran dan kemarahan. “Kau tidak punya pilihan. Aku tidak akan membiarkanmu mati di depanku setelah… setelah semua ini.” Kalimat terakhirnya berbisik, merujuk pada ciuman yang masih menghantuinya. Wajahnya
Setelah pria itu pergi, Azalea tetap berdiri di tempatnya beberapa detik lebih lama dari yang ia sadari. Udara di kamar terasa berbeda—lebih hangat, lebih sesak. Bibirnya masih berdenyut halus, seolah mengingatkan bahwa apa yang baru saja terjadi bukan mimpi. Ia akhirnya mundur, duduk kembali di tepi ranjang. Tangannya gemetar saat ia menggenggam ujung selimut. Jantungnya berdetak terlalu cepat, pikirannya kacau. Ia dicium oleh seorang pria asing. Tidak pernah terbayang bahwa ciuman pertamanya akan dicuri oleh seorang pria misterius yang sedang menyanderanya. “Ini salah…Kenapa aku hanya diam tadi, malah memalukan di akhir.” gumamnya lirih, berusaha meyakinkan diri sendiri. Namun tubuhnya mengkhianati pikiran itu. Tidak ada dorongan untuk menangis. Yang ada justru rasa kosong yang aneh—dan sesuatu yang bergetar pelan di dadanya, seperti benang tipis yang baru saja ditarik terlalu keras. Ketukan pelan di pintu memecah lamunannya. Azalea tersentak. “I-ya?” Apakah mungkin itu dirinya
Azalea masih duduk di tepi ranjang, Ia memeluk lututnya, menunduk. Kepalanya berdenyut terlalu banyak pikiran, terlalu banyak ketakutan yang belum sempat ia cerna. Di antara napas yang tersengal, satu suara tiba-tiba muncul di benaknya. Suara yang begitu dikenalnya. “Kalau hidup menekanmu sampai kau ingin menyerah, jangan mundur, Lea. Bertahan itu juga keberanian.” Axel. Kakaknya selalu berkata begitu setiap kali Azalea merasa hidupnya terlalu berat. Saat ia hampir menyerah, air mata mengalir tanpa ia sadari. Ia tidak tahu di mana kakaknya sekarang. Tidak tahu apakah Axel mencarinya, atau bahkan tahu ia masih hidup. Namun satu hal ia tahu—ia tidak boleh diam saja. Jika ia terus tinggal di kamar ini, terus menunggu, maka ia akan benar-benar akan menghilang. Azalea berdiri, berjalan dengan langkah mantap. Tangannya menyentuh gagang pintu. Ia menarik napas dalam-dalam, mengingat wajah kakaknya, senyum kecil yang selalu muncul meski hidup mereka tidaklah mudah. Aku tidak boleh menyer
Malam turun perlahan di rumah itu, membawa sunyi yang lebih berat dari biasanya. Lucas berdiri sendirian di dekat jendela tinggi. Dari lantai atas, ia bisa melihat halaman yang dijaga ketat—pria-pria bersenjata, pola ronda yang rapi, keamanan tanpa celah. Semuanya sempurna. Namun untuk pertama kalinya, kesempurnaan itu terasa seperti kebohongan. Langkah kaki terdengar pelan di belakangnya. Lucas tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. “Dante,” katanya singkat. Kepala keamanan itu berhenti beberapa langkah dari Lucas. Tidak ada sikap defensif, tidak ada basa-basi. Hanya kewaspadaan yang melekat seperti napas kedua. “Bos,” jawab Dante. Lucas tetap menghadap jendela. “Aku ingin kau pastikan penjagaan wanita itu dua kali lebih ketat dari standar.” Dante mengangguk. “Sudah dilakukan. Tidak ada yang mendekat tanpa izinku.” Keheningan menyelinap di antara mereka. Biasanya, percakapan berhenti sampai di situ. Tapi malam ini, Lucas tidak segera mengakhiri pembicaraan. “Ada satu hal
Setelah menangis berjam-jam Azalea pun tertidur karena lelah, setelah beberapa lama ia tidur ia pun terbangun, menatap ke sekeliling nya. Ia berharap semua ini hanyalah mimpi, bukan kenyataan. Ia berharap kakaknya akan muncul di balik pintu mengantarkan sarapan favorit nya sebelum pergi bertugas, tapi semua nihil. Ia tidak berada di sini atas kehendaknya sendiri. Tapi atas kehendak si pria misterius itu, sebenarnya siapa pria misterius itu? Pintu kamar itu tertutup. Ia bangun dari tempat tidur, melangkah ke arah pintu, tangan nya memutar gagang pintu, mencoba mengintip keluar. Huftt…sepi sekali. Sebenarnya kemana semua orang pergi? Dan tempat apakah ini, cukup bagus jika aku menyebutnya istana. Istana kan indah, ini kenapa aura nya seram sekali dan udaranya mencekat, ucap Azalea dalam hati. Memori itu kembali berputar. “…Keluar.” Satu kata itu cukup membuat bulu kuduknya berdiri. Suara itu rendah tapi cukup untuk membuat orang yang mendengarnya ngeri. Jantungnya berdetak keras,
Pria itu duduk di ruang tamu, tubuhnya tenggelam dalam sofa kulit berwarna gelap. Ia mengingat saat suatu sore ia datang ke galeri dengan penyamaran. Itu pertama kalinya ia melihat gadis itu, Azalea sedang membantu seorang wanita tua yang tampak kebingungan mencari jalan keluar. Ketika tas wanita itu terjatuh dan barang-barangnya ikut berserakan di lantai, Azalea tanpa ragu berlutut, mengumpulkannya satu per satu dengan senyum yang tulus—senyum yang tidak dibuat-buat, tidak mengharapkan imbalan apa pun. Ia bahkan mengantar wanita itu hingga ke luar, memastikan taksi berhenti dengan aman sebelum kembali ke dalam galeri. Gadis itu sangat berbeda dengan yang lainnya, benar-benar terlihat tulus, ucap priayang dari tadi mematung. Saat Azalea berbalik, pandangan mereka bertemu. Dengan cepat, pria itu menundukkan kepala, berpura-pura memeriksa kameranya. “Permisi, apakah Anda membutuhkan bantuan?” tanya Azalea, suaranya lembut, tidak mengandung kecurigaan. Ia mengangkat kepala perlahan







