Beranda / Mafia / Bayangan di Balik The Obsidian Crown / Bab 6: Sentuhan Tak Terduga Sang Pria Misterius

Share

Bab 6: Sentuhan Tak Terduga Sang Pria Misterius

Penulis: Audreynatasha20
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-27 20:13:05

Azalea masih duduk di tepi ranjang, Ia memeluk lututnya, menunduk. Kepalanya berdenyut terlalu banyak pikiran, terlalu banyak ketakutan yang belum sempat ia cerna. Di antara napas yang tersengal, satu suara tiba-tiba muncul di benaknya. Suara yang begitu dikenalnya.

“Kalau hidup menekanmu sampai kau ingin menyerah, jangan mundur, Lea. Bertahan itu juga keberanian.”

Axel.

Kakaknya selalu berkata begitu setiap kali Azalea merasa hidupnya terlalu berat. Saat ia hampir menyerah, air mata mengalir tanpa ia sadari. Ia tidak tahu di mana kakaknya sekarang. Tidak tahu apakah Axel mencarinya, atau bahkan tahu ia masih hidup. Namun satu hal ia tahu—ia tidak boleh diam saja. Jika ia terus tinggal di kamar ini, terus menunggu, maka ia akan benar-benar akan menghilang.

Azalea berdiri, berjalan dengan langkah mantap. Tangannya menyentuh gagang pintu. Ia menarik napas dalam-dalam, mengingat wajah kakaknya, senyum kecil yang selalu muncul meski hidup mereka tidaklah mudah.

Aku tidak boleh menyerah. Kakak pasti sedang mencariku sekarang.

Ia membuka pintu—dan hampir menabrak sosok tinggi yang berdiri tepat di hadapannya.

Azalea terkesiap.

Pria misterius itu.

Pria itu berdiri diam, seolah memang sudah berada di sana sejak lama. Wajahnya tenang, dingin, tapi matanya langsung mengunci gerak Azalea. Dalam sepersekian detik, naluri bertahan hidup Azalea mengambil alih.

Ini kesempatannya. Dengan gerakan cepat, Azalea mencoba menerobos ke sampingnya. “Lepaskan aku!” serunya, suaranya pecah.

Namun Lucas bergerak lebih cepat.

Tangannya menangkap pergelangan Azalea, menghentikannya dengan satu tarikan kuat. Azalea meronta, memukul dadanya dengan putus asa, air mata kembali jatuh tanpa bisa ditahan.

“Aku mau pulang,” isaknya. “Aku mau ketemu dengan kakakku.”

Lucas terdiam sesaat.

Nama itu—kakak—menggores sesuatu di dadanya. Namun cengkeramannya tidak mengendur. Ia menarik Azalea lebih dekat, mencegahnya melukai diri sendiri karena panik.

“Tenang,” ucapnya rendah. Bukan perintah. Itu terdengar seperti permohonan.

Azalea berhenti meronta, terkejut oleh nada itu. Tubuh mereka kini terlalu dekat. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Lucas, napasnya, detak jantung pria itu yang stabil—bertolak belakang dengan jantungnya sendiri yang berdegup liar.

“Kenapa kau melakukan ini padaku?” Azalea berbisik lirih. “Apa salahku? Aku mohon aku ingin pulang”

Pria itu menatapnya lama. Untuk pertama kalinya, ekspresinya tidak sedingin sebelumnya .

“Kau tidak salah apa-apa,” jawabnya pelan.

Tangannya terangkat, menyentuh pipi Azalea dengan ibu jarinya. Sentuhan itu membuat Azalea menegang. Ada kelembutan yang tidak ia duga dari pria ini.

“Aku hanya… tidak bisa membiarkanmu pergi,” lanjut Lucas. “Bukan sekarang.”

“Kau tidak berhak menahanku, aku punya keluarga yang menantiku di rumah” Azalea membalas, meski suaranya melemah.

Lucas mendekat sedikit, jarak di antara mereka nyaris tak ada. Tatapannya turun ke bibir Azalea, lalu kembali ke matanya.

“Mungkin tidak, aku tahu itu” katanya rendah. “Tapi aku akan tetap melakukannya.”

Dan sebelum Azalea sempat berkata apa pun, Lucas menunduk. Bibir mereka bertemu. Azalea membeku, ia tidak bisa mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ini bukan ciuman yang lembut sejak awal—ada dorongan, ada ketegangan yang lama terpendam. Namun tidak kasar. Tidak menyakitkan. Justru membingungkan. Dunia seakan berhenti sesaat.

Perlahan, ciuman itu melunak. Seolah Lucas sendiri tersadar akan apa yang ia lakukan—dan tetap memilih untuk tidak berhenti. Azalea tidak langsung membalas. Otaknya berteriak, memperingatkan bahaya. Namun kenangan akan kata-kata kakaknya, rasa aman aneh yang ia rasakan saat berada dekat pria ini, semuanya bercampur jadi satu. Tanpa sadar, tangannya mencengkeram jas pria itu. Dan saat itu juga pria itu berhenti. Ia menarik wajahnya sedikit menjauh, menatap Azalea yang terengah, pipinya memerah, matanya berkaca-kaca.

“Maaf,” ucapnya serak. “Aku seharusnya tidak—”

Namun ia tetap berada di sana. Tidak menjauh. Tidak melepaskan.

“Aku tidak akan menyakitimu,” katanya pelan. “Aku bersumpah.”

Azalea menatapnya, hatinya kacau. Ia masih takut. Masih ingin pergi. Tapi kini ada sesuatu yang lain—sesuatu yang berbahaya, namun hangat. Ia tidak tahu seakarang ia bersama siapa? Apakah pria ini berbahaya atau tidak? Tetapi apa yang baru saja terjadi membuatnya merasa… tidak sendirian.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bayangan di Balik The Obsidian Crown    Bab 8: Identitas Yang Mulai Terungkap

    “Deandra, tolong ambilkan kotak P3K,” perintah Azalea tanpa menoleh, suaranya lebih tegas dari yang ia kira.Deandra, yang berdiri tidak jauh, langsung segera bergerak. Yang lain saling berpandangan, baru beberapa jam disandera itu kini malah berani memerintah bos mereka, bahkan merawatnya. Namun, tidak ada yang berani bersuara, terutama saat melihat tatapan intens antara Azalea dan pria misterius itu.Pria itu mendengus pelan, sebuah suara yang nyaris seperti tawa sinis. “Kau pikir kau sedang apa?”“Mengobatimu,” jawab Azalea singkat, tidak terpengaruh. “Kau terluka. Apa kau mau lukanya infeksi?”“Aku tidak butuh bantuanmu. Ini hal biasa, aku bisa menanganinya.” katanya, mencoba menarik diri.Azalea mendongak, matanya bertemu dengan matanya. Ada kobaran api di sana, campuran kekhawatiran dan kemarahan. “Kau tidak punya pilihan. Aku tidak akan membiarkanmu mati di depanku setelah… setelah semua ini.” Kalimat terakhirnya berbisik, merujuk pada ciuman yang masih menghantuinya. Wajahnya

  • Bayangan di Balik The Obsidian Crown    Bab 7: Perasaan Aneh

    Setelah pria itu pergi, Azalea tetap berdiri di tempatnya beberapa detik lebih lama dari yang ia sadari. Udara di kamar terasa berbeda—lebih hangat, lebih sesak. Bibirnya masih berdenyut halus, seolah mengingatkan bahwa apa yang baru saja terjadi bukan mimpi. Ia akhirnya mundur, duduk kembali di tepi ranjang. Tangannya gemetar saat ia menggenggam ujung selimut. Jantungnya berdetak terlalu cepat, pikirannya kacau. Ia dicium oleh seorang pria asing. Tidak pernah terbayang bahwa ciuman pertamanya akan dicuri oleh seorang pria misterius yang sedang menyanderanya. “Ini salah…Kenapa aku hanya diam tadi, malah memalukan di akhir.” gumamnya lirih, berusaha meyakinkan diri sendiri. Namun tubuhnya mengkhianati pikiran itu. Tidak ada dorongan untuk menangis. Yang ada justru rasa kosong yang aneh—dan sesuatu yang bergetar pelan di dadanya, seperti benang tipis yang baru saja ditarik terlalu keras. Ketukan pelan di pintu memecah lamunannya. Azalea tersentak. “I-ya?” Apakah mungkin itu dirinya

  • Bayangan di Balik The Obsidian Crown    Bab 6: Sentuhan Tak Terduga Sang Pria Misterius

    Azalea masih duduk di tepi ranjang, Ia memeluk lututnya, menunduk. Kepalanya berdenyut terlalu banyak pikiran, terlalu banyak ketakutan yang belum sempat ia cerna. Di antara napas yang tersengal, satu suara tiba-tiba muncul di benaknya. Suara yang begitu dikenalnya. “Kalau hidup menekanmu sampai kau ingin menyerah, jangan mundur, Lea. Bertahan itu juga keberanian.” Axel. Kakaknya selalu berkata begitu setiap kali Azalea merasa hidupnya terlalu berat. Saat ia hampir menyerah, air mata mengalir tanpa ia sadari. Ia tidak tahu di mana kakaknya sekarang. Tidak tahu apakah Axel mencarinya, atau bahkan tahu ia masih hidup. Namun satu hal ia tahu—ia tidak boleh diam saja. Jika ia terus tinggal di kamar ini, terus menunggu, maka ia akan benar-benar akan menghilang. Azalea berdiri, berjalan dengan langkah mantap. Tangannya menyentuh gagang pintu. Ia menarik napas dalam-dalam, mengingat wajah kakaknya, senyum kecil yang selalu muncul meski hidup mereka tidaklah mudah. Aku tidak boleh menyer

  • Bayangan di Balik The Obsidian Crown    Bab 5 : Perdebatan

    Malam turun perlahan di rumah itu, membawa sunyi yang lebih berat dari biasanya. Lucas berdiri sendirian di dekat jendela tinggi. Dari lantai atas, ia bisa melihat halaman yang dijaga ketat—pria-pria bersenjata, pola ronda yang rapi, keamanan tanpa celah. Semuanya sempurna. Namun untuk pertama kalinya, kesempurnaan itu terasa seperti kebohongan. Langkah kaki terdengar pelan di belakangnya. Lucas tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. “Dante,” katanya singkat. Kepala keamanan itu berhenti beberapa langkah dari Lucas. Tidak ada sikap defensif, tidak ada basa-basi. Hanya kewaspadaan yang melekat seperti napas kedua. “Bos,” jawab Dante. Lucas tetap menghadap jendela. “Aku ingin kau pastikan penjagaan wanita itu dua kali lebih ketat dari standar.” Dante mengangguk. “Sudah dilakukan. Tidak ada yang mendekat tanpa izinku.” Keheningan menyelinap di antara mereka. Biasanya, percakapan berhenti sampai di situ. Tapi malam ini, Lucas tidak segera mengakhiri pembicaraan. “Ada satu hal

  • Bayangan di Balik The Obsidian Crown    Bab 4: Sunyi di Ruang Tanpa Kunci

    Setelah menangis berjam-jam Azalea pun tertidur karena lelah, setelah beberapa lama ia tidur ia pun terbangun, menatap ke sekeliling nya. Ia berharap semua ini hanyalah mimpi, bukan kenyataan. Ia berharap kakaknya akan muncul di balik pintu mengantarkan sarapan favorit nya sebelum pergi bertugas, tapi semua nihil. Ia tidak berada di sini atas kehendaknya sendiri. Tapi atas kehendak si pria misterius itu, sebenarnya siapa pria misterius itu? Pintu kamar itu tertutup. Ia bangun dari tempat tidur, melangkah ke arah pintu, tangan nya memutar gagang pintu, mencoba mengintip keluar. Huftt…sepi sekali. Sebenarnya kemana semua orang pergi? Dan tempat apakah ini, cukup bagus jika aku menyebutnya istana. Istana kan indah, ini kenapa aura nya seram sekali dan udaranya mencekat, ucap Azalea dalam hati. Memori itu kembali berputar. “…Keluar.” Satu kata itu cukup membuat bulu kuduknya berdiri. Suara itu rendah tapi cukup untuk membuat orang yang mendengarnya ngeri. Jantungnya berdetak keras,

  • Bayangan di Balik The Obsidian Crown    Bab 3: Bayangan yang Terlalu Dekat

    Pria itu duduk di ruang tamu, tubuhnya tenggelam dalam sofa kulit berwarna gelap. Ia mengingat saat suatu sore ia datang ke galeri dengan penyamaran. Itu pertama kalinya ia melihat gadis itu, Azalea sedang membantu seorang wanita tua yang tampak kebingungan mencari jalan keluar. Ketika tas wanita itu terjatuh dan barang-barangnya ikut berserakan di lantai, Azalea tanpa ragu berlutut, mengumpulkannya satu per satu dengan senyum yang tulus—senyum yang tidak dibuat-buat, tidak mengharapkan imbalan apa pun. Ia bahkan mengantar wanita itu hingga ke luar, memastikan taksi berhenti dengan aman sebelum kembali ke dalam galeri. Gadis itu sangat berbeda dengan yang lainnya, benar-benar terlihat tulus, ucap priayang dari tadi mematung. Saat Azalea berbalik, pandangan mereka bertemu. Dengan cepat, pria itu menundukkan kepala, berpura-pura memeriksa kameranya. “Permisi, apakah Anda membutuhkan bantuan?” tanya Azalea, suaranya lembut, tidak mengandung kecurigaan. Ia mengangkat kepala perlahan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status