Share

Bab 5 : Perdebatan

Penulis: Audreynatasha20
last update Tanggal publikasi: 2026-01-27 20:12:05

Malam turun perlahan di rumah itu, membawa sunyi yang lebih berat dari biasanya. Lucas berdiri sendirian di dekat jendela tinggi. Dari lantai atas, ia bisa melihat halaman yang dijaga ketat—pria-pria bersenjata, pola ronda yang rapi, keamanan tanpa celah. Semuanya sempurna.

Namun untuk pertama kalinya, kesempurnaan itu terasa seperti kebohongan. Langkah kaki terdengar pelan di belakangnya. Lucas tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.

“Dante,” katanya singkat.

Kepala keamanan itu berhenti beberapa langkah dari Lucas. Tidak ada sikap defensif, tidak ada basa-basi. Hanya kewaspadaan yang melekat seperti napas kedua.

“Bos,” jawab Dante.

Lucas tetap menghadap jendela. “Aku ingin kau pastikan penjagaan wanita itu dua kali lebih ketat dari standar.”

Dante mengangguk. “Sudah dilakukan. Tidak ada yang mendekat tanpa izinku.”

Keheningan menyelinap di antara mereka. Biasanya, percakapan berhenti sampai di situ. Tapi malam ini, Lucas tidak segera mengakhiri pembicaraan.

“Ada satu hal lagi,” ucapnya akhirnya.

Dante sedikit menegakkan bahu. Ia mengenal nada itu. Nada sebelum keputusan yang tidak biasa.

“Kau tadi bilang aku memiliki kelemahan,” lanjut Lucas pelan. “Kau tidak sepenuhnya salah.”

Dante terdiam. Ia tidak menyela. Ia tahu, jika Lucas berbicara sejauh ini, itu bukan untuk dibantah.

“Ayahku,” kata Lucas tiba-tiba.

Nama itu jarang keluar dari mulutnya.

“Sebelum kondisinya memburuk,” lanjut Lucas, suaranya lebih rendah, “dia memanggilku. Tidak ada saksi. Tidak ada orang lain.”

Dante menunggu.

“Dia memberiku satu amanah.” Lucas akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, tapi ada sesuatu yang berbeda—sesuatu yang lelah. “Menjaga seorang gadis. Bukan sekadar melindungi. Menjaga hidupnya, apa pun yang terjadi.”

Dante mengerutkan kening. “Gadis itu… Azalea?”

Lucas tidak langsung menjawab. “Saat itu aku tidak tahu siapa dia. Tidak tahu di mana mencarinya. Bahkan tidak tahu kenapa ayahku mengucapkannya dengan nada seolah… itu lebih penting dari hidupnya sendiri.”

Dante menelan ludah. “Dan sekarang?”

“Sekarang aku menemukannya.” Lucas mengepalkan tangannya perlahan. “Dan aku baru sadar—aku sudah mengamatinya jauh sebelum aku tahu dia adalah amanah itu.”

Dante terdiam lebih lama kali ini.

“Bos,” katanya hati-hati, “apa maksud Anda?”

Lucas menghela napas pendek, nyaris tidak terdengar. “Aku menyukainya.”

Pengakuan itu jatuh begitu saja. Tanpa dramatis. Tanpa emosi berlebihan. Justru karena itulah ia terasa berat.

“Aku tidak seharusnya,” lanjut Lucas. “Aku tahu konsekuensinya. Aku tahu posisiku. Tapi sejak pertama kali aku melihatnya—bahkan saat aku masih menyamar—ada sesuatu yang… tenang.”

Dante menatapnya, kali ini bukan sebagai bawahan, tapi sebagai seseorang yang telah mengikutinya bertahun-tahun. “Bos, perasaan membuat kita kacau, membuat kita ceroboh.”

“Aku tahu itu.” Tatapan Lucas mengeras. “Itulah sebabnya aku mengatakan ini padamu. Karena aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya. Termasuk jika suatu hari aku sendiri yang menjadi ancamannya.”

Dante mengangguk pelan. “Saya akan menjaga rahasia ini.”

Lucas memalingkan wajahnya kembali ke jendela. “Pastikan dia aman. Bahkan dariku.”

Dante menerima perintah itu tanpa ragu.

Di lantai atas, Azalea duduk di tepi tempat tidur. Pintu kamarnya tidak terkunci. Tidak pernah. Namun ia tidak mencoba keluar, ia hanya menuruti saja pria misterius itu. Tentu ia ingin keluar, ingin pulang ke rumah bertemu dengan kakaknya tetapi kalau ia keluar ia belum tahu ke mana ia harus pergi.

Ia menatap gagang pintu itu lama. Terbuka. Sunyi. Seolah memberinya pilihan—padahal tidak benar-benar ada. Dan malam itu, tanpa Azalea sadari, perlindungan yang mengelilinginya bukan lagi sekadar strategi—melainkan janji yang bisa menjadi keselamatan, atau awal kehancuran.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bayangan di Balik The Obsidian Crown    Bab 36 : Rahasia Dalam Tato

    Azalea berbalik ke kiri dan ke kanan, ia tidak bisa tidur dengan tenang, bayang-bayang dua pria itu masih terus menghantui. Ia menghela napas , duduk di tepi tempat tidur sambil menatap kosong ke depan.“Sebenarnya apa yang sedang terjadi…?” gumamnya lirih.Tok.. tok"Masuk," ucapnya sambil melihat siapa yang masuk ke kamarnya sepagi ini. Ia tersenyum saat melihat kakaknya masuk. "Kamu engga tidur, Aza? ""Kakak udah pulang? " tanyanya sambil mencoba menatap kakakny dengan senyuman."Udah. Kamu belum menjawab pertanyaan kakak, Aza... ""Anu.. kak.. ak.., ""Apa yang menggangu pikiran mu? Masih soal Lucas?"Azalea menggeleng, hal itu bukan menjadi prioritas nya sekarang, sekarang hal yang penting adalah cepat mencari tahu keberadaan Azura dan membawanya kembali untuk meminta pertanggungjawaban, karena gadis itu ia dalam masalah serius ini."Terus soal apa dek? " ucap kakaknya sambil mendekati Azalea, ikut duduk di pinggir tempat tidur, siap mendengarkan cerita adiknya. Azalea menggel

  • Bayangan di Balik The Obsidian Crown    Bab 35 : Jejak yang Tertinggal

    Pagi ini tidak seperti biasanya, Azalea terbangun dan melangkah keluar melihat sesuatu di kotak pos kecil rumahnya. "Kalau kau ingin tahu kebenarannya, datanglah ke tempat ini. "Tangan Azalea masih gemetar memegang amplop yang entah siapa pengirimnya. Apakah ini dari Azura? Aku harus mencari tahu kebenarannya. Tanpa berlama-lama, ia langsung bersiap-siap, berpamitan dengan ayahnya, bilang kalau ada urusan di luar padahal ia mau memulai mencari tahu dimana keberadaan Azura.Ia tidak mau membuat ayahnya berubah pikiran jika mengetahui hal itu, walaupun kemarin ayahnya sudah sepakat mengizinkannya. ***Perjalanan itu tidaklah mudah, karena harus melewati gang-gang sempit yang jarang dilewati orang. Ia menghela nafas berkali-kali, tidak bisa dipungkiri ia takut, agak sedikit menyesali keberanian nya yang udah sejauh ini, tapi ia harus tetap bertahan demi mengetahui kebenarannya dan mengetahui siapa dalang dari semua ini. "Ini tempatnya.... "Azalea menelan ludah beberapa kali, kelia

  • Bayangan di Balik The Obsidian Crown    Bab 34 : Tamu yang Menguasai Rumah

    “Ibu sudah putuskan mulai hari ini Seraphina akan tinggal di sini.”Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut ibunya, membuat semua orang yang ada di ruang tamu itu terdiam, baik pelayan, penjaga, bahkan Dante yang berdiri tidak jauh dari Lucas.“Untuk apa?”suara Lucas memecah keheningan yang sudah memenuhi seisi ruangan.“Kurang dari seminggu lagi kalian akan bertunangan, ini untuk membantu kalian supaya cepat dekat. Ibu tidak ingin ada keraguan di antara kalian berdua.”Seraphina yang mendengar hal itu langsung tersenyum, tidak menyangka hari yang dia nantikan akan tiba. Tadinya dia sudah tidak terlalu peduli dengan perjodohan itu, yang dia lebih pentingkan adalah cara menyingkirkan Azalea.Dengan begini, maka dua goals nya tercapai, menyingkirkan Azalea dan mendapatkan Lucas, bos mafia terkaya di wilayah ini. Ia tidak sabar menguasai semua harta Lucas yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.“Aku harap tidak akan merepotkan siapapun,”ucapnya dengan nada kemenangan.Dante memperhat

  • Bayangan di Balik The Obsidian Crown    Bab 33 : Hancur Tanpa Suara

    Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa ini sudah seminggu ia tidak mendengar kabar atau penjelasan dari Lucas, ia berusaha untuk tegar, tapi ternyata tidak segampang itu. Sangat sulit untuk dirinya bangkit dari keterpurukan ini, tapi setidaknya ia masih terus berusaha. "Aku harus melanjutkan hidupku lagi, tidak boleh seperti ini, " ucapnya sambil menghela nafas. Ia beranjak dari tempat tidurnya, hari ini galeri tidak buka, hari libur, tapi ia ingin mencari udara segar. Berjalan mungkin bisa membantu. "Yah, " ucapnya saat menemukan ayahnya sedang memasak sarapan. "Pagi sayang, sebentar lagi sarapan akan jadi, bent... " ucap ayahnya belum selesai tapi dia langsung memotong nya, "yah, aku mau pergi keluar sebentar. " "Sayang... tapi ini.. " "Yah sebentar, tidak akan lama, aku butuh udara segar." Ia bisa melihat ayahnya menghela nafas, mematikan kompor nya sejenak lalu mendekat ke arahnya, mencium keningnya, "ok, nak hati-hati dan jangan terlalu lama, pulang kita m

  • Bayangan di Balik The Obsidian Crown    Bab 32: Jejak yang Salah

    Pagi ini datang tidak seperti biasanya, bayangan itu masih terus menghantui saat bibir mereka bertemu, sesak sekali rasanya, ia tidak dapat menghilangkan bayangan itu dari kepalanya sejak semalam bahkan ia pun hanya tidur dua jam hanya karena memikirkan adegan itu.“Kau jahat, Lucas,” isaknya masih sambil menitikkan air mata.Sekuat tenaga ia coba meredam amarah yang bergemuruh dalam dadanya, tapi ternyata tidak semudah itu. Ia pikir selama ini Lucas hanya menginginkan dirinya bukan Seraphina, tapi yang ia temukan semalam bertentangan dengan apa yang selama ini ia pikirkan.“Sudah nak, hentikan tangismu itu sayang. Dari awal dia menginjakkan kaki nya di sini, ayah sudah tidak percaya dengan lelaki itu, ayah tahu dia brengsek, tidak seharusnya kamu menangisi bos brengsek itu.”Azalea terkaget saat menemukan ayahnya sudah di hadapan dirinya, reflek ia langsung memeluk ayahnya,bukannya berhenti, tangisnya malah makin pecah.“Sudah sayang, anak ayah biasanya kuat, masih banyak lelaki yang

  • Bayangan di Balik The Obsidian Crown    Bab 31 : Emosi yang Tak Kunjung Reda

    "Aku harus menjelaskan semuanya," ucap Lucas. Sekarang ia sudah sampai di depan rumah Azalea, sudah siap dengan segala konsekuensinya. Saat pintunya sudah siap untuk mengetuk, seseorang menghampiri nya. "Bos, lapor, " ucap Dante, membuat Lucas mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu rumah Azalea. "Apalagi sekarang Dante?" "Bos, bukan bermaksud apa-apa bos, tapi saya rasa jika bos terus seperti ini maka semua musuh akan habis menyerang keluarga Maxime." Lucas menatap Dante dengan tajam, "Maksud mu seperti ini seperti apa? Kau sudah berani mengkritik ku? " ucapnya dengan nada tinggi, tangan nya merogoh saku celana yang ada di belakang, mengeluarkan pistol dan menodongkan pada bodyguard nya sendiri. "Saya tidak takut mati bos, saya hanya memberi ide yang terbaik buat keluarga ini, kalau bos memang ingin keluarga bos sendiri hancur, bos boleh tembak saya. " Lucas menghela nafas panjang, yang diucapkan Dante benar, belakangan ini ia lebih memilih orang lain, bukan kelua

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status