MasukPria itu duduk di ruang tamu, tubuhnya tenggelam dalam sofa kulit berwarna gelap. Ia mengingat saat suatu sore ia datang ke galeri dengan penyamaran. Itu pertama kalinya ia melihat gadis itu, Azalea sedang membantu seorang wanita tua yang tampak kebingungan mencari jalan keluar.
Ketika tas wanita itu terjatuh dan barang-barangnya ikut berserakan di lantai, Azalea tanpa ragu berlutut, mengumpulkannya satu per satu dengan senyum yang tulus—senyum yang tidak dibuat-buat, tidak mengharapkan imbalan apa pun. Ia bahkan mengantar wanita itu hingga ke luar, memastikan taksi berhenti dengan aman sebelum kembali ke dalam galeri. Gadis itu sangat berbeda dengan yang lainnya, benar-benar terlihat tulus, ucap priayang dari tadi mematung. Saat Azalea berbalik, pandangan mereka bertemu. Dengan cepat, pria itu menundukkan kepala, berpura-pura memeriksa kameranya. “Permisi, apakah Anda membutuhkan bantuan?” tanya Azalea, suaranya lembut, tidak mengandung kecurigaan. Ia mengangkat kepala perlahan. Separuh wajahnya tertutup bayangan topi. “Tidak,” jawabnya singkat, sengaja menurunkan nada suaranya agar terdengar berbeda. “Hanya mencari sudut yang bagus.” Azalea tersenyum tipis. “Galeri ini memang punya banyak spot menarik. Apakah Anda seorang fotografer?” “Bisa dibilang begitu.” Matanya menatapnya sesaat—terlalu lama, terlalu tajam—sebelum akhirnya berpaling. “Saya suka menangkap momen yang… jarang terlihat.” Azalea tidak menyadari intensitas tatapan itu. “Semoga Anda menemukannya,” ujarnya ramah, lalu kembali ke pekerjaannya. Bagi pria itu, percakapan singkat itu terasa seperti kemenangan kecil yang seharusnya tidak berarti apa-apa. Namun langkah kakinya terasa lebih berat saat meninggalkan galeri hari itu. Beberapa minggu kemudian, ia kembali. Kali ini dengan penyamaran yang lebih kasual: jaket denim, topi baseball, kacamata hitam. Ia berjalan melewati Azalea yang sedang menata lukisan di dekat pintu masuk. Sebuah gerakan kecil yang disengaja—lukisan di atas easel hampir jatuh. “Oh!” Azalea sigap menahannya. “Tidak apa-apa.” Ia berpura-pura panik, membungkuk untuk mengambil buku yang terjatuh dari tas selempangnya. Saat itu, lengan jaketnya tersingkap sedikit. Cukup lama untuk memperlihatkan sebuah simbol. Azalea membeku. Itu bukan tato biasa. Ada sesuatu yang terlalu spesifik, terlalu dikenal—sebuah mahkota hitam yang selama ini hanya ia dengar lewat bisik-bisik dan rumor tentang dunia gelap yang kejam. Dunia yang seharusnya tidak pernah bersinggungan dengan hidupnya. Udara di sekitarnya terasa dingin. Pria itu mendongak. “Terima kasih,” katanya singkat. Azalea memaksakan senyum, jantungnya berdetak terlalu cepat. “Sama-sama.” Jari mereka sempat bersentuhan saat buku terakhir berpindah tangan. Singkat—namun cukup untuk membuatnya menarik tangan dengan refleks. “Aku harus pergi,” ujar pria itu tiba-tiba. Ia menyadari tatapan gadis itu sempat jatuh ke pergelangan tangannya. Kesalahan kecil. Kesalahan yang seharusnya tidak pernah terjadi. Tanpa menunggu respons, ia berbalik dan pergi. Azalea menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu galeri. Bayangan mahkota hitam itu kembali muncul di benaknya. Apakah ia salah lihat? Ataukah pria itu memang bukan orang biasa? Di luar, pria itu masuk ke dalam mobil hitam yang menunggu. Ia menghela napas panjang, menatap tato di pergelangan tangannya sendiri—simbol identitas yang seharusnya selalu tersembunyi. Ia tahu ia telah terlalu dekat. Namun setiap kali ia mencoba menjauh, gadis itu justru semakin menetap dalam pikirannya. Terlalu terang. Terlalu bersih. Terlalu kontras dengan dirinya. Azalea adalah cahaya. Dan ia—tak lebih dari bayangan. Kini, kembali di ruang tamu rumah itu, suara tangisan dari lantai atas membuat dadanya terasa sesak. Hari yang ia tunggu akhirnya datang—namun dengan cara yang paling salah. Gadis itu seharusnya diselamatkan, bukan menyaksikan kekerasan dengan matanya sendiri. Ia berdiri, melangkah menuju tangga, memaksa hatinya mengeras seperti yang selalu ia lakukan. Namun hari ini… itu terasa jauh lebih sulit dari biasanya.“Kenapa kau datang sendirian kali ini?”Tidak perlu menoleh, Lucas sudah tahu siapa pemilik bunyi sepatu itu, siapa lagi kalau bukan Seraphina, calon istri yang telah ditentukan oleh ibunya tanpa meminta persetujuan nya. Seraphina berhenti di tengah langkahnya.“Hanya membawa makan malam,” jawabnya ringan. “Apakah itu kejahatan sekarang?”Ia berdiri di aula utama markas The Obsidian Crown, tempat yang selalu terasa seperti ruang sidang tak terlihat. Di tangannya ada sebuah kotak makan elegan—terlalu sederhana untuk seseorang dengan nama sebesar Seraphina.Ia tersenyum lembut. Senyum yang selama ini selalu berhasil membuat para tetua percaya bahwa ia hanyalah wanita yang patuh pada takdir keluarga.Lucas duduk di kursinya di ujung meja panjang. Satu tangan bertumpu di sandaran, sikapnya santai namun matanya tajam seperti bilah pisau.“Biasanya ibuku yang mengirimmu,” katanya akhirnya. “Atau setidaknya mengawasi.”Nada suaranya tidak berubah, tetap datar. Seraphina menutup jarak bebe
“Ulangi,” katanya pelan. Pria di hadapannya menelan ludah. “Lucas Zander Maxime terlihat di sebuah galeri seni sore ini. Tanpa pengawal. Terjadi insiden kecil. Identitasnya… terungkap.” Seraphina tidak bereaksi. Hanya satu alisnya terangkat, hampir tak terlihat. “Dan wanita itu?” tanyanya. “Masih di sana. Tidak terluka.” Keheningan jatuh seperti debu. Jadi benar. Ia berjalan perlahan ke meja marmer, menekan layar transparan dengan ujung jarinya. Foto galeri muncul—bangunan tua, jendela besar, papan Open yang terlalu polos untuk dunia mereka. “Wanita biasa,” gumam Seraphina. “Itulah yang ia katakan pada semua orang.” Ia menoleh. “Kau boleh pergi.” Begitu pintu tertutup, senyumnya muncul—bukan senyum bahagia, melainkan senyum seseorang yang baru memastikan bidak terakhir sudah berada di papan. Lucas akhirnya melanggar aturannya sendiri. Dan itu berarti satu hal: ia akhirnya memiliki celah. Seraphina duduk, menyilangkan kaki dengan anggun. Ingatannya melayang
Markas The Obsidian Crown berdiri seperti biasa—dingin, megah, dan sunyi dengan cara yang tidak pernah benar-benar tenang. “Bos.” Suara itu datang dari samping. Dante. Tangan kanan yang telah menemaninya bertahun-tahun. Pria yang melihat Lucas naik dari pewaris dingin menjadi pemimpin paling ditakuti di jaringan mafia Eropa. Dante tidak bertanya. Ia hanya mengamati—dan ia tahu. “Kau terlambat,” kata Dante pelan. “Aku tahu,” jawab Lucas singkat. Biasanya, satu kata itu cukup. Biasanya, Lucas akan langsung menuju ruang strategi, duduk di kursinya, dan dunia kembali berputar sesuai perintahnya. Namun hari ini, ia berhenti di tengah lorong. “Apakah ada laporan?” tanyanya. Dante mengangguk. “Ada. Dan… aku pikir kau ingin mendengarnya sekarang.” Nada itu membuat Lucas menoleh. Ada sesuatu di mata Dante—bukan panik, bukan ragu, melainkan kewaspadaan yang jarang muncul tanpa alasan kuat. Mereka masuk ke ruang kecil yang hanya digunakan untuk laporan sensitif. Tidak ada kamera. Tida
Dua minggu.Waktu yang tidak lama, namun cukup untuk mengubah cara seseorang bernapas.Lucas Zander Maxime menghitungnya tanpa sadar. Empat belas hari sejak terakhir kali ia melihat Azalea—bukan lewat laporan, bukan lewat bayangan samar di kepalanya, tetapi benar-benar melihatnya berdiri di hadapannya. Empat belas hari sejak rumahnya kembali terasa seperti bangunan kosong, meski penuh orang bersenjata.Hari itu berbeda.Tidak ada jadwal penyerangan. Tidak ada rapat darurat. Tidak ada darah yang harus dibersihkan dari lantai marmer.Untuk pertama kalinya setelah lama, Lucas memilih keluar dari persembunyian.Ia tidak membawa pasukan. Tidak ada Dante. Tidak ada pengawal yang mengikuti dari kejauhan. Ia mengenakan jaket sederhana, celana gelap, dan topi hitam dengan logo yang asing—bukan topi yang biasa ia pakai.Ia ingin menjadi orang lain.Atau setidaknya, terlihat seperti orang biasa.Galeri itu masih sama.Bangunan tua dengan jendela besar dan pintu kayu yang sedikit berderit saat d
Hidup tidak pernah berhenti hanya karena satu orang memilih pergi. Lucas Zander Maxime memahami itu lebih dari siapa pun.Hari-hari setelah kepergian Azalea berjalan seperti biasa—atau setidaknya terlihat demikian dari luar. Rapat tetap berlangsung. Senjata tetap dibersihkan. Peta wilayah tetap diperbarui dengan tanda-tanda merah dan hitam. Nama-nama musuh terus bertambah, dan darah masih tumpah di sudut-sudut kota yang tidak pernah muncul di peta wisata.Obsidian Crown tetap berdiri.Dan Lucas tetap menjadi bosnya.Namun ada sesuatu yang berubah.Bukan di cara ia memimpin—melainkan di cara ia merasa.Ia masih turun ke lapangan. Masih berdiri paling depan saat negosiasi berubah menjadi ancaman. Masih menatap moncong senjata tanpa berkedip. Tapi sekarang, ada kehampaan yang aneh setiap kali peluru melesat terlalu dekat, setiap kali ledakan mengguncang tanah di bawah kakinya.Lucas menyadari sesuatu yang berbahaya.Ia tidak lagi takut mati.Bukan karena keberanian.Melainkan karena tida
Langit sore berwarna kelabu, konvoi Obsidian Crown pun akhirnya memasuki rumah tempat persembunyian mereka. Terdengar bunyi mesin kendaraan yang dimatikan satu persatu. Lucas Zander Maxime dengan perban di dadanya kembali memerah. Jaket hitam yang dikenakannya sobek di sisi bahu, menyembunyikan luka tembak baru yang belum sempat ditangani dengan benar. “Bos, tim medis sudah siap,” ujar Dante cepat, mendekat sambil menahan lengan Lucas ketika tubuh itu sedikit oleng.“Nanti,” jawab Lucas singkat. Matanya langsung mengarah ke pintu rumah.Rumah itu sunyi, tidak seperti biasanya."Ada yang tidak beres ini," lirih Lucas.“Iya bos ada yang aneh,” gumam Dante.Lucas tidak menjawab lagi. Ia melangkah masuk, mendorong pintu dengan bahunya. Ruang tamu gelap. Lampu tidak dinyalakan. Udara terasa dingin, kosong, seolah rumah itu telah lama ditinggalkan.Lucas berhenti tepat di tengah ruangan, menahan napas.“Azalea?” panggilnya rendah.Tidak ada jawaban sama sekali.Dante memberi isyarat cepat







