MasukSetelah menangis berjam-jam Azalea pun tertidur karena lelah, setelah beberapa lama ia tidur ia pun terbangun, menatap ke sekeliling nya. Ia berharap semua ini hanyalah mimpi, bukan kenyataan. Ia berharap kakaknya akan muncul di balik pintu mengantarkan sarapan favorit nya sebelum pergi bertugas, tapi semua nihil.
Ia tidak berada di sini atas kehendaknya sendiri. Tapi atas kehendak si pria misterius itu, sebenarnya siapa pria misterius itu? Pintu kamar itu tertutup. Ia bangun dari tempat tidur, melangkah ke arah pintu, tangan nya memutar gagang pintu, mencoba mengintip keluar. Huftt…sepi sekali. Sebenarnya kemana semua orang pergi? Dan tempat apakah ini, cukup bagus jika aku menyebutnya istana. Istana kan indah, ini kenapa aura nya seram sekali dan udaranya mencekat, ucap Azalea dalam hati. Memori itu kembali berputar. “…Keluar.” Satu kata itu cukup membuat bulu kuduknya berdiri. Suara itu rendah tapi cukup untuk membuat orang yang mendengarnya ngeri. Jantungnya berdetak keras, tidak seperti biasanya. Ia tidak bergerak. “Aku tahu kamu di sana.” Nada suaranya tetap sama—tenang, dingin, tanpa emosi. Langkah kaki terdengar pelan, terukur, mendekat. “Di balik kanvas besar itu,” lanjutnya. “Bau manusia berbeda dengan bau darah.” Pria itu, masih sangat jelas di benaknya. Tampan, rapi, nyaris tidak manusiawi dalam ketenangannya. Ia tidak berteriak. Tidak marah. Tidak terburu-buru. Seolah membunuh adalah sesuatu yang biasa. Dan ia… hanya sebuah keputusan. Kak, sebenernya aku dimana? Aku Aza ingin pulang. Aza takut dengan dia, ucap Azalea dengan napas memburu, tangisnya pun pecah. Ia tak dapat membendungnya lagi. Azalea semakin menegang saat mendengar suara langkah mendekat. Ia tahu itu pasti langkah kaki pria misterius itu dan itu membuat jantungnya berdetak semakin cepat. Pintu tidak langsung dibuka, ada jeda singkat—seolah seseorang berdiri di baliknya, memastikan sesuatu. Tidak lama pintu terbuka, pria misterius itu pun muncul dengan pakaian rumahnya. “Duduk,” katanya singkat. Nada itu bukan perintah yang keras. Justru sebaliknya—tenang, datar, dan tidak memberi ruang untuk penolakan. Tidak tahu kenapa Azalea menurut tanpa ada perlawanan. Kakinya terasa lemah saat ia duduk kembali di tepi ranjang. Pria itu melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Tidak dikunci. Ia berdiri beberapa langkah dari Azalea—cukup dekat untuk mengintimidasi, cukup jauh untuk tetap mengontrol. “Kamu aman,” katanya. Azalea tertawa kecil—suara yang keluar terdengar asing bahkan di telinganya sendiri. “Katamu aman?” ulangnya pelan. “Aku tidak bisa pulang. Aku tidak tahu di mana aku berada. Dan kamu bilang aku aman?” Tatapannya tidak berubah. “Kamu hidup.” Kata itu jatuh seperti vonis. “Kenapa?” Azalea mendongak, air mata kembali menggenang. “Kenapa kamu tidak membunuhku saja di galeri itu?” Pria itu terdiam. Tidak lama. Tidak lama sama sekali. Namun jeda itu cukup untuk membuat Azalea menahan napas. “Karena kamu tidak boleh mati,” jawabnya akhirnya. “Siapa yang memutuskan itu?” suaranya bergetar. “Kamu?” Ia menggeleng pelan. “Bukan aku.” Jawaban itu justru membuat Azalea semakin takut. “Lalu siapa?” desaknya. “Aku hanya asisten galeri. Aku bukan siapa-siapa.” Tatapannya menajam sedikit. Bukan marah. Lebih seperti… menilai ulang. “Itu juga yang aku pikirkan,” katanya. Azalea memeluk dirinya sendiri. “Aku mau pulang. Kakakku pasti mencariku. Tolong… aku tidak akan bicara pada siapa pun. Aku bersumpah.” “Kamu tidak akan menghubungi siapa pun,” balasnya tenang. “Bukan sekarang.” “Ini tidak adil,” bisik Azalea. “Aku tidak memilih ini.” “Takdir jarang memberi pilihan,” jawabnya singkat. Hening kembali turun. Azalea merasa lelah—bukan hanya fisik, tapi juga mental. Ia menatap lantai, mencoba menenangkan napasnya. “Apa aku… sandera?” tanyanya akhirnya. Ia tidak langsung menjawab. “Kamu berada di bawah perlindunganku,” katanya. “Selama itu, tidak ada yang akan menyentuhmu.” “Kecuali kamu,” ucap Azalea pelan. Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat—hanya sesaat—Azalea merasa seolah ada sesuatu yang bergerak di balik ketenangan pria itu. Namun hilang sebelum sempat ia pahami. “Kamu tidak perlu takut padaku,” katanya. Kalimat itu seharusnya menenangkan. Namun Azalea justru merasakan kebalikannya. “Aku sudah takut,” jawabnya jujur. Ia menatapnya lama, lalu mengangguk kecil. “Itu wajar.” Pria itu melangkah mundur, membuka pintu. “Beristirahatlah. Tidak ada yang akan masuk ke kamar ini tanpa izinku.” “Dan kamu?” tanya Azalea spontan. Ia berhenti di ambang pintu. “Aku selalu tahu di mana kamu berada.” Pintu tertutup. Azalea kembali sendirian. Ia berbaring perlahan, menatap langit-langit yang sama seperti saat ia terbangun. Rumah ini sunyi, namun ia tahu—ia tidak benar-benar sendiri. Di suatu tempat di rumah ini, ada pria yang telah merenggut hidup seseorang… dan kini memegang kendali atas hidupnya. Azalea memejamkan mata, air mata terakhir mengalir tanpa suara. Ia tidak tahu berapa lama semua ini akan berlangsung. Ia tidak tahu siapa pria itu sebenarnya. Yang ia tahu hanya satu: hidupnya tidak lagi sepenuhnya miliknya.“Deandra, tolong ambilkan kotak P3K,” perintah Azalea tanpa menoleh, suaranya lebih tegas dari yang ia kira.Deandra, yang berdiri tidak jauh, langsung segera bergerak. Yang lain saling berpandangan, baru beberapa jam disandera itu kini malah berani memerintah bos mereka, bahkan merawatnya. Namun, tidak ada yang berani bersuara, terutama saat melihat tatapan intens antara Azalea dan pria misterius itu.Pria itu mendengus pelan, sebuah suara yang nyaris seperti tawa sinis. “Kau pikir kau sedang apa?”“Mengobatimu,” jawab Azalea singkat, tidak terpengaruh. “Kau terluka. Apa kau mau lukanya infeksi?”“Aku tidak butuh bantuanmu. Ini hal biasa, aku bisa menanganinya.” katanya, mencoba menarik diri.Azalea mendongak, matanya bertemu dengan matanya. Ada kobaran api di sana, campuran kekhawatiran dan kemarahan. “Kau tidak punya pilihan. Aku tidak akan membiarkanmu mati di depanku setelah… setelah semua ini.” Kalimat terakhirnya berbisik, merujuk pada ciuman yang masih menghantuinya. Wajahnya
Setelah pria itu pergi, Azalea tetap berdiri di tempatnya beberapa detik lebih lama dari yang ia sadari. Udara di kamar terasa berbeda—lebih hangat, lebih sesak. Bibirnya masih berdenyut halus, seolah mengingatkan bahwa apa yang baru saja terjadi bukan mimpi. Ia akhirnya mundur, duduk kembali di tepi ranjang. Tangannya gemetar saat ia menggenggam ujung selimut. Jantungnya berdetak terlalu cepat, pikirannya kacau. Ia dicium oleh seorang pria asing. Tidak pernah terbayang bahwa ciuman pertamanya akan dicuri oleh seorang pria misterius yang sedang menyanderanya. “Ini salah…Kenapa aku hanya diam tadi, malah memalukan di akhir.” gumamnya lirih, berusaha meyakinkan diri sendiri. Namun tubuhnya mengkhianati pikiran itu. Tidak ada dorongan untuk menangis. Yang ada justru rasa kosong yang aneh—dan sesuatu yang bergetar pelan di dadanya, seperti benang tipis yang baru saja ditarik terlalu keras. Ketukan pelan di pintu memecah lamunannya. Azalea tersentak. “I-ya?” Apakah mungkin itu dirinya
Azalea masih duduk di tepi ranjang, Ia memeluk lututnya, menunduk. Kepalanya berdenyut terlalu banyak pikiran, terlalu banyak ketakutan yang belum sempat ia cerna. Di antara napas yang tersengal, satu suara tiba-tiba muncul di benaknya. Suara yang begitu dikenalnya. “Kalau hidup menekanmu sampai kau ingin menyerah, jangan mundur, Lea. Bertahan itu juga keberanian.” Axel. Kakaknya selalu berkata begitu setiap kali Azalea merasa hidupnya terlalu berat. Saat ia hampir menyerah, air mata mengalir tanpa ia sadari. Ia tidak tahu di mana kakaknya sekarang. Tidak tahu apakah Axel mencarinya, atau bahkan tahu ia masih hidup. Namun satu hal ia tahu—ia tidak boleh diam saja. Jika ia terus tinggal di kamar ini, terus menunggu, maka ia akan benar-benar akan menghilang. Azalea berdiri, berjalan dengan langkah mantap. Tangannya menyentuh gagang pintu. Ia menarik napas dalam-dalam, mengingat wajah kakaknya, senyum kecil yang selalu muncul meski hidup mereka tidaklah mudah. Aku tidak boleh menyer
Malam turun perlahan di rumah itu, membawa sunyi yang lebih berat dari biasanya. Lucas berdiri sendirian di dekat jendela tinggi. Dari lantai atas, ia bisa melihat halaman yang dijaga ketat—pria-pria bersenjata, pola ronda yang rapi, keamanan tanpa celah. Semuanya sempurna. Namun untuk pertama kalinya, kesempurnaan itu terasa seperti kebohongan. Langkah kaki terdengar pelan di belakangnya. Lucas tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. “Dante,” katanya singkat. Kepala keamanan itu berhenti beberapa langkah dari Lucas. Tidak ada sikap defensif, tidak ada basa-basi. Hanya kewaspadaan yang melekat seperti napas kedua. “Bos,” jawab Dante. Lucas tetap menghadap jendela. “Aku ingin kau pastikan penjagaan wanita itu dua kali lebih ketat dari standar.” Dante mengangguk. “Sudah dilakukan. Tidak ada yang mendekat tanpa izinku.” Keheningan menyelinap di antara mereka. Biasanya, percakapan berhenti sampai di situ. Tapi malam ini, Lucas tidak segera mengakhiri pembicaraan. “Ada satu hal
Setelah menangis berjam-jam Azalea pun tertidur karena lelah, setelah beberapa lama ia tidur ia pun terbangun, menatap ke sekeliling nya. Ia berharap semua ini hanyalah mimpi, bukan kenyataan. Ia berharap kakaknya akan muncul di balik pintu mengantarkan sarapan favorit nya sebelum pergi bertugas, tapi semua nihil. Ia tidak berada di sini atas kehendaknya sendiri. Tapi atas kehendak si pria misterius itu, sebenarnya siapa pria misterius itu? Pintu kamar itu tertutup. Ia bangun dari tempat tidur, melangkah ke arah pintu, tangan nya memutar gagang pintu, mencoba mengintip keluar. Huftt…sepi sekali. Sebenarnya kemana semua orang pergi? Dan tempat apakah ini, cukup bagus jika aku menyebutnya istana. Istana kan indah, ini kenapa aura nya seram sekali dan udaranya mencekat, ucap Azalea dalam hati. Memori itu kembali berputar. “…Keluar.” Satu kata itu cukup membuat bulu kuduknya berdiri. Suara itu rendah tapi cukup untuk membuat orang yang mendengarnya ngeri. Jantungnya berdetak keras,
Pria itu duduk di ruang tamu, tubuhnya tenggelam dalam sofa kulit berwarna gelap. Ia mengingat saat suatu sore ia datang ke galeri dengan penyamaran. Itu pertama kalinya ia melihat gadis itu, Azalea sedang membantu seorang wanita tua yang tampak kebingungan mencari jalan keluar. Ketika tas wanita itu terjatuh dan barang-barangnya ikut berserakan di lantai, Azalea tanpa ragu berlutut, mengumpulkannya satu per satu dengan senyum yang tulus—senyum yang tidak dibuat-buat, tidak mengharapkan imbalan apa pun. Ia bahkan mengantar wanita itu hingga ke luar, memastikan taksi berhenti dengan aman sebelum kembali ke dalam galeri. Gadis itu sangat berbeda dengan yang lainnya, benar-benar terlihat tulus, ucap priayang dari tadi mematung. Saat Azalea berbalik, pandangan mereka bertemu. Dengan cepat, pria itu menundukkan kepala, berpura-pura memeriksa kameranya. “Permisi, apakah Anda membutuhkan bantuan?” tanya Azalea, suaranya lembut, tidak mengandung kecurigaan. Ia mengangkat kepala perlahan







