Mendengar itu, wajah Anton berubah drastis. Lalu, dengan sinis berkata, “Keguguran terus! Dari awal hamil sampai sekarang, entah sudah berapa kali kamu bilang mau keguguran, tapi nyatanya anak itu juga baik-baik saja, ‘kan?”Usai bicara, dia berjalan ke hadapanku dan menatap rendah ke arahku yang terkapar mengenaskan di lantai.“Cepat bangun dan turun dari sini! Jangan menghalangi orang lain yang mau main!”Wajahku sudah pucat karena menahan sakit yang luar biasa. Aku bahkan tak sanggup mengeluarkan suara. Dengan tangan gemetar, aku mencengkeram ujung celananya dan memohon, “Kumohon… panggilkan ambulans… aku bisa mati….”Melihat itu, raut wajah Anton semakin muram. Dia menghentakkan kakinya dengan kasar untuk melepaskan cengkeramanku, lalu mencibir, “Pantas saja Sisil bilang aktingmu bagus, ternyata memang benar! Hanya main loncat bungee saja, apa-apaan bisa mati?!”“Fisikmu begitu kuat, mau pura-pura untuk dilihat siapa, sih? Melihatmu saja sudah membuatku muak. Kamu benar-benar ng
Read more