Share

Bab 2

Author: Makjos
Usai kata-kata itu terucap, seulas kepanikan melintas di mata Anton selama satu detik.

Dia melangkah maju, hendak menanyakan sesuatu padaku. Tapi, Sisil tiba-tiba berlari menghampiri dan menarikku.

“Kak Fina, aku lompat ya….”

Karena Sisil meminta loncat bungee berdua, aku dan dia pun terikat pada satu tali yang sama. Di detik dia melompat, tubuhku langsung terseret jatuh seperti batu yang dilempar ke bawah.

Gerakan yang besar langsung membuat tubuhku kehilangan keseimbangan dan terasa melayang. Perutku yang sejak awal sudah tidak nyaman, langsung dilanda rasa sakit. Meski aku sudah bersiap secara mental, aku tetap tak sanggup untuk menahan jeritan,

“Aaaa… sakit sekali!”

Namun detik berikutnya, teriakan penuh kegembiraan Fina menenggelamkan suaraku,

“Wah, seru sekali! Ternyata begini rasanya loncat bungee! Keinginanku tercapai! Aku benar-benar bahagia sekali!”

Dia memejamkan mata dengan ekspresi menikmati, merentangkan kedua lengannya seperti burung yang bebas.

Sementara itu, perut bagian bawahku terasa semakin tidak beres akibat sensasi jatuh yang ekstrim. Tiba-tiba, rasa nyeri yang hebat menyerang.

Dengan panik, aku menunduk dan benar saja, aku melihat noda darah.

“Berhenti… aku sakit sekali….”

Aku tidak tahan dan berteriak.

Namun, bagi Sisil yang sedang bahagia, teriakanku malah terasa sangat mengganggu.

Dia pun menatapku dengan kesal dan berkata, “Fina, aktingmu berlebihan sekali. Dari jarak segini Kak Anton jelas nggak bisa mendengarmu teriak apa, kok kamu masih sempat-sempatnya berpura-pura?”

Aku melihatnya terayun semakin tinggi mengikuti gerakan tali, sambil berteriak penuh kemenangan di dekat telingaku. Sementara aku sendiri dilanda rasa sakit luar biasa sampai tak sanggup membalas sepatah kata pun.

Janin di dalam perutku seolah menyadari bahaya maut yang mendekat. Insting bertahan hidup membuatnya menendang dengan brutal, seakan ingin merobek dinding perutku.

Posisi tubuhku yang tergantung terbalik dengan kaki terikat membuat kepalaku pening karena aliran darah yang berkumpul di otak. Aku merasa sesak napas, sama seperti janinku. Aku berusaha melambaikan tangan sekuat tenaga.

“Tarik aku ke atas… cepat, aku… aku sudah mau mati….”

Petugas di atas sepertinya menyadari ada yang tidak beres denganku. Dia pun berteriak menggunakan pengeras suara,

“Ada apa? Kamu merasa nggak nyaman?”

Kepalaku sudah penuh keringat. Saat aku ingin menggunakan sisa tenagaku untuk menjawab petugas, tiba-tiba aku mendengar Sisil berteriak kencang,

“Lebih tinggi lagi! Satu putaran lagi! Ini kurang menantang!”

Petugas terdiam, seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

“Yakin mau satu putaran lagi? Ibu hamil itu sepertinya sangat menderita.”

“Aku sudah nggak kuat….”

Belum sempat aku selesai bicara, sudah terdengar suara Anton yang membentak petugas itu dengan kasar,

“Aku yang bayar! Kalau disuruh tambah satu putaran lagi, tinggal ikuti saja. Kok banyak sekali komentarnya? Kalau Sisil nggak puas melampiaskan emosinya, awas kamu kulaporkan nanti!”

Melihat itu, petugas tidak berani membantah lagi dan segera mengoperasikan mesin untuk memutar tali sekali lagi.

Sisil berteriak semakin histeris karena sangking senangnya, sedangkan rasa sakit perut bawahku semakin menjadi-jadi. Rahimku terasa sedang diaduk-aduk sampai hancur dan darah segar terasa seperti hendak menyembur keluar.

….

Entah berapa lama waktu berlalu, akhirnya Sisil merasa puas.

Aku pun ditarik ke atas oleh petugas. Saat ini, aku sudah tak bisa merasakan gerakan janin sama sekali. Perutku yang tadinya kencang di usia delapan bulan, kini terasa lembek dan merosot tidak berdaya. Aku tak punya tenaga lagi, hanya tersisa rintihan kepedihan,

“Tolong aku… aku sakit sekali… anakku….”

Meski aku sudah bersiap untuk merelakan segalanya, tapi saat keputusasaan itu benar-benar datang, kata-kata pertolongan tetap terlontar secara tidak sadar.

Namun, Anton tidak menoleh melihatku sama sekali. Hal pertama yang dia lakukan adalah memeluk Sisil.

“Sisil, kamu baik-baik saja? Takut nggak? Sudah senang?”

Sisil mengangguk bahagia, lalu seolah tidak sengaja melirik ke arahku.

“Kak Anton, aku nggak takut, tapi sepertinya Kak Fina ketakutan sekali. Dia terus berteriak kalau dirinya keguguran!”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku Dibutakan Sahabat Masa Kecilnya   Bab 8

    Selama Anton sibuk mencari ke sana kemari, aku sudah mulai bekerja di perusahaan baru di Kota Hokko.Pihak perusahaan sangat terkejut saat melihat resumeku. Bos besar bahkan langsung turun tangan untuk bernegosiasi denganku. Dia bilang selama aku bersedia bergabung, diriku bebas mengajukan syarat apapun.Aku hanya tersenyum tipis dan menjawab, “Aku nggak punya syarat khusus, tapi aku bisa membawakan setidaknya sepuluh proyek baru untukmu.”Bos pun tercengang. Dia memberiku gaji tahunan yang fantastis dan bahkan menawarkan sebagian saham perusahaan untukku.Aku menerimanya. Pada hari kedua bekerja, aku langsung bergerak merebut beberapa proyek dari perusahaan Anton. Termasuk perangkat lunak yang dilaporkan bawahan itu, sebenarnya itu semua adalah ulahku.Karena itu adalah desainku sendiri, sangat mudah bagiku untuk mengotak-atiknya. Saat mereka menyadarinya, semuanya sudah terlambat.Dalam waktu kurang dari sebulan, aku berhasil menarik hampir semua proyek milik perusahaan Anton. Hal

  • Suamiku Dibutakan Sahabat Masa Kecilnya   Bab 7

    Anton benar-benar tak percaya.“Nggak mungkin! Mana mungkin?! Mana mungkin Sisil membohongiku?!”Tepat saat itu, bawahannya kembali menelepon,“Pak… pak Anton, kapan Bu Fina bisa ke kantor? Perangkat lunak kita diretas, sekarang seluruh jaringan lumpuh, semua pengguna mengajukan komplain!”“Cari tim teknik! Cari bantuan teknik lain! Tanpa Fina, emangnya kalian nggak bisa hidup?!”Anton menutup telepon dengan amarah yang meluap. Dia berdiri dan bergegas keluar dari rumah sakit. Karena lift sedang digunakan, dia pun memilih melewati tangga darurat.Namun, baru turun dua lantai, dia mendengar suara desahan tak senonoh dari sepasang pria dan wanita.“Dokter Ken, aku bahkan sudah menemanimu seperti ini… bisa nggak diagnosa di rekam medisku ditulis lebih parah lagi? Bilang saja… bilang saja kalau aku mau bunuh diri karena tekanan dari si Fina itu….”Suara pria itu terdengar terengah-engah penuh nafsu, tangannya dengan rakus meraba tubuh si wanita.“Dasar wanita nakal, kenapa harus selalu men

  • Suamiku Dibutakan Sahabat Masa Kecilnya   Bab 6

    Anton sempat menelepon Fina dua kali setelah dibawa ke rumah sakit, tapi tidak ada jawaban.Ditambah lagi, Sisil terus menangis sambil mengeluh betapa sedih perasaannya dan mengancam ingin bunuh diri. Akhirnya, Anton pun sama sekali tak berpikir untuk mempedulikan nasib Fina.Hingga seminggu kemudian, setelah kondisi Sisil stabil, akhirnya Anton pulang ke rumah.Begitu masuk, dia melempar jaketnya sembarangan dan reflek berteriak ke arah ruang tamu,“Kok belum masak?”Namun, yang menjawabnya hanyalah keheningan yang dingin.Anton mulai merasa ada yang aneh. Sambil mengernyit, dia berjalan ke ruang tamu, lalu ke kamar. Setelah berkeliling, barulah dia sadar kalau rumah itu kosong.Dia baru tersadar kalau Fina tidak ada di rumah.Dia mengambil ponsel dan mencoba telepon lagi, tapi kali ini operator menjawab bahwa nomornya tidak aktif.Anton mengumpat pelan. Dia mengira Fina sedang merajuk lagi, jadi dia memilih untuk masa bodoh dan langsung pergi minum-minum dengan temannya.Setelah bebe

  • Suamiku Dibutakan Sahabat Masa Kecilnya   Bab 5

    Aku menghabiskan beberapa hari lagi di rumah sakit. Selama waktu itu, aku menghubungi perusahan rekanan di Kota Hokko yang pernah bekerja sama dengan perusahaanku dulu. Aku mengirimkan lamaran kerja pada malam hari dan menjadwalkan sesi wawancara untuk bulan depan.Setelah itu, aku pergi ke bank untuk menarik semua tabunganku, menutup semua rekening, lalu membeli tiket pesawat ke Kota Hokko untuk benar-benar meninggalkan kota ini selamanya.Aku dan Anton adalah teman kuliah. Dulu, karena visi kami dalam mata kuliah jurusan sering sejalan, dosen membagi kami ke dalam satu kelompok belajar yang sama.Anton adalah tipe orang dengan kemampuan eksekusi yang kuat, tapi dia kurang dalam hal inovasi dan bakat desain. Setiap perangkat lunak yang dia rancang cenderung ketinggalan zaman dan tak punya daya saing di pasar.Sebaliknya, desainku selalu inovatif dan melampaui zaman, aku bahkan beberapa kali menjuarai kompetisi.Itulah alasan kenapa dia mengajakku merintis bisnis bersama. Masa-masa aw

  • Suamiku Dibutakan Sahabat Masa Kecilnya   Bab 4

    Semua orang yang ada di lokasi benar-benar terkejut mendengar itu. Bagaimanapun, tidak ada yang ingin melihat tragedi semacam ini terjadi di depan mata mereka.Petugas yang membantuku sejak tadi langsung berteriak, “Tunggu apa lagi? Cepat angkat dia ke dalam mobil!”Sambil bicara, dia berusaha mengangkat tanduku masuk ke ambulans.Namun, setelah Anton tersadar dari keterkejutannya, dia masih tampak ragu. Dia malah berteriak ke arahku,“Tunggu!”“Fina! Jangan-jangan kamu pura-pura lagi? Ada banyak orang di sini, kusarankan sebaiknya kamu berhenti melakukan hal seperti ini!”Perawat yang tadi bicara langsung merasa geram dan kehabisan kata-kata. Dia melotot ke arah Anton dan berkata, “Pak, tolong segera turun dari ambulans kami! Tugas ambulans itu menyelamatkan nyawa berdasarkan tingkat keparahan kondisi pasien. Kalau kamu terus membuat keributan dan menghalangi, kami akan lapor polisi!”Mendengar ucapan perawat, para pengunjung yang melihat seluruh kejadian itu pun ikut emosi. Mereka

  • Suamiku Dibutakan Sahabat Masa Kecilnya   Bab 3

    Mendengar itu, wajah Anton berubah drastis. Lalu, dengan sinis berkata, “Keguguran terus! Dari awal hamil sampai sekarang, entah sudah berapa kali kamu bilang mau keguguran, tapi nyatanya anak itu juga baik-baik saja, ‘kan?”Usai bicara, dia berjalan ke hadapanku dan menatap rendah ke arahku yang terkapar mengenaskan di lantai.“Cepat bangun dan turun dari sini! Jangan menghalangi orang lain yang mau main!”Wajahku sudah pucat karena menahan sakit yang luar biasa. Aku bahkan tak sanggup mengeluarkan suara. Dengan tangan gemetar, aku mencengkeram ujung celananya dan memohon, “Kumohon… panggilkan ambulans… aku bisa mati….”Melihat itu, raut wajah Anton semakin muram. Dia menghentakkan kakinya dengan kasar untuk melepaskan cengkeramanku, lalu mencibir, “Pantas saja Sisil bilang aktingmu bagus, ternyata memang benar! Hanya main loncat bungee saja, apa-apaan bisa mati?!”“Fisikmu begitu kuat, mau pura-pura untuk dilihat siapa, sih? Melihatmu saja sudah membuatku muak. Kamu benar-benar ng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status