Share

Bab 3

Author: Makjos
Mendengar itu, wajah Anton berubah drastis. Lalu, dengan sinis berkata,

“Keguguran terus! Dari awal hamil sampai sekarang, entah sudah berapa kali kamu bilang mau keguguran, tapi nyatanya anak itu juga baik-baik saja, ‘kan?”

Usai bicara, dia berjalan ke hadapanku dan menatap rendah ke arahku yang terkapar mengenaskan di lantai.

“Cepat bangun dan turun dari sini! Jangan menghalangi orang lain yang mau main!”

Wajahku sudah pucat karena menahan sakit yang luar biasa. Aku bahkan tak sanggup mengeluarkan suara. Dengan tangan gemetar, aku mencengkeram ujung celananya dan memohon,

“Kumohon… panggilkan ambulans… aku bisa mati….”

Melihat itu, raut wajah Anton semakin muram. Dia menghentakkan kakinya dengan kasar untuk melepaskan cengkeramanku, lalu mencibir,

“Pantas saja Sisil bilang aktingmu bagus, ternyata memang benar! Hanya main loncat bungee saja, apa-apaan bisa mati?!”

“Fisikmu begitu kuat, mau pura-pura untuk dilihat siapa, sih? Melihatmu saja sudah membuatku muak. Kamu benar-benar nggak pantas dibandingkan dengan Sisil!”

Pengunjung lain yang melihat ekspresiku yang begitu menderita tidak tahan untuk berkomentar,

“Pak, sepertinya istrimu benar-benar kesakitan. Lebih baik panggilkan ambulans saja?”

Mendengar itu, Anton mengerutkan keningnya. Baru saja dia hendak menunduk untuk memperhatikanku lebih jelas, tiba-tiba terdengar suara rintihan Sisil dari belakang,

“Anton, kepalaku pusing sekali….”

Saat berbicara, tubuhnya ikut tumbang. Anton dengan sigap berlari dan menangkapnya. Matanya tampak penuh kekhawatiran.

“Kamu kenapa, Sisil? Karena melompat tadi? Cepat! Cepat panggil ambulans! Aku… aku akan segera membawamu ke rumah sakit!”

Sambil berbicara, dia langsung menggendong Sisil dan berlari menuruni tempat loncat bungee.

Dari sudut pandang yang tak bisa dilihat Anton, Sisil yang tadinya tampak lemah tiba-tiba melemparkan tatapan provokatif ke arahku. Seolah sedang menertawakan ketidakberdayaanku.

Aku menahan rasa sakit dan menatap tajam punggung mereka yang menjauh.

Rasanya bagian dalam tubuhku benar-benar hancur total. Tiba-tiba, aliran darah menyembur keluar, meruntuhkan seluruh pertahanan tubuhku.

“Aaaa….”

Terdengar suara jeritan orang sekitar,

“Darah! Banyak sekali darahnya!”

“Astaga! Kok banyak sekali darah yang mengalir dari bagian bawahnya?! Dia pendarahan hebat! Cepat telepon ambulans!”

“Aaa… darah sebanyak ini bisa mematikan! Astaga… anaknya….”

Di tengah riuhnya jeritan orang-orang, kesadaranku perlahan menghilang. Aku merasa seolah sudah berada di ambang kematian.

Beberapa pengunjung yang baik hati dan petugas di sana mencari tandu, lalu membawaku turun dari tempat loncat bungee itu.

Tubuh bagian bawahku sudah bersimbah darah, terlihat sangat mengerikan. Seseorang yang tidak tega melihatnya menutupi tubuhku dengan sepotong baju.

Saat mereka membawaku sampai ke bawah, ambulans kebetulan baru saja tiba.

Namun, Anton yang berada di seberang langsung menggendong Sisil masuk ke dalam mobil tanpa ragu.

“Dokter, cepat ke rumah sakit!”

“Tunggu!”

Petugas loncat bungee yang tidak tega melihat kondisiku langsung mencegat ambulans tersebut.

“Kondisi ibu hamil ini jauh lebih parah, tolong selamatkan dia dulu!”

Sambil bicara, dia memberi instruksi pada orang-orang untuk membawaku ke sana.

Melihatku, emosi Anton semakin meledak. Dia pun membentak,

“Fina, kamu nggak ada habisnya, ya? Sisil flu karena angin dingin dan sangat nggak enak badan, kamu masih saja mau berebut ambulans dengannya di saat seperti ini?”

“Kamu benar-benar niat sekali aktingnya sampai menyuruh orang menggotongmu ke sini?! Benar-benar menjijikkan!”

Aku terbaring lemas di atas tandu dengan pandangan kabur. Aku ingin menggerakkan tangan untuk menjelaskan, tapi ternyata tak sanggup melakukan gerakan apapun.

Dokter itu juga tampak ragu setelah mendengar ucapan Anton. Dia bertanya sambil mengerutkan kening,

“Hanya ada satu ranjang di ambulans, jadi sebenarnya siapa yang menelepon ambulans?”

“Aku!”

Jawab Anton dengan cepat, sambil membawa Sisil masuk ke mobil.

Lalu mendesak, “Cepat jalan ke rumah sakit, nggak perlu pedulikan wanita gila itu!”

Melihat itu, petugas loncat bungee benar-benar tidak tahan lagi. Dia maju dan berkata pada Anton,

“Akting apaan?! Istrimu ini benar-benar pingsan dan mengalami pendarahan hebat! Kamu bahkan nggak meliriknya sedikit pun dan malah asik bermesraan dengan sahabatmu itu. Kamu nggak merasa sangat bajingan?!”

Sisil yang bersembunyi di pelukan Anton langsung berakting menjadi wanita polos lagi. Dia menyeka air matanya dengan ekspresi sedih.

“Sudahlah, Kak Anton. Jangan berdebat lagi dengan Kak Fina. Kalau dia mau ambulans ini, kasih saja padanya. Aku… aku nggak apa-apa….”

Dia kembali berpura-pura pusing dan seolah hampir pingsan.

Melihat itu, Anton makin tidak tega. Lalu mendekapnya lebih erat lagi dan mendorong tanduku dengan kasar.

“Nggak boleh! Selama ada aku di sini, apapun alasannya, Fina nggak boleh naik ambulans ini!”

Usai dia bicara, perawat yang ikut di ambulans itu menyingkap baju yang menutupi tubuhku. Dia langsung berteriak,

“Astaga!! Cepat hubungi rumah sakit untuk persiapan operasi darurat! Ibu hamil ini keguguran! Pendarahan hebat itu sangat berbahaya!”

Anton terpaku, seketika seluruh tubuhnya mematung.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku Dibutakan Sahabat Masa Kecilnya   Bab 8

    Selama Anton sibuk mencari ke sana kemari, aku sudah mulai bekerja di perusahaan baru di Kota Hokko.Pihak perusahaan sangat terkejut saat melihat resumeku. Bos besar bahkan langsung turun tangan untuk bernegosiasi denganku. Dia bilang selama aku bersedia bergabung, diriku bebas mengajukan syarat apapun.Aku hanya tersenyum tipis dan menjawab, “Aku nggak punya syarat khusus, tapi aku bisa membawakan setidaknya sepuluh proyek baru untukmu.”Bos pun tercengang. Dia memberiku gaji tahunan yang fantastis dan bahkan menawarkan sebagian saham perusahaan untukku.Aku menerimanya. Pada hari kedua bekerja, aku langsung bergerak merebut beberapa proyek dari perusahaan Anton. Termasuk perangkat lunak yang dilaporkan bawahan itu, sebenarnya itu semua adalah ulahku.Karena itu adalah desainku sendiri, sangat mudah bagiku untuk mengotak-atiknya. Saat mereka menyadarinya, semuanya sudah terlambat.Dalam waktu kurang dari sebulan, aku berhasil menarik hampir semua proyek milik perusahaan Anton. Hal

  • Suamiku Dibutakan Sahabat Masa Kecilnya   Bab 7

    Anton benar-benar tak percaya.“Nggak mungkin! Mana mungkin?! Mana mungkin Sisil membohongiku?!”Tepat saat itu, bawahannya kembali menelepon,“Pak… pak Anton, kapan Bu Fina bisa ke kantor? Perangkat lunak kita diretas, sekarang seluruh jaringan lumpuh, semua pengguna mengajukan komplain!”“Cari tim teknik! Cari bantuan teknik lain! Tanpa Fina, emangnya kalian nggak bisa hidup?!”Anton menutup telepon dengan amarah yang meluap. Dia berdiri dan bergegas keluar dari rumah sakit. Karena lift sedang digunakan, dia pun memilih melewati tangga darurat.Namun, baru turun dua lantai, dia mendengar suara desahan tak senonoh dari sepasang pria dan wanita.“Dokter Ken, aku bahkan sudah menemanimu seperti ini… bisa nggak diagnosa di rekam medisku ditulis lebih parah lagi? Bilang saja… bilang saja kalau aku mau bunuh diri karena tekanan dari si Fina itu….”Suara pria itu terdengar terengah-engah penuh nafsu, tangannya dengan rakus meraba tubuh si wanita.“Dasar wanita nakal, kenapa harus selalu men

  • Suamiku Dibutakan Sahabat Masa Kecilnya   Bab 6

    Anton sempat menelepon Fina dua kali setelah dibawa ke rumah sakit, tapi tidak ada jawaban.Ditambah lagi, Sisil terus menangis sambil mengeluh betapa sedih perasaannya dan mengancam ingin bunuh diri. Akhirnya, Anton pun sama sekali tak berpikir untuk mempedulikan nasib Fina.Hingga seminggu kemudian, setelah kondisi Sisil stabil, akhirnya Anton pulang ke rumah.Begitu masuk, dia melempar jaketnya sembarangan dan reflek berteriak ke arah ruang tamu,“Kok belum masak?”Namun, yang menjawabnya hanyalah keheningan yang dingin.Anton mulai merasa ada yang aneh. Sambil mengernyit, dia berjalan ke ruang tamu, lalu ke kamar. Setelah berkeliling, barulah dia sadar kalau rumah itu kosong.Dia baru tersadar kalau Fina tidak ada di rumah.Dia mengambil ponsel dan mencoba telepon lagi, tapi kali ini operator menjawab bahwa nomornya tidak aktif.Anton mengumpat pelan. Dia mengira Fina sedang merajuk lagi, jadi dia memilih untuk masa bodoh dan langsung pergi minum-minum dengan temannya.Setelah bebe

  • Suamiku Dibutakan Sahabat Masa Kecilnya   Bab 5

    Aku menghabiskan beberapa hari lagi di rumah sakit. Selama waktu itu, aku menghubungi perusahan rekanan di Kota Hokko yang pernah bekerja sama dengan perusahaanku dulu. Aku mengirimkan lamaran kerja pada malam hari dan menjadwalkan sesi wawancara untuk bulan depan.Setelah itu, aku pergi ke bank untuk menarik semua tabunganku, menutup semua rekening, lalu membeli tiket pesawat ke Kota Hokko untuk benar-benar meninggalkan kota ini selamanya.Aku dan Anton adalah teman kuliah. Dulu, karena visi kami dalam mata kuliah jurusan sering sejalan, dosen membagi kami ke dalam satu kelompok belajar yang sama.Anton adalah tipe orang dengan kemampuan eksekusi yang kuat, tapi dia kurang dalam hal inovasi dan bakat desain. Setiap perangkat lunak yang dia rancang cenderung ketinggalan zaman dan tak punya daya saing di pasar.Sebaliknya, desainku selalu inovatif dan melampaui zaman, aku bahkan beberapa kali menjuarai kompetisi.Itulah alasan kenapa dia mengajakku merintis bisnis bersama. Masa-masa aw

  • Suamiku Dibutakan Sahabat Masa Kecilnya   Bab 4

    Semua orang yang ada di lokasi benar-benar terkejut mendengar itu. Bagaimanapun, tidak ada yang ingin melihat tragedi semacam ini terjadi di depan mata mereka.Petugas yang membantuku sejak tadi langsung berteriak, “Tunggu apa lagi? Cepat angkat dia ke dalam mobil!”Sambil bicara, dia berusaha mengangkat tanduku masuk ke ambulans.Namun, setelah Anton tersadar dari keterkejutannya, dia masih tampak ragu. Dia malah berteriak ke arahku,“Tunggu!”“Fina! Jangan-jangan kamu pura-pura lagi? Ada banyak orang di sini, kusarankan sebaiknya kamu berhenti melakukan hal seperti ini!”Perawat yang tadi bicara langsung merasa geram dan kehabisan kata-kata. Dia melotot ke arah Anton dan berkata, “Pak, tolong segera turun dari ambulans kami! Tugas ambulans itu menyelamatkan nyawa berdasarkan tingkat keparahan kondisi pasien. Kalau kamu terus membuat keributan dan menghalangi, kami akan lapor polisi!”Mendengar ucapan perawat, para pengunjung yang melihat seluruh kejadian itu pun ikut emosi. Mereka

  • Suamiku Dibutakan Sahabat Masa Kecilnya   Bab 3

    Mendengar itu, wajah Anton berubah drastis. Lalu, dengan sinis berkata, “Keguguran terus! Dari awal hamil sampai sekarang, entah sudah berapa kali kamu bilang mau keguguran, tapi nyatanya anak itu juga baik-baik saja, ‘kan?”Usai bicara, dia berjalan ke hadapanku dan menatap rendah ke arahku yang terkapar mengenaskan di lantai.“Cepat bangun dan turun dari sini! Jangan menghalangi orang lain yang mau main!”Wajahku sudah pucat karena menahan sakit yang luar biasa. Aku bahkan tak sanggup mengeluarkan suara. Dengan tangan gemetar, aku mencengkeram ujung celananya dan memohon, “Kumohon… panggilkan ambulans… aku bisa mati….”Melihat itu, raut wajah Anton semakin muram. Dia menghentakkan kakinya dengan kasar untuk melepaskan cengkeramanku, lalu mencibir, “Pantas saja Sisil bilang aktingmu bagus, ternyata memang benar! Hanya main loncat bungee saja, apa-apaan bisa mati?!”“Fisikmu begitu kuat, mau pura-pura untuk dilihat siapa, sih? Melihatmu saja sudah membuatku muak. Kamu benar-benar ng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status