Share

Bab 3

Author: Luli
Saat terbangun kembali, dia sudah berada di rumah sakit.

Seorang perawat sedang mengatur infus di punggung tangannya. Melihat dia siuman, perawat itu berkata, "Nona Tania, Anda akhirnya sadar? Luka Anda cukup parah dan perlu menjalani observasi di sini. Anda juga perlu menghubungi keluarga untuk menyelesaikan administrasi biaya pengobatan ...."

Tania menatap langit-langit dengan tatapan kosong, tanpa reaksi apa pun.

Perawat itu mengulangi sekali lagi, "Nona Tania ...."

"Biaya pengobatannya sudah kulunasi."

Suara pria yang berat dan sangat familier hingga membuat jantungnya berdenyut nyeri terdengar dari arah pintu.

Tania menoleh dengan cepat dan melihat Kevin berdiri di ambang pintu kamar rawat. Dia memakai setelan jas hitam yang tampak gagah.

Melihat situasi tersebut, perawat tadi segera meninggalkan ruangan dengan sopan.

Kevin melangkah masuk, tatapannya menyapu luka yang terbalut perban, lalu dia mengulurkan tangan seolah ingin menyentuh kening Tania.

Tania memalingkan wajah untuk menghindar. "Pak Kevin 'kan sibuk sekali, buat apa datang menjenguk orang asing yang nggak ada hubungannya sama Anda?"

Mendengar hal itu, gerakan tangan Kevin terhenti.

"Kalau aku nggak datang, apa masih ada orang lain yang bakal datang?"

Kalimat itu bagaikan pisau paling tajam yang tepat menghujam titik paling menyakitkan di lubuk hati Tania.

Benar juga, dia masih punya siapa lagi?

Ibunya meninggal muda, ayahnya pilih kasih, ibu tirinya bermuka dua. Rumah itu sudah lama tidak lagi terasa seperti rumah baginya.

Dia hanya bisa membentengi diri dengan sikap manja dan pemberontak, berpura-pura tidak membutuhkan siapa pun dan tidak memedulikan apa pun.

Selama tiga tahun ini, Kevin yang selalu muncul setiap kali dia membutuhkan bantuan, membuatnya terbiasa bersandar dan salah mengira bahwa dia telah menemukan tempat bernaung.

Namun sekarang, pria itu juga yang mendorongnya kembali ke jurang yang dalam.

Hati Tania terasa sakit hingga mati rasa. "Meskipun nggak ada yang datang, aku nggak butuh kamu ikut campur. Kamu sendiri yang bilang kalau kita sudah selesai! Pak Kevin, aku nggak sehina itu. Kalau kamu sudah bilang nggak suka, aku nggak bakal mati-matian ngejar kamu lagi!"

Dia menarik napas dalam-dalam demi mempertahankan sisa harga dirinya, lalu membalas dengan kata-kata kasar, "Kamu nggak benar-benar ngira kalau aku serius bilang jatuh cinta kemarin 'kan? Itu cuma asal bicara aja kok. Kamu anggap aku teman tidur, ya aku anggap kamu cuma alat pemuas saja, kemampuannya juga biasa-biasa aja! Nanti kalau aku udah sembuh, aku pasti bakal cari 'alat' yang lebih oke dan lebih muda!"

Kevin menatapnya yang pura-pura galak padahal matanya sudah memerah. Alisnya berkerut nyaris tak terlihat.

Saat itu, seorang perawat masuk dengan terburu-buru. "Pak Kevin, pemeriksaan Nona Devia sudah selesai. Dia terus mencari Anda."

Tania seketika bereaksi seperti kucing yang ekornya terinjak, dia berkata, "Sana pergi temani pujaan hatimu itu, aku nggak butuh kamu di sini!"

Kevin terdiam menatapnya selama beberapa detik, lalu akhirnya berbicara dengan nada bicara yang asing, "Aku datang bukan karena alasan lain."

"Kamu sahabat Yumna. Dia minta aku jaga kamu."

Tania akhirnya tidak sanggup lagi menahan diri dan tertawa terbahak-bahak.

Dia tertawa hingga sekujur tubuhnya bergetar dan membuat lukanya terasa sangat perih, tapi rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibandingkan nyeri di dadanya.

"Kevin, tenang aja ...." Tania menghentikan tawanya lalu mengangkat wajah yang penuh air mata dengan tatapan yang dingin sekaligus hancur. "Aku nggak akan kepedean lagi."

Jantung Kevin gemetar samar. Di dalam matanya yang tajam seolah terlintas sesuatu yang sangat tipis, tapi menghilang begitu cepat.

Ini adalah pertama kalinya dia melihat Tania menangis.

Dulu, meskipun dia mengerjai Tania habis-habisan di atas ranjang, wanita itu hanya akan menunjukkan mata yang memerah dan menggigit bibir dengan keras. Dia tidak pernah membiarkan air matanya jatuh begitu saja.

Saat ini, melihat bekas air mata yang jelas di wajah Tania, kerutan di dahi Kevin makin dalam dan jakunnya bergerak seolah ingin mengatakan sesuatu. Pada akhirnya dia tidak mengucapkan sepatah kata pun dan berbalik mengikuti perawat meninggalkan kamar.

Tania akhirnya tidak sanggup bertahan lagi begitu melihatnya pergi. Dia terkulai di tempat tidur rumah sakit dan membiarkan air mata membasahi bantal tanpa suara.

Dia mengira akan menangis untuk waktu yang sangat lama, anehnya, air matanya segera mengering.

Yang tersisa hanyalah rasa dingin yang sangat sunyi.

Beberapa hari kemudian, dia berada di rumah sakit sendirian dan merawat dirinya sendiri.

Keringat dingin mengucur saat dia harus mengganti perban. Makanan yang dia santap pun terasa hambar.

Sesekali, dia mendengar perawat berbisik-bisik di koridor tentang betapa beruntungnya Nona Devia di kamar VIP sebelah. Bagaimana perhatiannya Pak Kevin yang menyuapi makan, memberi minum, hingga berjaga di malam hari, seolah-olah wanita itu adalah permata yang sangat berharga.

Pernah sekali dia melewati kamar itu dan melalui celah pintu yang terbuka sedikit, dia melihat Kevin sedang duduk di tepi ranjang sambil mengupas apel, sementara Devia bersandar di bahunya dengan senyum yang lembut.

Pemandangan itu bagaikan paku besi panas yang menghunjam penglihatannya. Rasa sakitnya membuat matanya menggelap dan jantungnya berdenyut sangat nyeri.

Tapi, dia tidak menangis.

Kelebihan terbesar Tania adalah dia berani mencintai dan berani melepaskan.

Mulai sekarang, dia tidak akan meneteskan air mata lagi untuk Kevin!

Setelah keluar dari rumah sakit, hal pertama yang dia lakukan adalah mengurus visa.

Dia tidak ingin berlama-lama lagi di kota ini.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 29

    Setelah selesai bicara, dia bangkit berdiri tanpa menoleh pada pria itu lagi. Dia pun berbalik dan berjalan menuju pintu bangsal."Tania ...." Kevin mengerahkan sisa tenaga terakhirnya, memanggil dengan suara lemah yang diiringi isakan keputusasaan.Langkah kaki Tania sempat terhenti di ambang pintu, tapi dia tidak menoleh.Dia mengulurkan tangan dan membuka pintu ruangan itu.Di luar pintu, Yudha berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan yang lembut tapi teguh.Tania berjalan ke sisinya, dan Yudha secara alami menggandeng tangannya, menggenggamnya dengan erat.Mereka berdua berjalan berdampingan meninggalkan bangsal itu tanpa menoleh ke belakang, lalu menghilang di ujung lorong.Kevin terbaring di ranjang rumah sakit, menatap pintu yang kini kosong dan punggung wanita yang pergi dengan tegas itu. Air matanya akhirnya tumpah dengan deras, mengalir dari sudut mata dan membasahi bantalnya.Dia tahu bahwa kali ini, dia benar-benar ... telah kehilangan wanita itu selamanya.Kehilangan s

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 28

    Tania yang masih didekap erat oleh Yudha hanya bisa terpaku menatap pemandangan tragis di depannya. Jantungnya seolah berhenti berdetak seketika!Dia bahkan bisa melihat dengan jelas sorot mata Kevin saat pria itu terpental ....Tidak ada rasa takut, tidak ada penyesalan, yang ada hanyalah semacam perasaan lega yang rumit, seolah sedang berkata, "Lihat, kali ini ... aku duluan yang nyelamatin kamu ....""Kevin!" Yudha adalah yang pertama bereaksi. Sambil terus melindungi Tania yang gemetar hebat, dia berteriak ke arah pengawal dan petugas keamanan hotel yang berdatangan. "Cepat panggil ambulans! Cepat!!"Lokasi kejadian menjadi kacau balau.Tania menatap sosok yang terbaring tak bergerak di tengah genangan darah itu. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar tanpa kendali. Meskipun sudah tidak cinta lagi, meskipun ada begitu banyak dendam, melihat sebuah nyawa yang tadinya begitu hidup kini mungkin lenyap di depan mata demi menyelamatkannya ....Guncangan ini membuatnya tidak bisa tetap te

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 27

    Hasil penganugerahan diumumkan, Tania berhasil menyabet mahkota Aktris Terbaik berkat sebuah film seni yang menginterpretasikan kompleksitas sisi manusia secara mendalam!Saat namanya dipanggil, seluruh penonton berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah.Di bawah sorotan lampu, dia perlahan naik ke panggung, menerima piala yang terasa berat itu dari tangan presenter. Matanya sedikit memerah, tapi senyumnya tampak begitu cemerlang.Dia memberikan pidato kemenangan yang singkat, berterima kasih kepada sutradara dan kru film. Terakhir, pandangannya tertuju pada Yudha yang berada di bawah panggung, suaranya terdengar lembut namun mantap. "Terakhir, aku ingin berterima kasih secara khusus kepada seseorang, kekasihku, Yudha. Terima kasih karena selalu ada di sisiku, memberiku dukungan dan kekuatan. Setengah dari piala ini adalah milikmu."Kamera segera menyorot Yudha. Dia berdiri, mengirimkan sebuah ciuman jauh ke arah Tania di panggung, dengan mata yang berkaca-kaca karena bangga. Seluruh

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 26

    Akhir musim gugur. Daun-daun ketapang berguguran memenuhi tanah, membentangkan puisi berwarna keemasan.Tania mengenakan syal kasmir yang lembut, duduk di samping jendela besar yang bermandikan cahaya matahari sambil membalik-balik naskah film baru yang baru saja dikirimkan.Yudha duduk bersila di atas karpet sambil menangani urusan kantor di laptopnya. Sesekali dia mendongak menatap Tania dengan tatapan yang sangat lembut.Suasana yang tenang dan hangat itu seketika pecah oleh notifikasi berita yang muncul di tablet.[Berita Terkini! Rendy, pimpinan Grup Tamara yang merupakan perusahaan ternama di dalam negeri, diduga terlibat penggelapan dana publik dalam jumlah besar serta penyelewengan pajak, dan kini telah resmi ditangkap pihak kepolisian!][Harga saham Grup Tamara seketika anjlok parah, perusahaan dinyatakan bangkrut dan dalam proses likuidasi!][Investigasi Mendalam: Di balik runtuhnya Grup Tamara, diduga ada keterlibatan raksasa kapital misterius yang melakukan serangan secara

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 25

    Nada bicaranya terdengar sedikit sedih. "Kamu ke luar negeri tiga tahun itu, aku langsung nyusul kamu saat itu juga. Bukan karena alasan lain, tapi karena ... aku suka kamu, Tania. Dari kita masih kecil banget, aku sudah sangat menyukaimu."Ucapan itu bagaikan aliran air hangat yang perlahan mengalir masuk ke dalam hati Tania.Dia menatap Yudha dengan bimbang, melihat ketulusan dan rasa cemas yang tidak ditutup-tutupi di mata pria itu.Selama tiga tahun ini, Tania mengingat setiap kebaikan yang diberikan Yudha padanya, sedikit demi sedikit.Yudha menemaninya melewati kesepian saat pertama kali tiba di negeri asing, mendukungnya dalam diam saat kariernya terhambat, menjaganya sepanjang malam saat dia sakit, menghargai setiap keputusannya, dan tidak pernah memberinya tekanan. Kehadiran Yudha terasa hangat dan menenangkan.Yudha menggenggam tangan Tania, telapak tangannya terasa hangat dan kering. "Tania, aku tahu hatimu masih terluka dan belum sepenuhnya lepasin masa lalu. Aku nggak buru

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 24

    Waktu seolah membeku selama beberapa detik.Kevin melihat Tania berdiri di sana tanpa luka sedikit pun. Hati yang sudah terasa digantung selama berhari-hari itu akhirnya jatuh terperosok dengan rasa lega yang luar biasa!Sebuah rasa syukur yang sangat besar karena selamat dari maut dan rasa pilu yang tidak terlukiskan seketika menghancurkan akal sehatnya!Dia tidak memedulikan rasa sakit yang menusuk di lengannya, tidak memedulikan penampilannya yang sangat berantakan. Dia menerjang maju beberapa langkah, lalu di bawah tatapan semua orang yang terperangah, dia memeluk Tania dengan sangat erat! Kekuatannya begitu besar seolah-olah ingin menghancurkan wanita itu dalam dekapannya!Tubuhnya gemetaran tanpa kendali, suaranya terdengar serak dan pecah dengan nada hidung yang berat, mengulang kalimat yang sama berkali-kali. "Syukurlah ... syukurlah kamu nggak apa-apa ... syukurklah ...."Itu adalah sebuah ketakutan luar biasa yang meledak setelah berhasil mendapatkan kembali apa yang sempat d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status